Yon Bayu
Yon Bayu Penulis

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Diberi Gelar "Godfather", SBY Tetap Sulit "All Out" Dukung Prabowo

13 September 2018   09:17 Diperbarui: 13 September 2018   09:42 1025 6 5
Diberi Gelar "Godfather", SBY Tetap Sulit "All Out" Dukung Prabowo
SBY menyambut kedatangan Prabowo. Foto: KOMPAS.com/Abror Rizki

Ancaman politik dua kaki yang diserukan kader-kader Demokrat di Pilpres 2019, meski secara resmi mendukung pasangan Prabowo Subianto -- Sandiaga Uno, ternyata cukup efektif. Julukan cukup mentereng disematkan kepada Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sekedar pelipur lara?

Pasang surut hubungan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan SBY bisa dilacak hingga ke Lembah Tidar ketika keduanya sama-sama menjadi taruna Akabari tahun 1970, meski SBY lulus tahun 1973 dan Prabowo baru keluar tahun 1974. 

Menurut Hermawan Sulistyo mantan Ketua Tim Investigasi TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) Kerusuhan Mei 1998, Prabowo sempat tidak naik kelas karena ngegebuki SBY. Penyebabnya, Prabowo menduga SBY yang melaporkan ke Gubernur Akabri (saat itu) Mayor Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, saat dirinya kabur ke Jakarta untuk menghadiri acara Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto yang kemudian menjadi istrinya. Sementara SBY belakangan menikahi Kristiani Herawati, putri sulung Sarwo Edhie, yang sudah dikenalnya sejak di Akabri.

Ironisnya, SBY juga yang "menghentikan" karir militer Prabowo. Usai Presiden Soeharto mundur di tahun 1998, Prabowo menghadapi sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) di mana SBY menjadi salah satu anggotanya. Hasilnya, DKP merekomendasi pemberhentian Prabowo Subianto dari kedinasan militer dengan tuduhan- antara lain, menggerakan pasukan di luar perintah Panglima ABRI dan tidak disipilin karena sering meninggalkan tugas tanpa izin atasannya.

Dari catatan itu, banyak yang kemudian meragukan SBY akan mendukung Prabowo di Pilpres 2019. Faktanya memang demikian. SBY, seperti pengakuannya, berusaha masuk ke koalisi pengusung petahana Presiden Joko Widodo. Namun upaya mantan Presiden RI ke-6 tersebut gagal karena terganjal hubungannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang disebutnya belum ditakdirkan kembali normal.

Upaya SBY membangun poros alternatif, juga gagal setelah PPP dan PKB yang diharapkan bisa bergabung bersama PAN, lebih nyaman berada di kubu Istana. Dalam kondisi "terpaksa" SBY lantas menerima pinangan Prabowo dengan harapan posisi cawapres diberikan kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebagai catatan, meski hal ini dibantah SBY, namun seringkali disuarakan kader-kader teras Demokrat.

Kemesraan antara SBY dan Prabowo yang baru seumur jagung hampir kandas ketika Prabowo memilih kadernya sendiri, Sandiaga Uno, sebagai cawapresnya. Meski kemudian Sandiaga mundur dari Gerindra, namun "bau" Gerindra tetap kentara.

Wajar jika kemudian kader-kader Demokrat, seperti Wasekjen Andi Arief, memberikan reaksi frontal. Selain menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus, dan menuding ada mahar politik sebesar Rp 1 triliun untuk PAN dan PKS agar tetap mau mendukung, Andi Arief kembali membuat geger ketika mengatakan SBY memerintahkan politik dua kaki. Artinya, Demokrat tetap mendukung Prabowo-Sandiaga, namun kadernya boleh mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin.

Pernyataan Andi Arief pun mendapat penegasan dari AHY dan dibuktikan dengan tidak adanya sanksi bagi kader-kader Demokrat yang mendukung Jokowi seperti Ketua DPD Demokrat yang juga Gubernur Papua Lukas Enembe dan mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Alasanya, Demokrat ingin mendapatkan hasil maksimal di Pemilu 2019. Jika total mendukung Prabowo, Demokrat kuatir kader-kader di bawah, terutama di daerah basis Jokowi, kesulitan meraih suara. Demokrat, kata Andi Arief, tidak ingin Gerindra menikmati keuntungan elektoral sendirian.

Sikap "resmi" SBY tersebut akhirnya memaksa Prabowo kembali menyambangi Cikeas, kediaman SBY, kemarin. Hasilnya, Demokrat tetap akan bersama Prabowo-Sandiaga di mana AHY mendapat posisi di Dewan Pembina dan SBY sebagai juru kampanye. Dari sinilah muncul ungkapan SBY sebagai godfather yang dicetuskan Prabowo.

"Kalau godfather sudah di atas lah. Dia itu mentor saya. Jadi bukan urusan partai saja, urusan Magelang ini ceritanya," kata Prabowo seperti ditulis Kompas.com. Kota Magelang yang disinggung Prabowo sangat mungkin merujuk pada Lembah Tidar di mana dulu keduanya menjadi taruna Akabri.

Untuk sementara, gelar godfather mungkin bisa meredakan kegalauan SBY melihat dinamika politik saat ini yang sangat tidak menguntungkan Demokrat. Dengan posisi tersebut, SBY bisa menggerakkan mesin partai untuk mengkampanyekan Prabowo-Sandiaga sekaligus Partai Demokrat, tanpa harus memikirkan "amunisinya". Barangkali ini yang dimaksud Andi Arief, supaya tidak hanya Gerindra yang menikmati keuntungan elektoral.

Tetapi terlalu naif jika mengira SBY akan all out mendukung Prabowo, terlebih sampai memecat kader Demokrat yang mendukung Jokowi. Tidak akan sampai ke sana. Bahkan kemesraan SBY dengan Prabowo sangat mungkin kembali berubah, jika diterpa isu yang berpotensi merugikan posisi AHY.

Salam @yb