Mohon tunggu...
Yopi Ilhamsyah
Yopi Ilhamsyah Mohon Tunggu... Dosen - Herinnering

Herinnering

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Lagi-lagi Kisah KKN

1 Agustus 2022   18:51 Diperbarui: 3 September 2022   11:12 96 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Suasana pekarangan depan aula kampus jelang malam. Foto: Dokpri.

Suatu sore, orang demi orang telah berpamitan. Rekan-rekan lain telah lama pulang.

Saya meraih tumbler, membasuh tangan lalu meneguk sisa air terakhir, cukup untuk membasahi kerongkongan. Rasa haus masih mendera selepas melewati sore hari yang terik di lapangan sepakbola milik sebuah kampus di Banda Aceh.

Di bulan Maret, Aceh memasuki musim pancaroba. Beberapa hari terik kemudian diselingi beberapa hari hujan. Ciri lainnya, cuaca cepat berubah, pagi terik siangnya hujan!

Saya segera berkemas untuk kemudian berlalu menyusuri parit di sisi samping ruang-ruang kelas kosong yang tak lagi dikunjungi pelajar. "Eh... ada marka tertinggal," gumam saya dalam hati kala melihat tumpukan peralatan latihan di dalam parit kering.

Saya menenteng marka warna warni yang tersusun rapi di dalam pengaitnya dan bermaksud menyimpannya di dalam aula, bergabung dengan ladder, cones, tiang-tiang pipa, Manequin dan bola yang ditinggal bermalam di dalamnya.

Langkah kaki pun berbelok, berjalan melewati teras depan kelas-kelas kosong yang kini tampak tua dan kumuh. Cat tembok putih yang memudar, dinding yang berlumut, menyisakan pemandangan ruang-ruang kelas yang menghitam.

Pintu-pintu kayu rusak yang dibiarkan terbuka seakan-akan telah siap menyambut kedatangan saya. Terbersit gambaran ada orang di setiap pintu yang sedang mempersilahkan saya mampir ke dalam. Penghuni abadi lainnya melongok dari balik jendela bolong, terbingkai kusen membusuk.

Di halaman kampus tumbuh rerumputan dan alang-alang tinggi di antara bebatuan, menghimpun hamparan padang ilalang. Sementara daun dan ranting kering dari pepohonan Melinjo rimbun yang tumbuh di sekitarnya jatuh, menyemaki halaman kampus tertua di Aceh.

Di sekeliling teras, tumbuh bunga Bonsai sepinggang orang dewasa. Dahannya yang liar seakan ingin melilit saya, menyeret dan membenamkan tubuh saya ke dalamnya. "Kalaulah saya terkubur di dalam semak Bonsai ini, bakal susah orang menemukan saya," pikir saya dalam hati. Sementara ujung dahan lainnya yang menjuntai menghampiri interior kelas tersapu oleh langkah kaki saya yang semakin cepat.

Ayunan tegas langkah demi langkah melewati jejeran kelas-kelas gelap menyerupai huruf U.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan