Yon Bayu
Yon Bayu Penulis

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Menebak Arah Dukungan Keluarga Gus Dur Usai Dikunjungi Jokowi dan Sandiaga

11 September 2018   09:43 Diperbarui: 11 September 2018   10:23 479 8 4
Menebak Arah Dukungan Keluarga Gus Dur Usai Dikunjungi Jokowi dan Sandiaga
Presiden Jokowi di kediaman keluarga Gus Dur. Foto: KOMPAS.com/Fabian Januarius Kuwado

Dalam konteks politik kekinian, suara Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya berkiblat ke Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Lebih banyak lagi pengikut KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur- yang menamakan diri Gusdurian, yang aspirasi politiknya belum tentu sejalan dengan arahan PKB. Kekalahan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno di Pilgub Jawa Timur 2018 yang  didukung PKB plus PDIP adalah buktinya. Padahal Jatim merupakan basis utama NU dan kaum nasionalis.  

Hal itu sangat disadari oleh petahana Presiden Joko Widodo yang dalam kontestasi elektoral bertajuk Pilpres 2019 didukung PKB, dan terlebih lawannya, pasangan Prabowo Subianto -- Sandiaga Uno.  

Jokowi yang berpasangan dengan Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, pun menyempatkan diri mengunjungi kediaman Gus Dur pada Jumat akhir pekan lalu. Presiden Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Sebagai tuan rumah, Hj Sinta Nuriyah menerima Jokowi ditemani ketiga putrinya, yakni Yenny Wahid, Alissa Wahid dan Inayah.

Sedangkan Sandiaga, berkunjung Senin kemarin. Tidak seperti Jokowi yang diterima cukup resmi, Sandiaga dibiarkan dengan "gayanya". Setelah mencium tangan Sinta Nuriyah hingga tiga kali, dan melakukan pembicaraan tertutup, Sandiaga mendapat sindiran telak. Saat pulang, Sandiaga diberi oleh-oleh berupa tempe mendoan sesuai ukuran aslinya.

"Tak setipis kartu ATM," cetus Sandiaga.

Oleh-oleh tempe menjadi menarik karena sebelumnya mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu  menyerang pemerintah dengan mengatakan kondisi ekonomi saat ini tengah susah karena dollar melambung hingga sempat tembus Rp 15.000. Dampaknya menurut Sandi, pemilik  warung makan tegal (warteg) mensiasatinya dengan menjual tempe dengan harga sama tetapi ukuran lebih tipis yang disebutnya setipis kartu ATM.

Ucapan Sandiaga menuai respon negatif dari kubu lawan. Bahkan nitizen membuat meme yang mengolok-olok pernyataanya. Seperti biasa Sandiaga tidak terlalu merespon ulah nitizen dan bantahan kubu Jokowi-Ma'ruf. Bahkan Sandiaga sendiri yang  membuka soal tempe mendoan pemberian Sinta Nuriyah yang tidak setipis kartu ATM. Padahal bagi yang lain, pemberian itu dapat diterjemahkan sebagai bentuk sindiran.

Bukan hanya soal tempe, aksi Sandiaga mencium tangan Sinta Nuriyah hingga tiga kali juga mendapat sindiran tajam Yenny Wahid. Menurut "seteru" Muhaimin Iskandar tersebut, Sandiaga melakukan hal itu karena sudah menjadi santri.

Seperti diketahui, sebelumnya Presiden PKS Sohibul Iman menyebut Sandiaga merupakan santri post Islamisme atau santri milenial yang mendapat pendidikan agama secara modern. Pelabelan santri itu tak pelak mendapat kritik tajam karena dianggap terlalu memaksa. Santri adalah sebutan untuk siswa yang belajar di pondok pesantren alias mondok. 

Meski mereka yang sekolah agama Islam di luar pondok kadang juga disebut santri, namun tetap saja kurang afdol. Terlebih ketika dilabelkan pada Sandiaga yang jelas-jelas tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah agama Islam. Bahkan SMA-nya di sekolah Kristen dan kuliahnya di Amerika Serikat.

Namun Sandiaga tetap santai menanggapi ledekan Yenny Wahid. "Biar dapat berkahnya," ujar Sandiaga memberikan alasan.

Gaya politik Sandiaga memang cukup menarik. Jika umumnya para politisi mudah baper, bahkan tidak sedikit yang emosional ketika dikritik, tidaklah demikian dengan Sandiaga Uno. Pasangan Prabowo Subianto ini tetap dengan gaya "wajah tanpa dosa". Sandiaga seperti sengaja memposisikan diri agar menjadi bahan olok-olokkan dan (mungkin) tanpa disadari, media serta warga internet lantas dengan sukarela menjadikan diri sebagai "papan reklamenya".

Lalu siapa yang akan didukung keluarga Gus Dur?  Belum bisa dipastikan karena baik Sinta Nuriyah maupun Yenny Wahid masih akan istikharah. Hanya saja keluarga Presiden RI ke-4 memastikan hanya memberikan dukungan kepada calon pemimpin yang memiliki pemikiran seperti Gus Dur.

Namun jika melihat konstelasi saat ini, kemungkin Sinta Nuriyah tidak akan mengorbankan keluarganya dengan mendukung salah satu pasangan. Beda halnya dengan Yenny yang karena garis politik suaminya, Dhohir Farisi yang merupakan kader Gerindra dan juga mengingat perseteruannya dengan Muhaimin, ada kecenderungan lebih mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga.

Salam @yb

Sebagian materi sudah diterbitkan di sini