Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Ironi Sepak Bola Nasional

14 November 2017   21:19 Diperbarui: 15 November 2017   12:27 2536 7 4
Ironi Sepak Bola Nasional
Foto: Tribunnews.com

Bicara soal sepak bola nasional, satu kata, yang kiranya paling tepat untuk menggambarkannya adalah, ironi. Memang, disadari atau tidak, sepak bola nasional sungguh sarat ironi. Bahkan, ironi itu seperti menjadi suatu 'kearifan lokal' di sepak bola kita.

Pertama, sepak bola adalah olahraga yang begitu dicintai di negeri ini. Padahal, performa timnas sepak bola/klub kita di lapangan, terbukti kerap mematahkan hati para pecintanya di lapangan, dan kerap bermasalah di luar lapangan. Tapi, rasa cinta itu tetap besar. Bahkan, tak kalah besar dengan rasa cinta masyarakat pada bulu tangkis, olahraga yang selama ini sudah terbukti mampu mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Selain itu, rasa cinta publik nasional terhadap olahraga sepak bola begitu besar. Rasa cinta itu juga tetap sama, meski tata kelola kompetisi Liga Indonesia masih saja kacau. Ironi ini tampak jelas, dari kalimat "Liga busuk yang kami cintai" atau "Liga busuk yang kami cinta", yang biasa didengungkan kelompok-kelompok suporter fanatik di Indonesia. 

Di sini, mereka kompak membenci tata kelola kompetisi sepak bola nasional, yang masih saja kacau. Tapi, mereka tetap tak beranjak pergi, karena klub kesayangan mereka berlaga di situ. Ironisnya, rasa cinta suporter, pada klub kesayangan mereka ini, tumbuh bersama rasa benci mereka, pada tata kelola kompetisi yang buruk.

Kedua, negeri kita begitu mencintai sepak bola. Itu terlihat dari begitu banyaknya kelompok suporter fanatik, yang amat militan dalam mendukung tim kesayangan, terutama di laga kandang. Saking cintanya, hasil seri di laga kandang, tak ubahnya sebuah kekalahan. Sayang, rasa kecewa itu, kadang diekspresikan secara ekstrim, yakni lewat aksi anarkis. Di sini, rasa cinta itu justru berbalik merugikan klub, yang harus menanggung sanksi.

Memang, secara budaya, hal ini dapat dimaklumi. Karena, sikap tak mau kalah ini, adalah budaya warisan zaman kolonial. Sikap ini, adalah interpretasi nyata dari pepatah Belanda: "ere wien, ere toekomst" (di mana ada kemenangan, di situ ada masa depan). Di persepakbolaan nasional, ini terlihat jelas, dari koor lagu "Kuingin kita harus menang", yang biasa dinyanyikan suporter saat pertandingan.

Meski bisa memotivasi, penerapan pepatah ini secara sembarangan, juga dapat menafikan nilai sportivitas. Padahal, dalam olahraga, siapapun yang bertanding, harus siap menerima apapun hasil akhirnya; siap menang, berarti juga siap kalah. Kalaupun nantinya ada keluhan, keluhan itu seharusnya disampaikan sesuai prosedur. Bukan dengan aksi anarkis.

Ketiga, harapan masyarakat pada timnas sepak bola kita selalu tinggi, dengan gairah layaknya negara-negara Amerika Selatan. Tapi, kualitas sumber daya, dan manajemen yang ada masih belum memadai. Karena, sistem pembinaan pemain muda, wasit, dan pelatih lokal masih belum digarap serius. Belum ada sistem pembinaan berjenjang, yang strukturnya jelas. 

Regulasi kompetisi pun masih inkonsisten. Alhasil, kualitas kompetisi kita masih begitu-begitu saja. Perkembangan prestasi timnas pun masih belum beranjak dari level ASEAN, khususnya dalam sedekade terakhir. Padahal, timnas, selaku "output" kompetisi sepak bola nasional, selalu dibebani harapan tinggi oleh publik. Situasi ini membuat Tim Garuda layaknya motor balap 250cc, yang selalu diharapkan bisa ikut balap MotoGP, tanpa ada modifikasi sama sekali.

Ironi-ironi dalam persepakbolaan nasional, justru menunjukkan satu potret nyata; sepak bola begitu dicintai di negeri ini. Tapi, cinta itu masih bertepuk sebelah tangan. Karena, kekalahan masih tak diterima sebaik kemenangan. Ekspektasi selalu tinggi, tapi kualitas asli sumber daya yang ada belum memadai. Klub-klub yang ada mempunyai suporter fanatik, tapi tata kelola kompetisi masih kacau. Tentunya, jika persepakbolaan nasional ingin maju, jangan ada lagi ironi-ironi semacam ini. Supaya, kelak timnas tak mengalami situasi, seperti pada lagu "Pupus", yang dipopulerkan Band Dewa 19 berikut ini:

Karena, cinta bertepuk sebelah tangan itu selalu terasa menyakitkan, terutama, jika terlambat disadari.