Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Paradoks Duo Milan

10 Agustus 2017   03:14 Diperbarui: 10 Agustus 2017   03:17 162 2 0

Pada bursa transfer pemain musim panas kali ini, banyak terjadi cerita menarik. Di Inggris, kita menemui Tottenham Hotspur, klub papan atas EPL, yang sejauh ini masih sangat kalem, tak agresif berbelanja pemain berharga mahal, seperti yang dilakukan Duo Manchester, dan Chelsea.

Di Prancis, ada PSG yang baru saja memecahkan rekor transfer dunia, dengan memboyong Neymar dari Barcelona seharga 222 juta euro. Ada juga AS Monaco yang sedang panen untung, dari penjualan pemain kuncinya.

Sedangkan, di Spanyol, Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid, sama-sama masih tak terlalu aktif berbelanja pemain. Secara khusus, pada kasus Atletico Madrid, mereka tak bisa merekrut pemain baru, karena masih terkena embargo transfer dari FIFA.

Tapi, diantara cerita-cerita menarik, yang sudah terjadi di bursa transfer kali ini, aktivitas belanja duo Milan, yakni AC Milan, dan Internazionale, menjadi yang paling menarik. Karena, meski sama-sama aktif berbelanja pemain, pendekatan yang diterapkan, dan titik fokus keduanya sungguh bertolak belakang.

Pertama, dalam hal proses belanja, AC Milan memakai "public relation strategy", dengan menggembar-gemborkan aktivitas transfer, dan pemain incarannya ke media. Sisi positifnya, optimisme fans terhadap pemilik baru klub, dapat terbangun dengan cepat, dan ini menjadi 'alarm peringatan' serius bagi tim rival. Seperti saat Franck Kessie, dan Leonardo Bonucci sukses didatangkan. Tapi, sisi negatifnya, tak semua pemain incaran bisa didapat, seperti pada sosok Pierre-Emerick Aubameyang (Dortmund), dan Andrea Belotti (Torino). Dari segi taktik, lawan akan mengetahui, bagaimana gambaran taktik AC Milan musim depan.

Sedangkan, Inter cenderung memakai taktik "operasi senyap". Mereka tak menggembar-gemborkan ke media, siapa saja pemain incaran mereka. Mereka baru berbicara ke media, saat transfer sudah diresmikan. Di sini, manajemen Inter justru mampu memanfaatkan rasa pesimis fans, akibat performa jeblok tim musim lalu, untuk dapat fokus membangun tim. Alhasil, pemain incaran tim, seperti Matias Vecino (Fiorentina), dan Dalbert Henrique (Nice), bisa didapat dengan mulus. Gambaran taktik mereka pun tidak terekspos dengan jelas. Sehingga, kekuatan mereka agak sulit ditebak.

Kedua, baik AC Milan, dan Inter Milan, sejauh ini memang sama-sama menggaet beberapa pemain baru. Tapi, jumlah pemain yang digaet, dan total belanja mereka berbeda. Milan menggelontorkan dana sebesar 189,5 juta euro untuk memboyong 10 orang pemain baru. Sedangkan, Inter mengeluarkan biaya sebesar 80 juta euro, untuk merekrut 6 pemain baru. Jumlah ini masih dapat bertambah, mengingat bursa transfer musim panas, masih dibuka sampai tanggal 31 Agustus mendatang.

Ketiga, kedua tim ini sama-sama aktif berbelanja, untuk memperkuat tim, agar bisa berprestasi bagus di musim depan. Tapi, titik fokus keduanya berbeda. AC Milan harus membagi fokus di kompetisi domestik (Serie A dan Coppa Italia) dan Eropa (Liga Europa). Sedangkan, Inter hanya perlu fokus di kompetisi domestik (Serie A dan Coppa Italia), karena mereka absen di Eropa.

Sama -sama sibuk berbelanja, tapi berbeda gaya dan titik fokus. Itulah situasi yang kini sedang dialami AC Milan, dan Internazionale, jelang bergulirnya musim kompetisi 2017/2018. Meski begitu, tujuan mereka sama: mencetak prestasi bagus, di setiap ajang yang mereka ikuti musim depan.

Mampukah mereka mewujudkannya?