Yonathan Christanto
Yonathan Christanto karyawan swasta

Movie Enthusiast Email: natanhan@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Venom", Pembuka Semesta Sony yang Seru dan Menghibur

4 Oktober 2018   09:41 Diperbarui: 4 Oktober 2018   11:16 2583 7 1
"Venom", Pembuka Semesta Sony yang Seru dan Menghibur
Venom (2018). (Gambar: Sony Pictures)

Sejak diperkenalkan ke publik pertama kali di tahun 1988 atau 30 tahun yang lalu, Venom tidak bisa dipungkiri berhasil mendapat tempat di hati setiap pembacanya.

Perkenalannya pada komik The Amazing Spider-Man #299, dengan segera menjadikannya karakter villain serta anti-hero yang dicintai pembacanya. 

Pada perkembangannya Venom juga dianggap sebagai gambaran "sisi gelap" dari Spider-Man berkat kemampuan dan penampilannya yang mirip dengan Spider-Man.

Untuk itulah, berbekal reputasi yang cukup tinggi dari karakter Venom sendiri, akhirnya Sony memberanikan diri untuk menggarap film solo Venom ini dengan serius. 

Apalagi, karakter Venom yang sempat ditampilkan pada film Spider-Man 3 garapan Sam Raimi sejatinya cukup mengecewakan, sehingga memperbaiki reputasi sang anti-hero ini rasanya memang harus dilakukan Sony

Syfy.com
Syfy.com
Namun bukan hanya bertujuan memperbaiki reputasi si anti-hero populer ini, Venom sejatinya merupakan pilot project dari semesta yang coba dibangun Sony untuk "melawan" kedigdayaan semesta Marvel atau yang biasa disebut dengan Marvel Cinematic Universe milik Marvel Studios.

Ya, Sony juga memiliki semestanya sendiri yang disebut dengan SUMC atau Sony Universe of Marvel Characters. Sony membangun semestanya sendiri berbekal hak cipta Spider-Man dan berbagai karakter pendukungnya yang berjumlah 600 lebih, yang di masa lalu sempat dibeli Sony kala Marvel mengalami kebangkrutan. 

Untuk itulah, Venom diharapkan dapat menjadi pembuka yang apik untuk memudahkan jalan bagi Sony mewujudkan berbagai karakter pendukung Spider-Man lainnya seperti Carnage, Black Cat, Silver Sable dan Morbius untuk tampil di layar lebar.

Namun, apakah Venom mampu menjawab ekspektasi tersebut? Akan saya coba bahas pada tulisan kali ini. Dan bagi yang belum menonton jangan khawatir, seperti biasa tidak akan ada spoiler berlebihan pada tulisan ini.

Sinopsis
Eddie Brock (Tom Hardy) adalah seorang jurnalis yang cukup populer berkat kemampuan investigasinya yang mendalam pada setiap berita yang diangkatnya.

Telegraph.co.uk
Telegraph.co.uk
Pada salah satu wawancaranya dengan seorang milyuner di bidang teknologi yaitu Dr. Carlton Drake (Riz Ahmed) yang dinilai terlalu kritis dan mengangkat isu negatif, pada akhirnya membuatnya terdepak dari pekerjaannya.

Bukan hanya Eddie, kekasihnya yaitu Anne Weying(Michelle Williams) pun ikut terdepak dari pekerjaannya sebagai pengacara karena dianggap ikut membocorkan informasi rahasia kepada Eddie. Kehidupan Eddie pun kemudian menjadi kacau balau setelahnya.

Pertemuannya dengan Dora Skirth (Jenny Slate) yang merupakan salah satu ilmuwan di lab Dr. Carlton, akhirnya membawa Eddie menemukan fakta yang mencengangkan terkait percobaan berbahaya yang dilakukan Dr. Carlton yang melibatkan manusia dengan alien yang disebut simbiot.

Eddie pun segera menyadari bahwa ada kekuatan luar biasa di dalam simbiot tersebut, yang ternyata juga berhasil masuk ke dalam tubuh Eddie.

Aksi Seru dan Lucu
Venom garapan sutradara film Zombieland, Ruben Fleischer ini menawarkan deretan action sequence yang cukup mengagumkan. Cgi juga digarap dengan sangat baik, sehingga mampu menghasilkan gambaran Venom yang besar, kuat dan menyeramkan.

Screencrush.com
Screencrush.com
Dengan rating PG-13, Venom sejatinya bisa dinikmati berbagai kalangan. Meskipun tone film ini tergolong gelap, namun rating PG-13 di satu sisi menyebabkan film ini juga tidak terlalu menampilkan kekerasan yang mendalam. Film ini cukup aman dikonsumsi anak-anak sekalipun, meskipun tetap harus didampingi orang tua.

Unsur humor di film ini juga ditampilkan dengan porsi yang cukup, sehingga punchline nya menurut saya cukup tepat sasaran dan tidak maksa. Unsur humor menjadi semacam penyegar ditengah film yang cenderung gelap.

Tom Hardy yang Berkharisma
Tidak bisa dipungkiri, Tom Hardy merupakan magnet terbesar film ini. 

Memerankan karakter komik untuk kedua kalinya setelah karakter Bane di The Dark Knight Rises, Tom mampu menampilkan hubungan yang biasa disebut dengan love-hate relationship antara Eddie Brock dan Venom, sehingga benar-benar menyajikan hubungan yang menyegarkan sekaligus kocak.

slashfilm.com
slashfilm.com
Kharismanya jelas berhasil menghidupkan karakter Eddie Brock yang bengal, urakan dan ambisius disaat yang bersamaan. Lupakan Eddie Brock nya Topher Grace di Spider-Man 3, Tom Hardy lah Eddie Brock sebenarnya.

Cerita yang Berbeda dari Komik
Bagi yang sudah pernah membaca komiknya, siap-siap kecewa dengan film ini. Ya, Venom menyajikan origin story yang berbeda dengan apa yang disampaikan dalam komiknya. 

Karena tidak bisa dipungkiri, kehadiran Venom sejatinya berkaitan erat dengan Spider-Man, sementara di film ini karakter Spider-Man sama sekali tidak ditampilkan atau minimal disinggung kehadirannya.

ign.com
ign.com
Para penulis film ini jelas sangat bekerja keras menyajikan cerita yang berbeda agar bisa disambungkan dengan berbagai film SUMC lainnya di masa depan dan diterima para fans, meskipun hasilnya sebenarnya kurang maksimal. 

Saya rasa, ini merupakan salah satu kekurangan film ini selain pengembangan karakter di sepanjang film yang juga tidak begitu maksimal.

Namun, penggambaran Venom dan penggunaan kata ganti we atau kami pada saat dialog kala Eddie Brock berubah menjadi Venom, sudah sesuai dengan apa yang ditampilkan pada komiknya. Cukup otentik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2