Yosep Efendi
Yosep Efendi Pembelajar

Selalu berusaha menjadi murid yang "baik" [@yosepefendi1] [www.otonews.id]

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

[Oknum Sopir Bis] Sudah Ditegur dan Dibina, Kok Masih Ngugal Sih?

20 April 2017   19:02 Diperbarui: 21 April 2017   11:46 1341 16 14
[Oknum Sopir Bis] Sudah Ditegur dan Dibina, Kok Masih Ngugal Sih?
Meme yang menyinggung Bis Jawa-Timuran | sumber: pertamax7.com

Beberapa hari yang lalu, saat berbincang dengan rekan, saya coba membuka diskusi tentang transportasi umum Bis. Banyak opini menarik yang muncul pada diskusi ringan nan singkat itu. Mulai dari trayek yang terbatas, waktu yang tak tentu, kendaraan mogok diperjalanan dan yang paling disorot adalah gaya berkendara sopir yang ugal-ugalan. Ini menarik untuk dibahas (sedikit) lebih dalam.

Filosofi “Yang Penting Yakin”

Saya tak ingin menggeneralisir perilaku sopir bis Nasional. Cukup oknum sopir bis yang kerap saya tumpangi yaitu bis jurusan Jogja-Surabaya-Jogja. Meskipun mungkin di daerah lain juga kerap ditemui sopir bis yang ngugal, tapi saya hanya ingin membahas apa yang kerap saya temui dan alami.

Sebagai penumpang, saya kerap geleng-geleng kepala. Pasalnya, di saat lampu merah, oknum sopir bis yang saya tumpangi, dengan enaknya mengambil posisi di kanan jalan. Jelas-jelas sisi kanan tersebut diperuntukkan bagi kendaraan dari arah berlawanan. Alhasil, kendaraan dari arah berlawanan harus merelakan roda sebelah kirinya turun dari aspal.

Tak hanya di pemberhentian lampu merah. Saat menyalip pun, tak pandang rambu, marka garis putih tak putus yang jelas terlukis di aspal jalan pun dilibas. Jangankan "cuma" garis, ada kendaraan yang melintas yang memang jalurnya pun dipaksa untuk melambat. Hanya untuk memberi ruang si Tuan sopir Bis agar bisa menyalip. Lagi lagi, kendaraan lain menjadi korban.

Sing penting yakin, halangan minggir dewe | sumber gambar: indonesiaone.org
Sing penting yakin, halangan minggir dewe | sumber gambar: indonesiaone.org

Perilaku inilah yang kerap disebut "Yang Penting Yakin". Yakin bahwa kendaraan lain akan memberi ruang untuk bis, oknum sopir bis pun semakin gagah berani menyalip sembarangan. "Pasti Mereka –pengendara lain- takut dan minggir sendiri" mungkin itu yang ada dalam pikiran oknum sopir ugal-ugalan tersebut.

Shock Terapy Untuk Si Oknum Sopir Bis Ngugal

Pernah, suatu ketika (sekitar 2 bulan yang lalu) ada sopir truk yang coba menantang sopir bis. Lokasinya di persimpangan jalan Bogem Prambanan Jogja. Saat itu, saya sedang mengendarai mobil, berada tepat dibelakang truk tersebut, dari arah Klaten/Solo menuju Jogja.

Saat traffict Light di arah Kami menyala hijau, Kami pun jalan. Namun, baru beberapa puluh meter berjalan, tiba-tiba truk di depan saya melambat, tak lama kemudian berhenti. Ternyata ada bis dari arah Jogja sedang "mengambil" jalan Kami.

Tampak jelas suara klakson truk yang berulang dan bernada panjang. Tujuannya memerintahkan sopir bis untuk berpindah jalur. Namun, bis tersebut tidak bisa langsung pindah. Sebab, di sisi kirinya sedang padat kendaraan yang berhenti menunggu lampu berwarna hijau.

Sopir truk pun tak hanya cukup membunyikan klakson. Tampak jelas Ia mengeluarkan kepalan tangan kanannya, keluar kaca pintu. Seolah ingin “menghajar” si sopir bis tersebut. Entah bagaimana respon sopir truk, saya tak dapat melihatnya. Yang jelas, si Kondektur bis keluar kendaraan dan tampak sibuk meminta jalan pada kendaraan di sisi kirinya.

