Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... Penulis - memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama | metasatu.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

#MegaDikudeta dan Perlawanan dari Solo

1 November 2022   12:16 Diperbarui: 1 November 2022   12:20 293
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kader PDIP Solo merayakan HUT Ganjar | Foto: Kompas.com

Relawan Koalisi Aktivis dan Milenial Indonesia untuk Ganjar Pranowo (KAMI-Ganjar) membuat gerah elit PDI Perjuangan. KAMI-Ganjar mendoakan Presiden Joko Widodo menjadi Ketua Umum PDIP menggantikan Megawati Soekarnoputri pada 2024 mendatang. Tidak lama setelahnya, muncul #MegaDikudeta.

Doa relawan KAMI-Ganjar menjadi menarik di tengah tarik-ulur bakal calon presiden (capres) yang akan diusung PDIP di gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Beberapa kader di bawah menginginkan agar PDIP mengusung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sementara elit PDIP terlihat lebih condong mendukung Ketua DPR Puan Maharani.

Peluang Puan tentu lebih besar. Bukan hanya karena anak Megawati dan posisinya sebagai Ketua DPP PDIP, Puan juga memiliki rekan jejak mumpuni baik di pemerintahan maupun legislatif.

Satu-satunya kelemahan Puan adalah elektabilitasnya yang masih rendah sesuai hasil survei sejumlah lembaga. Namun yang perlu dipahami, hasil survei tidak pernah menjadi patokan partai dalam menentukan calon yang akan diusung dalam kontestasi elektoral.

Mungkin hanya partai-partai gurem yang menjadikan hasil survei pihak luar sebagai tolok ukur dalam memilih kandidat. PDIP, Golkar dan partai-partai mapan lainnya, memiliki alat ukur sendiri yang terbukti lebih efektif karena benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

Munculnya #MegaDikudeta semakin menarik karena memang terkesan ada perbedaan aspirasi antara Megawati dengan Presiden Jokowi. Dalam beberapa kesempatan, Jokowi menunjukkan gestur yang lebih condong kepada Ganjar.

Adanya perbedaan itu, pernah diakui Jokowi usai meresmikan Masjid At Taufik di Lenteng Agung. Kala itu Jokowi mengatakan hubungannya dengan Megawati seperti dalam keluarga besar sehingga wajar dalam perjalanan ada anak yang nakal. Saat itu Megawati yang berdiri di samping Jokowi, langsung memberikan lirikan tajam.

Kondisi di kandang banteng semakin runyam setelah safari politik Puan "gagal" mengegolkan skenario 2 capres di gelaran Pilpres 2024 seperti yang pernah diwacanakan Sekretaris Jenderal  PDIP Hasto Kristiyanto.

Terlebih setelah Ganjar secara terang-terangan mengaku siap menjadi capres. Meski disertaii embel-embel "jika dicalonkan oleh PDIP", namun pernyataannya menjadi kontroversial karena meminta agar partainya memperhatikan hasil survei yang disebut Ganjar sebagai suara rakyat.

Dalam tafsir lain, pernyataan Ganjar seolah "mengajari" Megawati bagaimana cara memilih capres. Seperti kita ketahui penentuan capres PDIP merupakan hak prerogatif ketua umum PDIP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun