Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Penulis lepas amatir & Karyawan Swasta

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Musim Semi Akademi Chelsea

17 September 2019   19:06 Diperbarui: 17 September 2019   19:05 0 3 2 Mohon Tunggu...
Musim Semi Akademi Chelsea
Mason Mount, Frank Lampard dan Tammy Abraham (Straitstimes.com)

Bicara soal Chelsea, kebanyakan orang akan langsung menyebut klub asal kota London ini sebagai klub yang cukup aktif mendatangkan pemain bintang, atau pemain muda berbakat. Memang, sejak diambil alih Roman Abramovich tahun 2003 silam, Chelsea yang tadinya terjerat utang langsung bertransformasi menjadi klub ambisius.

Besarnya ambisi Roman Abramovich di Chelsea terlihat dari banyaknya pemain bintang kelas dunia yang diboyong ke Stamford Bridge. Mulai dari Claude Makelele, Didier Drogba, Eden Hazard, Diego Costa, sampai N'Golo Kante.

Di era Abramovich, Chelsea bahkan sempat mencatat rekor transfer termahal Liga Inggris saat mendatangkan Andriy Shevchenko (Ukraina, 2006) dan Fernando Torres (Spanyol, 2011). Sayang keduanya sama-sama gagal bersinar terang meski mampu meraih trofi bersama Chelsea.

Tak hanya pemain, sejumlah pelatih kenamaan juga pernah mencicipi kursi panas pelatih Chelsea. Ada pelatih senior macam Claudio Ranieri dan Maurizio Sarri (Italia). 

Ada juga pelatih pemenang Liga Champions macam Rafa Benitez (Spanyol), Jose Mourinho (Portugal), Carlo Ancelotti dan Roberto Di Matteo (Italia), serta Guus Hiddink (Belanda). Bahkan, Chelsea juga pernah diasuh pelatih eksentrik macam Antonio Conte (Italia) dan Andre Villas-Boas (Portugal).

Uniknya, selain aktif mendatangkan pemain bintang, Chelsea juga aktif berburu pemain muda berbakat. Ada yang diasah di akademi klub, ada juga yang "disekolahkan" ke klub lain segera setelah didatangkan.

Dari keduanya, kasus kedua menjadi salah satu "ciri khas" Chelsea di era Roman Abramovich, karena Chelsea banyak mendatangkan pemain muda berbakat, tapi mereka justru bersinar di klub lain, segera setelah dilepas permanen karena dinilai "kurang mampu" bersaing di tim utama.

Di Liga Inggris, ada Kevin De Bruyne yang kini menjadi motor permainan Manchester City. Ada juga Mohamed Salah yang kini menjadi pemain kunci Liverpool.

Selain keduanya, ada Romelu Lukaku (kini di Inter Milan), yang sempat menjadi ujung tombak Manchester United dan Everton. Ada juga Thorgan Hazard, yang kini berseragam Borussia Dortmund.

Banyaknya pemain muda berbakat yang direkrut Chelsea, sempat membuat pemain akademi klub seperti terlupakan. Jebolan akademi Chelsea bahkan ada yang harus pindah klub agar bisa lebih berkembang, misalnya Rhian Brewster (Liverpool), Ola Aina (Torino) dan Dominic Solanke (Bournemouth).

Ada juga pemain yang beberapa kali dipinjamkan ke klub lain, seperti pada kasus Tammy Abraham, penyerang utama Chelsea saat ini. Boleh dibilang, pemain akademi Chelsea seperti terlupakan di klub sendiri. 

Kalaupun ada yang masuk ke tim utama, menit bermain mereka relatif terbatas, seperti yang dialami Callum Hudson-Odoi musim lalu. Praktis, hanya Ruben Loftus-Cheek, pemain jebolan akademi yang mampu konsisten bersaing di tim utama Chelsea.

Tapi, pada musim ini, situasi berubah drastis. Kedatangan Frank Lampard dan sanksi embargo transfer FIFA selama satu musim kompetisi menjadi penyebab utama.

Sebagai informasi, sanksi embargo transfer didapat Chelsea, karena mereka dinilai FIFA melanggar regulasi transfer pemain usia muda. Sementara itu, Frank Lampard "pulang" ke Chelsea menggantikan posisi Maurizio Sarri yang pindah ke Juventus.

Lampard sendiri diboyong Chelsea, menyusul musim debut kepelatihan cukup sukses bersama Derby County di Championship Division. Dengan materi pemain relatif seadanya, Lampard sukses mengantar The Rams ke final play-off promosi, sebelum akhirnya dikalahkan Aston Villa arahan Dean Smith, yang diasisteni John Terry, eks rekan setim Lampard di Chelsea dulu.

Jika melihat situasinya, mengoptimalkan pemain jebolan akademi klub adalah opsi paling logis buat Chelsea. Opsi ini makin terlihat menjanjikan, karena Lampard menjadi pelatih. Dengan latar belakangnya sebagai legenda klub, tentunya Lamps sudah mengenal seluk beluk klub, termasuk siapa saja pemain yang layak dipromosikan ke tim utama.

Tak heran, pada musim ini kita mulai melihat beberapa pemain jebolan akademi Chelsea beraksi di lapangan hijau. Tak sebatas bermain, beberapa dari mereka sudah menjadi pemain kunci, seperti Mason Mount (gelandang), dan Tammy Abraham (striker). 

Selain keduanya, ada Fikayo Tomori (bek) dan Billy Gilmour (gelandang), yang mulai mendapat kesempatan bermain.

Hebatnya, dari keempat nama yang saya sebutkan tadi, tiga nama pertama sama-sama sudah mencetak gol untuk Chelsea musim ini di liga. 

Bahkan, Tammy Abraham merupakan top skor sementara Liga Inggris dengan 7 gol, termasuk hat-trick yang dicetaknya ke gawang Wolverhampton Wanderers akhir pekan lalu. Dalam laga ini, Chelsea menang 5-2, dengan dua gol lainnya dicetak oleh Fikayo Tomori dan Mason Mount.

Terlepas dari awalan lambat yang sempat dijalani Chelsea musim ini, keberadaan Lampard dan bersinarnya pemain muda jebolan akademi klub, membuat Chelsea seperti mendapat berkah dalam masalah. Maklum, berkah ini didapat saat mereka sedang disanksi embargo transfer pemain.

Apa yang ditampilkan Chelsea musim ini merupakan indikasi positif, sekaligus penanda dimulainya "musim semi" buat para pemain akademi klub. 

Jika diberi kesempatan lebih, bukan tak mungkin mereka akan menjadi satu tim tangguh, dengan catatan, Roman Abramovich mau bersabar. Maklum, taipan asal Rusia ini dikenal mudah mengganti pelatih, terutama saat Chelsea dalam tren negatif.

Akankah "musim semi" ini berlanjut?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x