Setelah menunggu beberapa saat hingga lampu hijau, baru bis tersebut bisa melipir ke kiri. Saat kami mulai bisa berjalan dan sopir truk berpapasan dengan sopir bis, sopir truk yang berani ini memarahi dan mengeluarkan umpatan kasar pada sopir bis nakal. Lucunya, tak tampak penyelasan apalagi permohonan maaf dari sopir bis. Justru wajah sopir bis tersebut tampak marah. Lucu sekali, salah kok marah!

Apa Yang Bisa Dilakukan Penumpang Oknum Bis Ngugal?

Perilaku oknum sopir bis yang ngugal ini jelas membahayakan pengendara lain dan penumpang bis itu sendiri. Jika mungkin ada pengedara lain (seperti sopir Truk yang saya ceritakan di atas) berani menegur dan memarahi si sopir bis tersebut, lantas apa yang bisa dilakukan penumpang bis?

Sebagai penumpang, ingin sekali rasanya menegur si sopir ngugal tersebut. Tetapi, jujur saja, saya pesimis. Menegur oknum sopir yang perilakunya seperti itu, mungkin tidak akan membuahkan hasil. Lha wong sopir truk “sangar” yang menegur aja dilawan, apalagi saya yang “imut-imut” ini? Bisa jadi, bukannya me-nyadar-kan,eh justru saya malah digampar. Kan repot. Tapi, ada hal lain yang bisa saya lakukan, yaitu lapor ke dinas terkait.

Pembinaan Sopir Bis

Karena perilaku ugal-ugalan ini sudah saya temui sejak lama, kemudian timbul pertanyaan: ada gak sih pembinaan atau pelatihan berkendara untuk para sopir bis tersebut? Dari dulu kok KAYAKNYAAA, gaya berkendaranya begitu-gitu aja.

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu, saya pun merasa perlu untuk menghubungi dinas terkait, yang mengurusi Perhubungan dan angkutan darat. Berhubung oknum sopir tak taat aturan lalu lintas yang saya temui berasal dari perusahaan transportasi berbasis di Surabaya, maka saya menghubungi Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Jawa Timur.

Saya menghubungi via telpon, siang tadi (20/4/2017). Setelah mengenalkan diri, saya pun mengutarakan tujuan saya menghubungi Beliau. Pertanyaan utama saya adalah “apakah selama ini ada pembinaan atau pelatihan untuk sopir bis?”. Dengan ramah dan suara merdu, Ibu pegawai Dinas Perhubungan menyampaikan bahwa selama ini sudah ada pelatihan untuk sopir. Pelatihan tersebut melibatkan pihak kepolisian sebagai salah satu narasumber/instruktur.

Pelatihan tersebut diselenggarakan 12 kali dalam setahun, dengan kuota jumlah peserta tiap periode adalah 50 orang sopir. Nah, ternyata sudah ada upaya pembinaan dari dinas terkait, tapi kok ya masih “seneng” melanggar aturan?

Berkendara Tak Hanya Butuh Skill

Saya percaya bahwa berkendara itu bukan hanya butuh skill mengemudi. Ada aspek lain yang tak kalah penting, yaitu karakter. Orang yang awalnya tidak bisa mengemudi, bisa saja mengikuti pelatihan singkat mengemudi hingga akhirnya mahir. Tetapi, untuk urusan karakter, susah diubah.

Karakter umumnya terbentuk sejak kanak-kanak. Sulit untuk bisa cepat diubah hanya dengan pelatihan atau pembinaan singkat. Pembinaan yang lama dan berkelanjutanpun akan sulit memperbaiki karakter jika tidak ada kesadaran dalam diri. Tidak ada keinginan untuk berubah. Mungkin begitu yang terjadi saat dan pasca-pembinaan sopir angkutan umum. Ada yang bisa mengubah gaya berkendara karena kesadaran diri. Ada juga yang tetap mempertahankan jurus-jurus berkendaranya.

Sebagai pengguna angkutan umum Bis, saya berharap ada upaya perbaikan karakter berkendara. Yang diharapkan penumpang bukan hanya cepat sampai, tetapi juga butuh rasa aman dan kenyamanan. Saya sudah menyimpan beberapa nopol bis, yang saya “blacklist”, yang menurut saya tak nyaman untuk dinaikin.

Pun sebagai pengguna jalan, -yang haknya pernah diambil-, saya juga berdoa agar oknum sopir bis ngugal  dan membahayakan pengguna jalan lain, agar segera sadar. Jalan aspal hitam ini milik Kita bersama, jangan sampai ada catatan hitam diantara Kita.

Artikel ini juga ditayangkan  di blog pribadi: otonews.id