Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Penulis lepas amatir & Karyawan Swasta

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Spurs yang Serba Tanggung

10 Maret 2019   13:54 Diperbarui: 10 Maret 2019   14:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Spurs yang Serba Tanggung
Telegraph.co.uk

Bicara soal Tottenham Hotspur, kita tentu sepakat, tim ini adalah salah satu personel tetap "The Big Six" Liga Inggris, khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, dalam dua musim terakhir, mereka mampu menggeser Arsenal, sang rival bebuyutan, dari posisi empat besar klasemen liga.

Di Liga Champions, mereka juga baru saja lolos ke babak perempatfinal, setelah menang agregat 4-0 atas tim wakil Jerman Borussia Dortmund. Ini adalah sebuah peningkatan, karena sejak menjadi perempatfinalis di musim 2010/2011, capaian tertinggi mereka di Liga Champions hanya sampai ke babak perdelapanfinal.

Peningkatan Spurs belakangan ini tentu tak lepas dari keberadaan pemain berkualitas di tiap lini. Sebagai contoh, di lini belakang, mereka punya sosok Hugo Lloris (kapten Timnas Prancis) di bawah mistar, dan duet bek andalan Timnas Belgia, yakni Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld. Di sektor serangan, mereka punya Dele Alli, Son Heung Min, dan Harry Kane. Tak heran, Spurs menjadi tim yang cukup kuat belakangan ini.

Tak lupa, Spurs juga dilatih oleh Mauricio Pochettino, pelatih yang belakangan disebut-sebut sebagai salah satu pelatih terbaik saat ini. Kemampuan pelatih asal Argentina ini dalam hal meracik strategi memang tak bisa dianggap enteng. Di bawah komandonya, Spurs mampu menampilkan gaya main agresif yang cukup enak ditonton. Maka, tak heran jika namanya belakangan kerap disebut-sebut sebagai salah satu kandidat pelatih Real Madrid untuk musim depan.

Tapi, seperti kata pepatah "tak ada gading yang tak retak", Spurs juga punya kelemahan. Bahkan, kelemahan ini bisa dibilang cukup serius. Karena, meski punya materi tim cukup menjanjikan, Spurs punya masalah cukup gawat dalam hal mental bertanding, terutama di pekan-pekan krusial. Boleh dibilang, mereka kuat tapi belum cukup tangguh. Masalah inilah yang membuat Harry Kane dkk masih belum mampu bersaing secara serius dalam pacuan gelar juara liga.

Masalah ini setidaknya terlihat, dari performa Spurs dalam empat laga terakhir mereka di Liga Inggris. Secara menyedihkan, The Lilywhite hanya mampu meraih satu poin, setelah bermain imbang 1-1 versus Arsenal. Selebihnya, mereka menelan kekalahan, yakni 1-2 (Vs Burnley dan Southampton) dan 0-2 (Vs Chelsea).

Kekalahan atas Southampton, Sabtu, (9/3) menjadi catatan terkini mereka. Kekalahan ini tergolong cukup menyesakkan, karena dalam laga ini mereka sempat unggul lebih dulu lewat gol Harry Kane, meski tak didampingi oleh Pochettino yang sedang terkena skorsing dua laga dari FA akibat memprotes keras wasit. Tapi, gol-gol balasan Yann Valery dan James Ward-Prowse membuat Soton berhasil meraih poin penuh, dan keluar sejenak dari zona degradasi. Apa boleh buat, krisis Spurs pun masih belum selesai.

Hasil ini membuat Spurs dalam posisi cukup rawan. Karena, meski masih bercokol di posisi ketiga (nilai 61), tim-tim dibawahnya yakni MU (nilai 58), Arsenal (57) dan Chelsea (56) berpeluang memperpendek jarak poin. Situasi makin gawat, karena setelah ini Spurs akan menghadapi Liverpool di Anfield tanpa didampingi Pochettino, yang masih menjalani skorsing.

Situasi Spurs belakangan ini sedikit banyak mengingatkan kita pada tim Arsenal-nya Arsene Wenger, setelah musim 2003/2004, musim saat mereka juara liga tanpa mengalami kekalahan. Setelah musim itu, Arsenal memang masih stabil di posisi empat besar klasemen, meski kesulitan bersaing di pacuan gelar juara.

Pada awal sampai pertengahan musim, Arsenal mampu menampilkan performa bagus dengan gaya main cantik, dan kerap disebut-sebut sebagai kandidat juara. Tapi, mereka kerap menuai hasil buruk saat memasuki periode krusial kompetisi. Entah bagaimana caranya, Spurs era kekinian seperti "kemasukan" roh Arsenal saat itu, dengan siklus performa kurang lebih sama.

Alhasil, kita kini melihat Spurs sebagai tim yang serba tanggung. Mereka kuat secara materi pemain, tapi mental bertanding tidak cukup tangguh di pekan-pekan menentukan. Akibatnya, Spurs masih kesulitan bersaing di pacuan gelar juara, meski sudah cukup konsisten finis di papan atas klasemen.

Meski begitu, kita tentu agak penasaran, sampai di mana level Spurs nanti. Karena, manajemen mereka selama ini tak banyak bersuara, atau menekankan ekspektasi sangat tinggi. Bahkan, mereka tenang-tenang saja meski Spurs tak aktif berbelanja pemain di bursa transfer musim panas dan musim dingin lalu. Satu-satunya hal yang mereka tekankan hanya bagaimana tim ini dapat berkembang, dan mampu konsisten bersaing di papan atas, sebelum menapak ke level berikutnya.

Boleh dibilang, manajemen Spurs menerapkan prinsip "pelan tapi pasti", yang cenderung berlawanan dengan kebiasaan klub-klub papan atas Liga Inggris. Tentunya, kita tak akan bisa menebak, di level mana Spurs nanti berada. Tapi, saat ini kita bisa melihat bersama, Spurs sedang berada di persimpangan, antara menjadi "Arsenal jilid dua" atau naik ke level berikutnya dalam waktu dekat.

Menariknya, apa yang pernah dialami Arsenal (dan saat ini dialami Spurs) seolah merepresentasikan pepatah "L'histoire se repete" (sejarah akan selalu terulang). Hanya saja, dalam konteks kasus Arsenal dan Spurs pelaku dan waktunya berbeda. Tapi, Spurs masih bisa naik ke level berikutnya, jika mau segera berbenah dan mematangkan mental bertanding. Jika tidak, mereka hanya akan menjadi repetisi dari Arsenal, sang rival bebuyutan.

Jadi, mau jadi apa, Spurs?

VIDEO PILIHAN