Mohon tunggu...
Yolis Djami
Yolis Djami Mohon Tunggu... Foto pribadi

Tilong, Kupang.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Beriring

3 Juli 2020   09:29 Diperbarui: 3 Juli 2020   09:26 14 0 0 Mohon Tunggu...

Beriring adalah kebiasaan orang Timor. Terutama kami yang hidup kampung pedalaman. Satu kebiasaan yang -- mungkin -- tak dipunyai teman-teman dari suku lain di se antero nusantara ini. Sekali lagi, kebiasaan itu adalah berjalan beriringan.

Dari mana dan ke mana saja selalu beriring. Dari rumah ke tempat-tempat ibadah dan sebaliknya. Mau kondangan dan sepulangnya. Menuju ke tempat keramaian apapun ataupun kembalinya. Semua dilakoni dengan berjalan beriring.

Beriring artinya setiap individu berada dalam satu barisan panjang. Satu banjar yang mengekor ke belakang. Beriring dalam suka maupun duka. Beriring saat senang pun susah. Mereka selalu berjalan beriring dalam satu iringan panjang.

Dalam beriringan itu, masing-masing membawa dirinya dalam diam membisu. Kecuali ada sesuatu yang mendesak untuk diomong. Maka omongannya akan disampaikan secara sekedar. Ala kadar. Yaitu dibicarakan tanpa tatap muka. Mereka bercakap tanpa kontak mata.

Banjar yang memanjang itu bag kawanan semut. Semut-semut yang sedang meniti melewati seutas benang panjang yang menggantung melintang. Mereka  mengarahkan pandangnya hanya ke depan. Kondisi ini nyata bila dipandang dari ketinggian.

Beriring berbanjar panjang mengekor tanpa kontak itu, paling tidak, memiliki dua tata susila. Ia menunjukkan dua karakter keteladanan yang patut ditiru. Dapat diteladani oleh siapa pun. Dari daerah dan golongan mana pun.

Pertama, ada nilai kesopanan (sopan santun) di jalan raya. Tidak menimbulkan kegaduhan yang meresahkan masyarakat setempat yang dilalui.  Yang kedua, tertib. Tidak mengganggu lalu lintas yang berlalu-lalang. Beriringan dalam ketenangan.

Aku mempunya pengalaman yang mengharu biru. Pengalaman yang memilukan. Pengalaman yang menyayat kalbu. Sebuah pengalaman tentang berjalan beriringan. Yaitu beriring dalam diam. Dalam sepi. Dalam kelu. Dalam tenang.

Tapi, maukah teman meluangkan waktu sejenak? Maukah teman menyendengkan telinga dan mendengarnya? Baiklah. Kalau begitu, sebelumnya, aku harus sampaikan ribuan terima kasih. Terima kasih yang tulus atas kesediaanmu mengikuti dan mendengarnya.

Begini!

Aduh kawan, belum juga mulai aku sudah merasa takut. Aku takut tak mampu menuntaskannya. Oleh karena itu, biar kutarik napas panjang sebentar. Biar kunetralkan emosiku dulu, ya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN