Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola

Saat Napoli Mulai Kelelahan

4 Maret 2018   22:58 Diperbarui: 4 Maret 2018   23:04 712 0 0
Saat Napoli Mulai Kelelahan
Sidomi.com

Tampil di kandang sendiri, dan mendominasi jalannya laga, tapi malah kalah telak. Itulah gambaran performa Napoli, saat takluk 2-4 dari AS Roma, Minggu, (2/4, dinihari WIB). Gol-gol dari Lorenzo Insigne dan Dries Mertens, tak mampu membayar lunas gol-gol Roma, yang dicetak Edin Dzeko (2 gol), Cengiz Under, dan Diego Perotti. Kesialan Napoli makin lengkap, setelah pada saat hampir bersamaan, Juventus sang rival terdekat, menang 1-0 atas tuan rumah Lazio, berkat gol tunggal Paulo Dybala.

Memang, dari posisi di klasemen, Napoli (nilai 69 dari 27 laga), masih belum tergeser dari puncak klasemen. Tapi, selisih mereka dengan Juventus (posisi 2, nilai 68) tinggal 1 poin. Gawatnya, Juve masih menyimpan 1 laga tunda (Vs Atalanta) yang belum dimainkan. Laga ini sedianya berlangsung pekan lalu, tapi urung digelar akibat terpaan cuaca buruk. Jika Juve mampu menang di laga ini, Napoli akan tergusur dari posisi capolista.

Jika melihat bagaimana performa Napoli sepanjang musim ini, kita bisa melihat, mereka memang tancap gas sejak awal musim, sedangkan, Juventus mengawali musim ini dengan lambat, dan baru panas menjelang pertengahan musim. Ibarat mobil, Napoli adalah mobil bermesin "matic" yang tancap gas sejak awal, sedangkan Juve adalah mobil bermesin diesel yang lambat panas.

Sekilas, strategi Napoli ini tampak ampuh. Tapi, lawa yang mereka hadapi adalah tim yang sangat berpengalaman. Tak heran, tekanan tinggi selalu dihadapi Napoli tiap pekannya. Awalnya, tekanan itu mampu direspon Napoli, dengan menampilkan performa oke dari laga ke laga. Bahkan, mereka mampu menampilkan sepak bola menyerang yang memukau, sebelum akhirnya tumbang saat menjamu AS Roma.

Mungkin, analisa saya ini tampak terlalu dini. Karena, hanya berpatokan pada satu laga. Tapi, kekalahan atas Roma, dengan jelas menampilkan, Napoli mulai kelelahan secara mental, akibat terus ditekan Juve, untuk waktu yang cukup lama. Di sisi lain, dengan pengalamannya, Juve seperti sudah hafal betul, kapan harus menginjak rem, kapan karus menikung, dan kapan harus tancap gas.

Hal ini terlihat jelas, dari performa Juve musim ini. Meski start mereka cukup lambat, momen ini justru dimanfaatkan Juve sebaik mungkin, untuk menghabiskan "kuota paket jatah gagal" mereka, sekaligus membangun kekompakan tim. Supaya, pada saat yang menentukan, mereka tak lagi membuat kesalahan. Di masa lalu, gaya berpacu ini mirip dengan Manchester United (Inggris) di era Sir Alex Ferguson (1986-2013); lambat di awal, tapi ganas di saat menentukan.

Hal inilah yang masih belum dimiliki Napoli. Memang, mereka adalah tim yang cukup konsisten di papan atas. Tapi, mereka belum cukup paham, soal bagaimana cara berpacu yang baik dan benar, di balapan memperebutkan "scudetto". Terbukti, jelang penghujung Serie A musim ini, mereka mulai kelelahan, setelah terus berlari kencang sejak awal musim.

Mulai lelahnya Napoli, dan makin panasnya Juve di Serie A musim ini, seolah menunjukkan "do and don't" (hal yang boleh dan tak boleh dilakukan), saat berpacu di kompetisi liga yang panjang. Meski begitu, segala kemungkinan masih bisa terjadi, karena kompetisi Serie A masih belum berakhir. Menarik disimak, bagaimana kelanjutan kiprah Juventus dan Napoli di pekan-pekan berikutnya.