Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Arsenal di Titik Nadir

5 Maret 2018   09:43 Diperbarui: 5 Maret 2018   09:55 810 1 0
Arsenal di Titik Nadir
Goal.com

Kalah 4 kali beruntun, dengan catatan mencetak satu gol, dan kebobolan 9 gol. Itulah performa Arsenal dalam 4 laga terakhir. Keempat kekalahan itu dicatat, saat melawan Tottenham (0-1), Mamchester City (dua kali, keduanya kalah 0-3), dan tim promosi Brighton and Hove Albion (1-2). Kekalahan atas Brighton, didapat Arsenal, Minggu (4/3, GMT), setelah gol Dunk dan Murray hanya mampu dibalas sekali oleh Aubameyang. Sialnya, di hari sebelumnya, Tottenham, sang rival bebuyutan, menang 2-0 atas Huddersfield Town, berkat sepasang gol yang dicetak Son Heung Min.

Dengan kekalahan ini, langkah Arsenal untuk dapat menembus posisi 4 besar makin berat. Karena, dengan sisa 9 laga jarak mereka (posisi 6, nilai 45) dengan Tottenham (posisi 4, nilai 58) makin sulit dipangkas. Praktis, mereka hanya bisa berharap di Liga Europa. Tapi, harapan itu pun cukup berat. Mengingat, lawan yang akan dihadapi adalah AC Milan (Italia), tim yang sedang dalam tren positif.

Dari kacamata Gooners, bisa dibilang ini adalah mimpi buruk yang jadi nyata. Paket kesialannya pun lengkap: Gagal juara di Piala Liga, kalah beruntun, dan terancam absen (lagi) di Liga Champions Eropa. Kalau kata pepatah, tim asuhan Arsene Wenger ini sedang mengalami situasi "sudah jatuh tertimpa tangga".

Oke, untuk laga melawan City dan Spurs, Wenger boleh beralibi. Maklum, kedua tim ini memang cukup tangguh. Tapi, kekalahan atas Brighton jelas sulit dimaklumi. Tak heran, desakan "Wenger Out" pun makin kuat. Praktis, satu-satunya hal positif dari laga melawan Brighton adalah, akhirnya Arsenal bisa mencetak gol lagi.

Tapi, performa Arsenal belakangan ini dengan jelas menggambarkan, betapa kacaunya kondisi mereka di berbagai sisi. Dari sisi pemain, mental mereka benar-benar sedang drop, terutama setelah dua kali kalah 0-3 atas Manchester City. Gawatnya, Wenger seperti kehilangan akal, ia kesulitan memotivasi timnya. Kecerdasan taktiknya pun hilang entah kemana. Alhasil, pecinta sepak bola kini melihat, Arsenal kini tak ubahnya layang-layang putus, tak punya arah yang jelas.

Jika dilihat lagi, kekalahan atas Brighton menunjukkan, betapa kronisnya masalah di tubuh tim Arsenal saat ini. Kombinasi antara Wenger yang masih keras kepala dan tak tersentuh, dengan para pemain yang tampil seadanya, membuat Arsenal mengalami penurunan performa cukup drastis hanya dalam waktu singkat: dari langganan lolos ke Liga Champions, turun kelas ke Liga Europa. Jika ini terus dibiarkan, suatu saat Arsenal bisa terancam absen total dari kompetisi antarklub Eropa. Jelas, terlalu naif jika menyebut Arsenal saat ini masih baik-baik saja. Di sini, mencopot Wenger saja tak cukup, perlu pembenahan menyeluruh di tiap aspek, dengan biaya besar, dan waktu lama.

Praktis, dengan situasi Arsenal, yang saat ini sedang berada di titik nadir, sangat sulit untuk berharap, Arsenal bisa bangkit secara luar biasa di sisa musim ini. Kecuali, jika Arsene Wenger mendapat "wangsit", mujizat atau ilham yang sangat ampuh dalam waktu dekat. Jadi, untuk saat ini, kita hanya perlu menikmati kiprah Arsenal belakangan ini, sebagai sebuah hiburan "stand up comedy" versi nyata. Memang, tindakan ini mungkin terlihat agak sadis. Tapi, mereka menjadi contoh nyata dari ungkapan, "sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, bau busuknya akan tetap tercium juga".

Mungkin, inilah fase akhir perjalanan panjang Wenger di Arsenal.