Mohon tunggu...
Yohanes Kafiar
Yohanes Kafiar Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Pemerhati Gejolak Sosial

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dihantui Stadion Kanjuruhan

5 Oktober 2022   02:33 Diperbarui: 5 Oktober 2022   02:38 174 12 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bak mendapat angin segar,Pak Mamat dikabari tetangganya bahwa besok sore akan digelar pertandingan sepak bola Liga 1 antara Arema Malang melawan Persebaya Surabaya. Betapa senang hatinya, karena inilah kesempatan emas untuk menjajakan dagangan khas Malang, Keripik Ceker.

Sudah hampir dua puluh tahun Pak Mamat  melakoni profesinya sebagai pedagang keliling, keripik ceker. Ia paham betul bahwa jika  digelar kegiatan di suatu arena maka di situlah dagangnya akan laris manis. Ia seakan tak sabar menunggu esok. 

Dengan sepeda onthelnya ia bergegas menuju pasar. Dibelikannya bahan baku pembuat keripik cekernya itu dengan volume yang agak lebih dari biasanya. Ia optimis bahwa dagangannya pasti habis terjual. Keringat yang mengucur di pundaknya tak digubris, ia terus mengayuh dan mengayuh onthel, kendaraan kesayangannya.

Seusai solat subuh, dengan dibantu sang istri, Pak Mamat mulai mengolah barang dagangannya itu. Siti, putri tunggal mereka mohon pamit dan berangkat ke sekolah. Ia berada dibangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berapa jam telah berlalu. Bahan baku pun sudah menjelma menjadi keripik ceker. Pak Mamat tak lupa memberi variasi cita rasa, rasa pedas, rasa manis, dan rasa daun bawang. 

"Selamat siang ayah, ibu,"Siti menyapa di depan pintu. Ia baru pulang sekolah.

Setelah dikemas dengan rapi, pak Mamat membersihkan tubuh, kemudian pamitan. "Hati-hati ya pak!" kata istrinya. Ia menatap dalam-dalam bola mata istrinya, seperti ada sesuatu yang hendak dikatakan. "Entar kalo dagangan ayah laris, ayah bakal belikan  HP untukmu, Siti."

Horeeee horeeee. Teriak Siti kegirangan. Esok aku tak lagi numpang Hp sama teman-teman, tuk ngerjain tugas sekolah,"Siti membatin.

Pak Mamat meletakkan daganganya ke atas sepeda onthel. Sekali lagi ia menoleh pada istri dan anaknya, melambaikan tangan kemudian mengayuh sepada. Di tengah terik mentari,  ia terus mengayuh, kendaraan roda duanya. Pak Mamat turut berbaris bersama para suporter, mengantri selembar tiket ekonomi. Kripik ceker! Kripik ceker! Kripik ceker!,"suara khas Pak Mamat menggema  diantara ribuan pendukung "Singo Edan." 

Kalau bisa dihitung, mungkin teriakannya sudah ratusan, atau ribuan kali, setara dengan jumlah penonton di stadion. Sementara di rumah, Siti gelisah. Ia tak sabar menunggu hadiah hp yang dijanjikan ayahnya. 

Waktu sudah menunjukan pukul 23.00. Ayah belum pulang. Siti dan ibunya amat gelisah. Seandainya mereka punya TV, tentu Siti dan ibunya akan "memantau" pertandingan dari rumah. Namun, apa daya, keadaan ekonomi tak mengizinkannya. "Kenapa jam segini ayah belum pulang,"Ibu bertanya pada dirinya sendiri. Siti, coba kamu pergi ke rumah Mang jupri, tadi ibu lihat mereka lagi nontong bareng di sana. Kamu tanya, apakah pertandingan masih berlangsung?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan