Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

PKS Melejit, Garbi pun Menjerit

12 Juli 2019   13:00 Diperbarui: 12 Juli 2019   14:21 0 7 3 Mohon Tunggu...
PKS Melejit, Garbi pun Menjerit
Deklarasi Ormas Garbi. Foto: jakarta.tribunnews.com 

Bukan hanya lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold) perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Pemilu 2019 juga jauh di atas prediksi sejumlah pihak, termasuk Fahri Hamzah. Dampak, eksistensi Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) yang disiapkan menjadi sekoci, kehilangan momentum.

Menjelang gelaran Pemilu 2019, Fahri Hamzah - yang masih tercatat sebagai kader PKS setelah berhasil mementahkan pemecatannya melalui pengadilan,  sempat memprediksi perolehan suara partai dakwah tersebut di bawah 4 persen.  Prediksi tersebut didasarkan pada hasil survei sejumlah lembaga dan juga kinerja mesin PKS di bawah pimpinan Presiden PKS Sohibul Iman yang dinilai tidak layak.

Wakil Ketua DPR itu menyebut PKS terancam kehilangan pemilih di Pemilu 2019 jika dirinya tidak berada di struktur partai. Terlebih, Sohibul melakukan pembersihan terhadap loyalis mantan Presiden PKS Anis Matta.

Ternyata prediksi Fahri meleset. PKS mendapat kenaikan suara signifikan dari 8,48 juta suara atau 6,79 persen di Pemilu 2014 menjadi 11,49 juta suara atau 8,21 persen . Perolehan kursi di DPR pun melejit dari 40 menjadi 50 kursi.

Keberhasilan Sohibul mendongkrak perolehan suara PKS membuat lawan-lawannya gerah.  Garbi yang sejak awal seperti disediakan sebagai sekoci andai PKS gagal  di Pemilu 2019, langsung diwacanakan menjadi partai. Metamorfosis Garbi dari ormas menjadi partai, menurut Anis Matta, akan dilakukan setelah selesai melakukan konsolidasi ke daerah.

"Tahun depan, tapi bisa juga lebih cepat dari itu," kata pendiri Garbi ini.

Fahri mengamini rencana Anis Matta. Fahri yang kini tengah menuntut pencairan uang ganti rugi sebesar Rp 30 miliar dari PKS sesuai putusan pengadilan, menyebut partai Garbi tidak didasarkan aliran tradisional, melainkan melintasi batas dan terbuka bagi siapa saja yang menyepakati pemikiran politik yang ditawarkan.

Andai saja PKS terpuruk di Pemilu 2019, partai Garbi tentu bisa menjadi rumah baru bagi kader dan simpatisan PKS. Tetapi mendeklarasikan partai Garbi di saat citra positif PKS tentu bukan siolusi cerdas. Bahkan terkesan hanya sikap emosional segelintir kader PKS yang tidak suka dengan keberhasilan Sohibul Iman.

Benar, seperti dikatakan Fahri, Garbi kemungkinan tidak hanya membidik kantong-kantong PKS, utamanya kader dan simpatisan yang kecewa. Garbi akan masuk ke pasar politik yang lebih luas Tetapi seberapa besar pengaruh Anis Matta dan Fahri Hamzah? Jika di internal PKS saja gagal, mungkinkah mereka bisa menjual pengaruh di luar PKS?

Sulit memungkiri fakta jika ketokohan Anis Matta, terlebih Fahri, masih sebatas di lingkup PKS, di lingkungan Islam modernis dan setengah puritan. Ketokohan Anis belum menjangkau medan yang lebih luas, terlebih kelompok nasionalis. Padahal pasar politik Islam modernis dan puritan- termasuk kalangan terdidik, sangat kecil dan sudah dikuasai oleh PKS serta PAN.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2