Politik Pilihan

Buni Yani Divonis 1,5 Tahun, Ahok Wajib Bebas

14 November 2017   17:39 Diperbarui: 14 November 2017   20:26 1651 28 21
Buni Yani Divonis 1,5 Tahun, Ahok Wajib Bebas
Buni Yani. Sumber: Antara Foto/kompas.com

Majelis Hakim yang diketuai M Saptono menjatuhkan vonis selama 1 tahun 6 bulan penjara kepada terdakwa pelanggaran Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Buni Yani. Berbeda dengan Ahok, Buni Yani masih bisa bernafas lega karena tidak langsung ditahan.

Dalam amar putusan yang dibacakan di Gedung Arsip dan Perpusatakaan Kota Bandung, Buni Yani dinyatakan terbukti bersalah karena mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik. Unsur di atas menurut hakim telah terpenuhi karena Buni mengubah durasi video. Video asli pidato Gubernur DKI Jakarta (saat itu) Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu berdurasi 1 jam 48 menit 33 detik, sedangkan video yang diunggah Buni di akun Facebook-nya hanya 30 detik.Tindakan tersebut dianggap meresahkan umat beragama.

Kesimpulan hakim agak membingungkan karena saat menetapkannya sebagai tersangka, kepolisian menyatakan kesalahan Buni Yani bukan mem-posting video, tapi menuliskan tiga paragraf yang dijadikan teks (caption) video tersebut di mana bunyinya tidak sesuai dengan isi video. Buni Yani menghilangkan kata "pakai" sehingga memiliki makna berbeda.

Buni Yani pun kemudian mengakui dirinya salah dalam melakukan transkrip ucapan Ahok dalam video tersebut yang mestinya "dibohongi PAKAI surat Al Maidah 51" menjadi hanya "dibohongi surat Al Maidah 51". Tapi menurut Buni Yani dan juga bukti yang ada, dia tidak pernah mengedit video tersebut. Buni Yani hanya melakukan transkrip, mengunggahnya melalui akun facebook bersamaan dengan video yang diambil dari tempat lain dan sudah dipotong durasinya namun tanpa mengubah isinya. Artinya yang memotong video bukan Buni Yani. Hasil uji laboratorium forensik yang dilakukan Polda Metro Jaya menguatkan hal itu.

Dari Fakta-fakta tersebut maka Buni Yani hanya bersalah karena mentranskrip video tidak sesuai dengan isinya dan menyebarkan melalui media sosial tanpa izin. Namun hari ini majelis hakim justru memvonis Buni Yani yang dianggap bersalah karena - di antaranya, mengubah durasi video sehingga meresahkan umat Islam. Jika benar demikian, secara logika, maka Ahok tidak bersalah karena yang meresahkan umat Islam bukan pidato Ahok melainkan video yang sudah dipotong dan diunggah oleh Buni Yani.

Benarkah umat Islam resah karena postingan video Buni Yani, bukan pidato Ahok? Mari kita lihat lagi kasusnya seperti pernah ditulis di Kompasiana beberapa waktu lalu, agar bisa menilainya secara jernih.

Ucapan Ahok di Kepulauan Seribu saat memaparkan program kerjanya sambil mengutip Al Maidah 51, tidak berdiri sendiri. Setelah kasus tersebut ramai dibicarakan orang Ahok melakukan klarifikasi dengan mengatakan dirinya sekolah Islam 9 tahun dan surat Al Maidah Ayat 51 berisi tentang larangan Muslim untuk berteman dengan Yahudi dan Kristen, bukan larangan untuk memilih pemimpin. Ingat Ahok menafsirkan Al Maidah 51 sebagai larangan berteman, bukan larangan memilih pemimpin.

Dalam banyak tafsir, ada satu kata yang dimaknai berbeda yakni "auliya" atau "awliya". Ada yang menyebutnya sebagai "teman dekat", namun lebih banyak lagi yang mengartikannya sebagai "pemimpin". Menurut Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kemenag, Muchlis M Hanafi,, kata awliya di dalam Alquran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 - 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata awliy diterjemahkan dengan 'pemimpin'. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan 'teman setia'. Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan 'pelindung', dan pada QS. Al-Nisa/4: 89 diterjemahkan dengan 'teman-teman'.

Dari pemaparan itu, jelaslah, kata Awliya memiliki banyak makna sesuai konteksnya. Tidaklah salah jika ada ulama yang mengatakan awliya atau auliya adalah pemimpin manakala konteks berbicaranya terkait soal kepemimpinan. Tidaklah berbohong manakala ada ulama meminta agar umatnya memilih pemimpin yang sesuai dengan anjuran dalam surat Al Maidah 51.

Namun Ahok menyimpulkan kata "awliya" atau "auliya" dalam Al Maidah 51 sebagai larangan untuk berteman, bukan memilih pemimpin, sementara konteks pembicaraan saat itu tentang pemilihan kepala daerah. Mengapa Ahok mengatakan ulama berbohong- ketika menyerukan kepada umatnya agar jangan memilih pemimpin non Muslim sesuai Al Maidah 51? Mengapa Ahok berani menafsirkan kitab suci umat Muslim, sedangkan dirinya bukan Muslim? Mengapa Ahok berani mengatakan Al Maidah 51 dipakai untuk membohongi padahal arti auliya atau awliya di dalam surat tersebut bisa saja pemimpin, bisa saja teman karib? Sebagai analoginya: jika Badu suka apel, anggur dan jeruk, apakah bohong ketika ada yang mengatakan Badu suka anggur?

Dalam kasus ini Ahok telah menafsirkan kitab suci yang tidak diimaninya untuk kepentingan politik dan menuduh ulama yang mengatakan Al Maidah sebagai larangan Muslim untuk memilih pemimpin non Muslim, telah berbohong.

Itu yang dijadikan rujukan umat Muslim yang menuntut agar Ahok diadili. Bukan soal video penggalan yang diposting Buni Yani. Jika kelak putusan pengadilan di tingkat banding dan seterusnya tetap menyatakan Buni Yani bersalah karena telah memotong video Ahok sehingga menyebabkan keresahan umat Islam, maka konsekuensinya Ahok- yang telah diputus 2 tahun penjara, harus dibebaskan. 

Salam @yb

Artikel ini jugal dipublikasikan di sini.