Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Gertak Surya Paloh Mejan!

23 Oktober 2019   06:21 Diperbarui: 23 Oktober 2019   15:48 0 15 5 Mohon Tunggu...
Gertak Surya Paloh Mejan!
Surya Paloh. Foto: KOMPAS.com/Kristian Erdianto 

Hadirnya Syahrul Yasin Limpo, Siti Nurbaya Bakar dan Johnny G Plate menjadi penanda gertakan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh gagal meledak alias mejan. Terlebih Nasdem juga kemungkinan kehilangan kursi Jaksa Agung.

Meski demikian Partai Nasdem tetap mendapat 3 kursi di Kabinet Joko Widodo  - Ma'ruf Amin, sama seperti di periode sebelumnya. Yasin dan Plate "mengggantikan" Enggartiasto Lukita yang dipercaya sebagai Menteri Perdagangan dan HM Prasetyo yang sukses "dimainkan" oleh HM Prasetyo. Sedang Siti Nurbaya tetap pada posisi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Jika hari ini tidak ada kejutan lain untuk Nasdem,  maka bisa dipastikan hubungan Surya Paloh dengan Presiden Jokowi dan terutama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, akan kalis (Jawa: tidak dapat menyatu secara erat).

Sikap frontal Surya Paloh menentang keinginan Megawati agar memberi karpet merah pada Partai Gerindra yang berniat masuk Istana, menjadi penyebab utamanya. Presiden RI kelima itu sulit memaafkan jika hatinya sudah terluka. Hubungannya dengan Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Presiden RI keenam adalah contohnya.

Ditambah kemudian manuver politik Surya Paloh dengan mengajak Golkar, PKB dan PPP untuk "mengucilkan" PDIP. Untuk menambah daya tekan, bos Media Group itu lantas menggaungkan dukungan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk Pilpres 2024.

Bahkan sehari sebelum pengenalan calon menteri, Surya Paloh masih "menggeliat" dengan menyebut dirinya tidak dilibatkan dalam pembahasan calon menteri. Wacana oposisi pun sempat dicuatkan laki-laki kelahiran Banda Aceh tersebut.

Hal itu dipastikan kian menambah "luka" Megawati. Sementara di sisi lain, Surya Paloh tampaknya juga tetap kecewa karena gagal mendapat posisi Jaksa Agung, meski jumlah kursi diterima masih sama. Kabar akan ada pertemuan Surya Paloh dengan petinggi PKS yang dihembuskan Presiden PKS Sohibul Iman menjadi bukti.

Surya Paloh sudah berhitung, jika Nasdem bergabung dengan PKS, PAN dan Demokrat sebagai oposisi maka suaranya cukup untuk mengganggu kemesraan PDIP dan Gerindra. Sebab partai-partai lain, terutama Golkar dan PKB, tentu akan memanfaatkan situasi itu untuk mengegolkan agendanya sendiri.

Mengapa bagi-bagi kursi kabinet justru menjadi penyebab keretakan hubungan antar partai pengusungnya? Kesalahan tidak dapat sepenuhnya ditimpakan pada PDIP, apalagi Gerindra.  

Hal itu bisa dilihat dari dua sisi. Satu sisi menunjukkan ketegasan Presiden Jokowi yang menolak intervensi Nasdem terkait posisi Jaksa Agung. Jokowi sempat menyebut posisi itu akan diberikan kepada kalangan profesional.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x