Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Hari Valentine, Antara Cinta dan Sepak Bola

13 Februari 2018   11:05 Diperbarui: 13 Februari 2018   13:27 1012 0 0
Hari Valentine, Antara Cinta dan Sepak Bola
Undian babak 16 besar Liga Champions musim 2017-2018 telah dilaksanakan oleh Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) di Nyon, Swiss, Senini (11/12/2017). (Fabrice Coffrini/AFP)

Bicara soal tanggal 14 Februari alias hari Valentine, banyak yang bilang, ini adalah hari spesial, bagi mereka yang sudah berpasangan, atau sedang berjuang mendapatkan cinta sang pujaan hati. Karena, disinilah mereka akan dapat mengungkapkan rasa cinta atau sayang mereka secara terbuka.

Bagi mereka yang sudah berpasangan, hari Valentine adalah satu momen yang sangat menyenangkan. Tapi, bagi mereka yang di hari Valentine sedang berjuang 'mencetak gol' ke hati si dia, ini tak ubahnya tendangan penalti penentuan nasib, dengan tekanan luar biasa berat. Saking beratnya, situasi jadi serba terbalik; si 'penembak' yang biasanya seagresif Diego Costa, selincah Lionel Messi, atau sedingin Robert Lewandowski, mendadak kikuk seperti bocah yang baru belajar bermain bola pertama kali. Sialnya, di hari Valentine, si dia, entah bagaimana caranya, mendadak berubah menjadi kiper setangguh Marc Andre Ter Stegen, Gianluigi Buffon, atau David De Gea.

Jika akhirnya 'tembakan ke hati' itu bisa membobol hati si dia, boleh jadi  hati si penembak akan luar biasa gembira. Saking gembiranya, boleh jadi selebrasi tarian 'wacky dip' (mirip tari Jaipong di Indonesia) ala Daniel Sturridge, atau salto akrobatik ala Michy Batshuayi, akan dilakukan di depan umum tanpa malu-malu. Tapi, jika ternyata 'tembakan ke hati' itu mampu diblok si dia, bisa dipastikan, hati akan terasa sangat pilu, seperti sedang mengalami  Maracanazo (Tragedi Maracana, final Piala Dunia 1950, antara Brasil Vs Uruguay) atau Mineirazo (Tragedi Mineiro, semifinal Piala Dunia 2014, antara Brasil Vs Jerman). Praktis, hanya para jomblo saja yang akan berharap hari yang bagai mimpi buruk ini cepat selesai, kalau perlu tak pernah ada lagi.

scoopnest.com
scoopnest.com
Tapi, syukurlah, setiap hari Valentine datang, sepak bola selalu hadir kembali memberikan sajian menarik, yakni pertandingan babak gugur (16 besar) Liga Champions Eropa. Entah kebetulan atau bukan, babak ini biasa bergulir di sekitar hari Valentine, baik sebelumnya maupun sesudahnya.Tentunya, UEFA, selaku regulator sudah mengukur semua plus minus, dan potensi pemasukan yang bisa didapat. Di sini, tampak jelas betapa cerdiknya UEFA dalam membaca situasi, dan memperhitungkan semuanya, saat menetapkan tanggal berlangsungnya pertandingan.

Menariknya, babak 16 besar Liga Champions Eropa seolah menjadi kado Valentine rutin tiap tahun dari UEFA, yang mampu menyatukan semuanya, baik yang sudah berpasangan, belum sukses 'menembak' pujaan hati, maupun masih jomblo, dimanapun mereka berada. Di titik inilah, saya kembali melihat salah satu keindahan nilai universal sepak bola; menyatukan berbagai perbedaan dalam satu tontonan, dalam balutan rasa cinta kepada tim kesayangan.

Keindahan inilah, yang membuat Valentine selalu layak ditunggu. Berkat gelaran fase gugur Liga Champions Eropa, kita sekali lagi melihat; hari Valentine  bukan hanya soal rasa cinta kepada si dia, tapi bisa juga soal rasa cinta kepada yang lain, misalnya keluarga, tim kesayangan, atau yang lainnya. Karena, pada dasarnya, cinta punya makna yang begitu luas dan universal, tidak sempit dan picik.