Budaya

Puasa, Perdamaian dan Solidaritas

21 Mei 2018   17:58 Diperbarui: 21 Mei 2018   18:07 290 1 0
Puasa, Perdamaian dan Solidaritas
Ilustrasi: youthmanual.com

Kondisi dunia di era delapan puluhan dengan saat ini amat berbeda, apalagi  jika kita bandingkan dengan awal tahun 1800. Sepanjang itu, dunia sudah mengalami banyak hal ; revolusi industry (1750 -- 1850) di Inggris Raya yang kemudian melebar ke seluruh dunia pada tahun 1900 an.

Revolusi Industri ditandai dengan banyaknya penemuan oleh ilmuwan semisal listrik, manufaktur, transportasi dll. Ini yang jadi pemicu perubahan banyak hal. Listrik ditemukan , aneka pabrik berdiri, sumber daya alam dimanfaatkan dengan baik untuk menghasilkan aneka product yang membantu umat manusia. 

Jika dulu sawah diolah dengan memanfaatkan tenaga manusia dan hewan , di era itu traktor dan beberapa alat pertanian digunakan untuk membantu dan mendapatkan hasil olahan yang lebih maksimal.

Begitu juga ilmu pengetahuan sangat berkembang dengan baik. Ilmu fisika, kimia, nuklir, kedokteran, farmasi , ilmu angkasa luar, geologi. Begitu juga ilmu pengetahuan sosial, sastra, dan budaya. 

Perkembangan itu juga membantu banyak hal untuk kemajuan umat manusia. Kedokteran misalnya bisa menemukan sel punca yang bisa mengatasi banyak hal menyangkut penyakit yang diderita umat manusia.

Beberapa tahun ini kita mengalami revolusi digital dengan perubahan mendasar pada informasi. Revolusi digital ini mengubah peralatan-peralatan telekomunikasi, komunikasi dan sejenisnya, dari analog ke digital. Dengan digital banyak hal yang berubah, termasuk peralatan dan mindset kita terhadap komunikasi dan informasi itu.

Melalui revolusi ini, penyebaran informasi kini adalah melalui internet. Begitu mudah orang berkabar, bertemu dan berbincang tanpa kesatuan fisik. Hal itu dipermudah lagi dengan ditemukannya jejaring sosial media. Ini adalah tempat untuk mempermudah komunikasi, penyebaran informasi dan memaksimalkan relasi.

Hanya saja revolusi digital dan penemuan sosial media ternyata tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik terhadap revolusi digital itu. Pada saat ini informasi memang bisa diproduksi dan disebarkan secara mandiri sehingga tak ada filter dari pihak ketiga sehingga informasi bisa bergerak bebas tanpa kendali siapapun.

Di sinilah letak persoalannya, karena sosial media tak jarang melahirkan dampak negative bagi para pengguna dan masyarakat luas, selain hal positif yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Ujaran kebencian, permusuhan, adu domba, dan lain sebagainya. Kadang hal-hal yang terjadi di media sosial atau internet menjadi pemicu pertentangan di dunia nyata. Ini terjadi di beberapa kejadian di tanah air semisal menyangkut politik dll.

Padahal jika kita telisik lebih lanjut, media sosial amat berguna jika kita menggunakannya ecara positif, seperti meningkatkan solidaritas bagi sesama manusia tanpa melihat perbedaan-perbedaan yang menyertainya. Keragaman Indonesia bisa dimanfaatkan dengan lebih baik lagi jika kita bisa membangun solidaritas dan mewujudkan hal-hal baik dan berguna bagi orang lain.

Seperti gerakan untuk membela dan membantu kaum lemah dalam hal ekonomi dan akses teknologi. Perlindungan terhadap kekerasan seperti kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di seluruh Indonesia dan dunia. Teknolog dan media sosial juga mempertemukan kaum pedagang dan pembeli tanpa adanya calo atau pengijon yang biasa membeli product petani secara murah.

Jika kita bisa memanfaatkan teknologi dengan rasa positif maka kita bisa mendapatkan hal yang berguna baik bagi kita maupun bagi banyak pihak. Di masa Ramadan ini marilah kita bangun rasa positf itu dengan solidaritas untuk semua pihak.