Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama | https://yonbayuwahyono.com/

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Artikel Utama

TNI Sudah Siaga, Singkirkan Pikiran Rusuh!

30 April 2020   10:34 Diperbarui: 30 April 2020   17:03 2687 17 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
TNI Sudah Siaga, Singkirkan Pikiran Rusuh!
Ilustrasi Pasukan TNI. Foto: KOMPAS.com/dok TNI

Penerapan kebijakan pembatasan sosial dan pembatasan sosial skala besar (PSBB) di sejumlah daerah sudah berjalan lebih dari sebulan. Namun belum tahu ada tanda-tanda kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Jika pandemi semakin memburuk sementara masyarakat mulai jenuh dengan kebijakan social distancing dan PSBB yang mirip karantina wilayah atau lockdown, bayang-bayang akan terjadinya kerusuhan mulai mengganggu.

Sesuatu yang sangat-sangat tidak kita harapkan, tetapi juga jangan diabaikan sehingga kita lengah. Sebab, seperti disampaikan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sisriadi, pandemi Covid-19 bukan hanya soal kesehatan, namun juga sosial, ekonomi dan politik.

Jika masalah ekonomi menyentuh masyarakat kalangan bawah, maka hal itu berarti menyangkut masalah perut. Jika dibiarkan, akan berpotensi mengundang masalah keamanan yang lebih besar.

Untuk itu, menurut Sisriadi, TNI telah menyiapkan beberapa langkah urgensi untuk menghadapi kemungkinan terburuk di bidang kemanan, dengan salah satunya menyiagakan pasukan.

Persoalan utama saat ini memang belum adanya kepastian kapan pandemi korona akan berakhir. Permodelan, analisa hingga prediksi para ahli masih berbeda-beda, bahkan sekedar untuk menentukan titik puncak pandemi.

Laju pertambahan jumlah pasien positif terinfeksi Covid-19 juga masih tinggi, meski sempat disebutkan sudah mulai datar (flat), tetapi angka penambahan pasien positif di Jakarta sebagai pusat sebaran, masih cukup tinggi.

Meski di daerah lain jumlah pasien positif relatif lebih rendah, namun para ahli juga belum menyepakati apakah memang demikian angkanya, ataukah karena kelambatan melakukan tes karena keterbatasan peralatan. 

Ada kekuatiran, jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi namun tidak dapat diketahui dan dipetakan tanpa test baik rapid test maupun tes Polymerase Chain Reaction (PCR).  

Namun yang sudah pasti, menurut data pemerintah per 29 April, pasien positif mengidap virus korona di Indonesia sudah mencapai 9.771 orang, di mana 1.391 telah sembuh dan 784 meninggal dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN