Mohon tunggu...
Yolis Djami
Yolis Djami Mohon Tunggu... Foto pribadi

Tilong, Kupang.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Opa Camplong

13 Juli 2020   06:45 Diperbarui: 13 Juli 2020   06:46 20 4 1 Mohon Tunggu...

Selagi aku masih kecil -- sekitar tiga hingga empat tahun, kami sering dikunjungi oleh Opa Camplong. Opa Camplong dipanggil Tuhan ketika aku masih di rantau. Masih menyelesaikan pendidikanku. Entah itu di tahun berapa.

Kami memanggilnya demikian karena memang ia berasal dari sana. Tempat tinggalnya di daerah Camplong. Jarak tempat tinggal kami dan tempat tinggal Opa kira-kira dua puluhan kilometer. Tempatnya berada di sebelah utara tempat kami.

Camplong adalah sebuah kawasan di kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya dari Kupang, ibukota provinsi kurang lebih empat puluh lima kilometer. Ia berada di atas pegunungan yang membuatnya sangat sejuk.

Kalau pembaca suatu ketika berada di Kupang Anda bisa berkunjung ke tempat wisata di sana. Ada kolam renang alam yang masih asri. Ia berada di antara beberapa pohon beringin yang usianya sudah ratusan tahun. Sangat rindang.

Di sana juga ada tempat wisata yang menantang. Gunung Fatuleu. Pembaca akan disuguhkan dengan pemandangan keren dari ketinggian. Anda seolah sedang bergelantung di langit bila mencapai puncaknya.

Kembali ke pokok cerita. Kami, aku dan semua kerabat memanggilnya Opa Camplong padahal ia mempunyai nama yang keren. Christofel Loemnanu. Opa Camplong adalah adik kandung dari papanya mamaku.

Opa Camplong berprofesi sebagai mantri pertanian. Tapi aku baru tahu setelah besar dan telah paham. Juga karena diceritakan oleh beberapa kerabat yang mengetahuinya. Karenanya di sekitar sekeliling rumah Opa Camplong sangat asri dengan berbagai jenis pohon buah yang menggiurkan.

Suasananya nyaman dengan ayoman dedaunan yang merindang. Juga ada rasa sejuk dari semilir angin sepoi yang amboi. Bayangan rimbun pepohonan dan belaian sejuknya angin membuat orang terbuai tidur terlelap dalam sekejap.

Kalau Opa Camplong ada di rumah aku pasti merengek padanya minta didongengi. Ia akan mendongeng sembari berbaring di tempat tidur. Atau di mana saja, asal bisa untuk membaringkan tubuh/badan. Ia jarang menolak. Bahkan tak pernah tidak memenuhi permintaanku.

Aku tak ingat akan isi ceritanya. Yang aku masih ingat adalah ia bercerita. Ia sedang menyampaikan sesuatu. Bila ia sedang bercerita, sekalipun aku baru bangun tidur pasti tertidur kembali. Adegan dalam ceritanya sungguh seru.

Yang membuatku tidur dan tertidur bukan isi ceritanya. Tetapi intonasi suaranya saat bercerita dan permainan jari-jemarinya. Sama seperti seorang dalang yang sedang memainkan wayang-wayangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x