Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Di Balik "Stagnasi" Manchester United

5 Oktober 2018   06:05 Diperbarui: 5 Oktober 2018   07:36 772 1 0
Di Balik "Stagnasi" Manchester United
Theguardian.com

Dalam beberapa pekan terakhir, teka-teki masa depan Jose Mourinho di Manchester United menjadi satu topik panas, yang terus saja diperbincangkan. Maklum, performa United di awal musim ini kurang meyakinkan. Gaya main Mourinho yang cenderung defensif kerap menjadi kambing hitam. Ditambah lagi, ada friksi antara Mourinho dan Paul Pogba. Alhasil, situasi pun menjadi runyam.

Tak heran, pemecatan Mourinho menjadi satu hal yang dianggap mampu menjadi "obat mujarab" buat United dan Manchunian, untuk bisa segera melewati masa suram belakangan ini. Nama-nama seperti Zinedine Zidane dan Antonio Conte pun mulai mengemuka sebagai kandidat pengganti Mou di Old Trafford.

Tapi, andai Mou akhirnya dipecat United, bukan berarti masalah langsung beres. Malah, situasi bisa semakin rumit, karena, semua dimulai dari awal lagi, mulai dari sistem permainan, membangun ulang kepercayaan diri tim, sampai berbelanja pemain. Sehebat apapun pelatihnya, mereka tak akan bisa menyulap kondisi buruk United menjadi pulih dalam sekejap. Karena, seorang pelatih pada dasarnya bukan seorang pesulap.

Di sini, saya justru melihat, United dan sebagian Manchunian seperti sedang terkena "post power syndrome", akibat belum bisa move on dari era sukses Sir Alex Ferguson (1986-2013). Mereka masih menganggap United sejajar dengan para raksasa Eropa macam Juventus, Real Madrid, atau Barcelona. Padahal, situasinya saat ini sudah sama sekali berbeda.

Dalam hal sejarah dan popularitas global, United memang masih berada di level atas. Tapi dari segi performa, kualitas pemain, dan mental bertanding, mereka bukan United era Fergie, yang dikenal konsisten dan bermental baja. Alhasil, kita kini sering mendapati, Old Trafford bukan lagi "teater impian", yang jadi mimpi buruk bagi tim lawan. Malah, Old Trafford kini menjelma menjadi "teater mimpi buruk", yang kerap membuat penghuninya pening, akibat menuai hasil buruk.

Sebenarnya, masalah yang dialami United setelah Fergie pensiun, adalah buah dari tak adanya sosok mumpuni di tubuh manajemen klub, dan ketidaksabaran manajemen klub (dan suporter), dalam membangun ulang tim. Mereka seperti terbuai dalam mimpi indah kejayaan masa lalu, dan enggan melihat kenyataan saat ini.

Oke, dengan kondisi finansial mereka yang bagus, United memang bisa memboyong pemain bintang macam Paul Pogba dan Romelu Lukaku. Tapi, mereka tak lagi punya sosok CEO cerdas macam David Gill, dan konsep kerangka tim yang jelas, apakah mereka akan bertumpu pada produk akademi klub, atau sepenuhnya mengandalkan pemain bintang.

Ditambah lagi, setelah ditinggal pensiun Fergie, United seperti mengalami kemunduran. Era David Moyes (2013-2014), yang sebelumnya digadang sebagai "The Chosen One" menjelma jadi bahan tertawaan. Era Louis Van Gaal (2014-2016) dianggap sebagai "pemborosan", karena meski mengorbitkan pemain macam Jesse Lingard dan Marcus Rashford, belanja jor-joran mereka tak banyak yang sukses, seperti yang terjadi pada kasus transfer Angel Di Maria. Satu gelar Piala FA yang diraih pun tampak percuma, karena mereka sudah berbelanja layaknya tim yang mengincar gelar Liga Champions Eropa. Padahal, saat pertama kali datang, Van Gaal disambut dengan sukacita, menyusul kesuksesannya membawa timnas Belanda meraih medali perunggu di Piala Dunia 2014.

Saat Mou datang dua tahun lalu, sebenarnya ada harapan besar yang muncul. Maklum, Mou punya CV kepelatihan mentereng. Apalagi, di tahun pertamanya, United berhasil meraih juara Piala Liga dan Liga Europa (musim 2016/2017). Sayang, setelah itu mereka kembali stagnan seperti sebelumnya. Ketidakmampuan CEO Ed Woodward dalam bermanuver di bursa transfer, membuat Mou tak bisa berbuat banyak. Apa boleh buat, United kembali jadi bahan tertawaan.

Andai Mou akhirnya dipecat United, siapapun penggantinya nanti, situasinya akan sama saja. Selama United tak punya sosok kompeten di  tubuh manajemen tim, dan Manchunian masih saja enggan bersabar, selama itu pula United masih akan menjadi bahan tertawaan lawan.

Menariknya, apa yang terjadi di United membuktikan, sebesar apapun nama dan sejarah masa lalu sebuah tim, kalau tim itu tak punya manajemen yang mumpuni, ia hanya akan jadi bahan tertawaan. Karena, kita semua hidup di masa kini, untuk menghadapi masa depan.