Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Penulis lepas amatir & Karyawan Swasta

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Ada Apa dengan El Barca?

26 Mei 2019   17:35 Diperbarui: 26 Mei 2019   17:40 0 2 1 Mohon Tunggu...
Ada Apa dengan El Barca?
(Kompas.com)

Antiklimaks. Inilah satu kata yang paling pas, untuk menggambarkan bagaimana perjalanan Barcelona musim ini di berbagai ajang. Memang, dari awal sampai mendekati akhir musim, performa mereka terlihat meyakinkan, terutama saat Lionel Messi sedang tampil bagus.

Tak heran, Barca (sempat) berpeluang meraih "Treble Winner" musim ini. Peluang ini sempat terbuka lebar, seiring kesuksesan mereka meraih trofi La Liga, lolos ke final Copa del Rey, dan menang 3-0 atas Liverpool di leg pertama. Dengan sedikit sentuhan akhir, tampaknya musim pertama Lionel Messi sebagai kapten Blaugrana akan berakhir indah.

Tapi, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Situasi serba bagus ini justru menjadi awal dari rangkaian petaka El Barca. Di Liga Champions, Barca terpaksa harus angkat koper setelah dihajar Liverpool dengan skor 4-0 di Anfield, awal bulan Mei silam.

Belum kering luka akibat ter-comeback di Anfield, Barca kembali harus menelan pil pahit, setelah kalah 1-2 dari Valencia di final Copa del Rey, Minggu, (26/5, dinihari WIB). Kekalahan ini didapat, setelah gol Kevin Gameiro dan Rodrigo hanya mampu dibalas oleh satu gol Lionel Messi. Alhasil, Barca hanya mampu meraih satu gelar musim ini.

Tapi, jika dilihat lebih jauh, kolapsnya El Barca belakangan ini, justru memperlihatkan apa kekuatan sekaligus kelemahan utama El Barca, yang terletak pada sosok Lionel Messi. Bisa dibilang, Messi ibarat dua sisi mata uang buat El Barca. Ada dampak positif dan negatif, yang bisa muncul secara bersamaan.

Dari sisi positifnya, kemampuan Messi dalam menginspirasi permainan dan menentukan hasil akhir pertandingan kerap membantu Barca. Tak heran, pelatih Ernesto Valverde begitu mengandalkannya. Sistem permainan Barca pun dibuat sedemikian rupa agar dapat membuat Messi mampu mengeluarkan kemampuan terbaik.

Awalnya, semua terlihat baik-baik saja. Grafik performa El Barca berbanding lurus dengan lancarnya produktivitas gol dan assist sang kapten. Tapi sistem permainan Barca ini pelan-pelan mulai dipelajari lawan. Alhasil, mereka menemukan satu kelemahan fatal, yang ternyata adalah Messi sendiri.

Hal ini setidaknya terlihat, saat Liverpool membuat "comeback" bersejarah di Anfield. Kesuksesan mereka membatasi ruang gerak Messi, sukses membuat Barca mati kutu. Strategi ini sukses ditiru Valencia di final Copa del Rey. Meski Messi mampu mencetak satu gol, Dani Parejo dkk sukses meredam agresivitas Barca, dengan membatasi ruang gerak Si Kutu.

Dari sini, kita bisa melihat, seberapa besar ketergantungan Barca pada Messi. Sayangnya, mereka tak punya pemain lain yang bisa menjadi "mesin cadangan" andai Messi sedang macet. Alhasil, macetnya sinar Lionel Messi adalah awal dari masalah besar. Situasi kurang lebih sama, juga terjadi di timnas Argentina, dimana Messi juga berperan sebagai "pemain nomor 10" dan kapten tim.

Melihat situasinya, akan berbahaya jika sistem permainan ini masih terus dilanjutkan. Dari segi kemampuan dan kualitas, Messi memang tak perlu diragukan lagi. Tapi, berhubung usianya yang tahun ini menapak angka 32 tahun, sulit memastikan, apakah level performanya masih awet di level atas atau tidak.

Masalah lainnya, Messi tampak terbebani saat menjadi kapten, dan kerap kebingungan di fase krusial. Alhasil, kemampuan terbaiknya tak keluar, dan tim yang dikapteninya menuai hasil negatif. Di Barca, kekalahan atas Liverpool dan Valencia menjadi buktinya. Di timnas Argentina, "hat-trick" kekalahan Albiceleste di final Piala Dunia 2014, Copa America 2015, dan Copa America Centenario 2016 menjadi contoh paling mencolok.

Situasi ini jelas menunjukkan, meski punya kemampuan istimewa, Messi tak cukup kapabel untuk menjadi kapten tim, terutama di saat krusial. Hal ini sekaligus menegaskan, kadang seorang pemain hebat belum tentu layak untuk menjadi pemimpin, begitupun sebaliknya. Seharusnya, ini perlu diperhatikan Barca. Jika tidak, antiklimaks ini hanya awal dari rangkaian penurunan mereka berikutnya.

Bisa, Barca?