Yose Revela
Yose Revela Buruh

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Saat Saya (Terpaksa) Golput

17 April 2019   16:15 Diperbarui: 17 April 2019   16:41 90 5 1
Saat Saya (Terpaksa) Golput
Tribunnews.com

Pada Rabu, (17/4) ini, bangsa Indonesia melaksanakan pemilu serentak. Seperti diketahui, pemilu 2019 kali ini merupakan momen pesta rakyat paling dinanti. Keriuhannya bahkan sudah terasa sejak jauh hari.

Tak heran, saat hari H pencoblosan, euforia publik begitu terasa. Ada begitu banyak orang yang "unjuk gigi" di media sosial, dengan menampilkan foto jari tangan yang berlumur tinta celup, lengkap dengan untaian kata-kata mutiara, atau kalimat dukungan untuk sang kandidat jagoan.

Sederhananya, hari H pencoblosan menjadi satu hari yang menyenangkan. Saking menyenangkannya, hari ini mungkin terasa begitu cepat, khususnya bagi mereka yang mencoblos. Apalagi, bermunculan juga berbagai promo kuliner. Rupanya, momen pemilu serentak ini ditangkap secara jeli oleh para pelaku bisnis kuliner. Kebetulan, hari pelaksanaan pemilu serentak merupakan hari libur nasional. Ikut pesta demokrasi, dapat berbagai promo kuliner, dan tambahan libur sehari. Kurang apa lagi?

Tapi, hari H pencoblosan mungkin terasa begitu lama, khususnya bagi mereka yang tidak mencoblos, baik karena memang tak ingin mencoblos sejak awal, maupun terpaksa tak bisa mencoblos karena berbagai sebab, termasuk situasi di luar kendali. Andai ada tombol "fast forward" untuk mempercepat waktu, pastinya, ini adalah hari yang paling ingin di-skip suasananya.

Saya sendiri, adalah salah satu orang yang terpaksa harus golput, karena situasi yang di luar kendali. Secara regulasi, saya terdaftar dalam DPT di kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tapi, sejak awal Februari lalu, saya merantau ke ibukota untuk bekerja, dan sempat berpindah-pindah kost, untuk menyiasati pengeluaran bulanan.  

Awalnya, saya sempat kost di bilangan Pulogadung (Jakarta Timur), lalu pindah ke bilangan Kebon Kacang (Jakarta Pusat), sebelum akhirnya "melabuhkan jangkar" di bilangan Setiabudi (Jakarta Selatan). Kantor tempat saya bekerja sendiri terletak di bilangan Thamrin (Jakarta Pusat).

Terkait partisipasi dalam pemilu kali ini, saya tak sempat mengurus formulir A5, karena pekerjaan saya sulit ditinggalkan. Apalagi, saya masih harus beradaptasi dengan lingkungan, ritme, dan berbagai hal lainnya sendirian. Satu-satunya kesempatan yang saya punya, baru ada seminggu lalu, saat saya menyambangi kantor KPU di bilangan Jakarta Selatan. Sayang, permohonan saya ditolak, karena saya tak punya surat keterangan kerja. Padahal, di hari sebelumnya, seorang teman satu indekos saya tak menemui kendala semacam ini.

Apa boleh buat, saya hanya bisa menjadi penonton saat pesta demokrasi ini berlangsung. Agak menjengkelkan, tapi saya bersyukur, karena saya bisa mendapat kesempatan untuk melihat sisi lain dari pesta rakyat kali ini.

Hal pertama yang saya lihat adalah, pemilu kali ini kurang bersahabat buat mereka yang bekerja di perantauan. Karena informasi terkait pemilu yang ada kurang komperhensif, dalam artian tidak utuh, hanya sepotong-sepotong, dengan waktu yang cukup mepet dengan deadline. Andai informasi yang disampaikan menyeluruh sejak awal, saya mungkin tak akan (terpaksa) golput.

Hal kedua yang saya lihat adalah, kuatnya polarisasi dan suasana tegang di masyarakat, membuat pemilu kali ini terasa begitu menegangkan, tapi kurang berkualitas. Karena, gaung informasi terkait rencana program kerja para kandidat kalah telak oleh semua kegaduhan yang ada. Kalau sudah begini, ada satu pertanyaan besar yang harus dijawab oleh kandidat terpilih: apa yang akan Anda kerjakan selama lima tahun ke depan?

Hal ketiga yang saya lihat adalah, saya bersyukur karena meski (terpaksa) golput, setidaknya saya sudah mengurangi angka pengangguran. Andai saya bisa mencoblos di tempat domisili, sebagai seorang penulis lepas amatir, saya akan tetap dianggap sebagai satu beban buat negara. Karena, angka penghasilan saya cenderung fluktuatif, dan sulit masuk kategori penghasilan menurut statistik BPS. Lagipula, ini lebih layak disebut sebagai hobi, bukan pekerjaan.

Terlepas dari berbagai hal yang mewarnainya, kita semua layak bersyukur, pemilu kali ini berjalan dengan lancar dan aman. Semoga, siapapun yang nantinya terpilih memang adalah sosok yang kompeten dan kapabel untuk memimpin negara besar ini.