Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Dua Sisi Pemain Bengal

10 Februari 2018   15:37 Diperbarui: 10 Februari 2018   15:56 1200 1 0
Dua Sisi Pemain Bengal
Ilustrasi (Liverpoolecho.co.uk)


Dilihat dari kepribadiannya, terdapat dua macam pesepakbola. Kelompok pertama adalah "The Nice Guy" alias Si Manis, dan kelompok kedua adalah "The Bad Boy" alias Si Bengal. Dari kedua kelompok ini, Si Manis adalah yang paling mudah untuk ditangani. Karena, karakter mereka relatif tidak aneh-aneh, dan tak akrab dengan masalah indisipliner. Jelas, tak ada pelatih yang akan keberatan mengasuh pemain dengan karakter ini. Contoh pemain bertipe "Nice Guy" antara lain Andres Iniesta, Phillip Lahm, dan Paolo Maldini.

Sementara itu, "The Bad Boy" alias Si Bengal, tergolong gampang-gampang susah untuk ditangani. Karena, meski rata-rata sangat berbakat, mereka cenderung susah diatur, gemar bertingkah tak biasa, atau berkarakter keras. Kombinasi sikap ini umumnya muncul, dari masa lalu Si Bengal yang keras. Otomatis, Si Bengal ini perlu ditangani dengan hati-hati dan tepat.

Karena, dalam dirinya, Si Bengal membawa madu dan racun secara bersamaan. Jika salah urus, ia akan menjadi racun, tapi jika tak salah urus, ia akan menjadi madu bagi timnya. Contoh pemain bertipikal bengal antara lain Eric Cantona, Diego Maradona, dan Luis Suarez.

Menariknya, dari segi bakat, para pemain bengal ini justru kerap tampak sangat menonjol. Inilah yang lalu menimbulkan dilema bagi pelatih manapun; dibuang sayang, tapi menanganinya begitu susah. Jelas, tak ada pelatih yang tak pusing, jika harus menangani pemain semacam ini. Bahkan, andai boleh memilih, bisa jadi semua pelatih akan mencoret pemain bengal di timnya, sejak ia pertama kali bertugas.

Tapi, meski lekat dengan masalah, ternyata ada dua cara ampuh, untuk mengubah pemain bengal, dari 'biang kerok' menjadi bintang yang dapat diandalkan. Cara pertama adalah memberi kepercayaan penuh kepadanya, untuk bermain sesuai dengan gayanya sendiri. Cara kedua, adalah memberinya peran penting di tim, misalnya dengan menugaskannya sebagai inspirator permainan atau kapten tim.

Sekilas, cara ini terlihat sembrono, dan sangat beresiko merusak keutuhan tim. Tapi, fakta yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Meski kadang berulah, para pemain bengal ini justru mampu membayar lunas kepercayaan yang diembannya, dengan performa bagus di lapangan, dan prestasi positif.

Diego Maradona (Telegraph.co.uk)
Diego Maradona (Telegraph.co.uk)
Pada kasus Diego Maradona, kita melihatnya dengan jelas di Piala Dunia 1986 di Meksiko. Kala itu El Diego diberi kepercayaan ganda oleh pelatih Carlos Bilardo, yakni sebagai kapten sekaligus "pemain no 10" alias motor permainan Tim Tango. Hasilnya luar biasa, meski sempat mencetak gol "Tangan Tuhan" yang kontroversial, Maradona berhasil menginspirasi Tim Tango meraih gelar juara dunia, dan menjadi pemain terbaik turnamen.

Tak heran, hingga kini namanya kerap menjadi rujukan standar kualitas, tiap kali muncul pemain bertipe "nomor 10" di Argentina. Dengan peran serupa di era yang sama, El Diego juga sukses menginspirasi Napoli meraih sepasang scudetto, dan satu gelar Piala UEFA (kini Liga Europa).

Eric Cantona (dailymail.co.uk)
Eric Cantona (dailymail.co.uk)
Kasus yang hampir sama, juga terjadi pada Eric Cantona di Manchester United. Meski berkarakter bengal, ia justru diberi kepercayaan penuh oleh Sir Alex Ferguson, sebagai motor permainan tim. Kepercayaan ini tersimbolkan dengan jelas, dari nomor punggung 7 yang disandangnya. Nomor ini, adalah 'nomor keramat' di United. Hasilnya tak mengecewakan, meski sempat melakukan "Tendangan Kung Fu" ke suporter lawan, Cantona sukses menginspirasi United meraih sukses di era 1990-an. Tak heran, Manchunian tak ragu menjulukinya "King Eric".

Luis Suarez (elmundo.es)
Luis Suarez (elmundo.es)
Situasi sedikit berbeda terjadi pada Luis Suarez. Pemain asal Uruguay ini, memang kerap membuat masalah, mulai dari menggigit pemain lawan, melakukan "handsball" dengan sengaja, dan entah apa lagi. Tapi, berkat bakat istimewanya, ia selalu mengemban peran penting di klub maupun timnas Uruguay. Hasilnya tak mengecewakan.

Di level klub, secara personal, ia sukses meraih gelar top skor di tiga liga berbeda: Belanda (saat bermain di Ajax), Inggris (Liverpool), dan Spanyol (Barcelona). Hebatnya, Luisito juga sukses meraih dua Sepatu Emas Eropa bersama Liverpool dan Barca. Di timnas, Suarez sukses menjadi pemain terbaik Copa America 2011.

Secara tim, Suarez menjadi pemain kunci di klub dan timnasnya. Hebatnya, ia sukses meraih gelar juara, baik bersama El Barca maupun timnas Uruguay. Bersama Barca, Suarez antara lain sukses meraih 2 gelar La Liga, 3 trofi Copa del Rey, dan 1 gelar Liga Champions. Sedangkan, bersama timnas Uruguay, Suarez sukses meraih gelar Copa America 2011, yang saat itu dihelat di Argentina.

Meski lekat dengan masalah, ternyata pemain bengal mempunyai sisi positif, yang dapat memberi dampak positif bagi tim. Menariknya, para pemain bengal ini dengan gamblang membuktikan; seseorang bisa meraih prestasi terbaik, atau mengeluarkan kemampuan terbaiknya, sepanjang ia diberi kepercayaan penuh, untuk membantu tim meraih prestasi.