Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Penulis - Karyawan Swasta

Moviegoer | Best in Specific Interest Kompasiana Awards 2019

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Selamat Jalan, "T'Challa"

29 Agustus 2020   13:37 Diperbarui: 29 Agustus 2020   15:35 1282
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mungkin tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa seorang Chadwick Boseman yang tumbuh besar di wilayah Anderson, South Carolina, akan menjadi salah satu sosok bahkan ikon dari pop culture baru di era modern ini.

Boseman bahkan terlahir dari keluarga biasa saja karena Ibunya "hanya" seorang perawat sedangkan ayahnya bekerja di pabrik tekstil. Namun satu hal yang pasti, ketertarikannya di dunia film memang sudah dimulainya sejak usia muda.

Lulusan Howard University dengan titel Bachelor of Fine Arts in Directing ini lantas semakin mempertajam kemampuan aktingnya melalui Digital Film Academy di kota New York. Memulai awal karirnya di Brooklyn, Boseman lantas mulai dilirik setelah berhasil mendapatkan peran kecil pada serial televisi populer seperti Third Watch, dan berlanjut ke Law & Order, CSI:NY, dan ER.

Namun perhatian dunia pada kemampuan aktingnya baru dimulai setelah dirinya bermain dalam film biopik 42(2013) sebagai Jackie Robinson, kemudian Draft Day(2014) dan Gods of Egypt(2016).

Sumber: idntimes.com
Sumber: idntimes.com
Setelahnya kita tahu bahwa Marvel kemudian memilihnya sebagai Raja Wakanda, T'Challa, yang pertama kali muncul pada film Captain America: Civil War(2016). Penampilan perdananya sebagai Black Panther di film itulah yang lantas membuat namanya meroket dan dikenal lebih luas oleh dunia.

Hingga kemudian dirinya mendapatkan porsi film solo sendiri yaitu Black Panther(2018), yang semakin menegaskan kemampuan akting dan wibawanya sebagai raja muda yang memiliki kewajiban menjaga perdamaian dunia. Di sini Boseman semakin menunjukkan pesonanya.

Sumber:imdb.com
Sumber:imdb.com
Tentu kita sepakat bahwa melalui film tersebut Chadwick Boseman berhasil mengajak banyak orang awam untuk ikut tertarik menyaksikan superhero berkulit hitam yang nama karakternya bahkan jarang didengar kecuali di lingkungan penggemar komik. Karena T'Challa bukanlah Bruce Wayne, Clark Kent, atau bahkan Peter Parker yang karakternya sudah begitu melekat di keseharian masyarakat.

Singkatnya Chadwick Boseman berhasil menghidupkan karakter Raja Wakanda yang sebelumnya hanya dikenal secara terbatas menjadi salah satu ikon pop culture baru yang dikenal luas di era modern ini. Wakanda dan T'Challa seakan menjadi pasangan baru yang sering disebutkan banyak orang layaknya Bruce Wayne dengan Gotham City dan Clark Kent dengan Metropolisnya.

Sumber: Health.detik.com
Sumber: Health.detik.com
Black Panther yang lantas memperoleh pendapatan sebesar 1,3 Milyar USD membuktikan bahwa era superhero berkulit hitam mulai bisa diterima masyarakat luas. Menjadi semacam titik balik 'perlawanan' terhadap rasisme di era modern.

Bukan berarti bahawa sebelum Black Panther tidak ada perlawanan terhadap rasisme melalui film. Hanya saja film yang memang didominasi kru dan pemain film berkulit hitam tersebut membuat tema dan kritikan sosial terkait rasisme terasa lebih smooth dan nge-pop.

Memang ada campur tangan produser, sutradara, bahkan penulis skenario yang membuat Black Panther jauh lebih hidup. Namun Chadwick Boseman dan pesona yang dibuatnya tentu saja menjadi simbol baru terkait harapan dalam sebuah film superhero. Bahwasanya kini siapapun bisa menjadi superhero dan cerita di dalamnya bisa begitu personal kepada siapapun di dunia ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun