Mohon tunggu...
Yogaswara F. Buwana
Yogaswara F. Buwana Mohon Tunggu... Sarjana pengangguran

Sarjana pengangguran

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Antara Sang Kakek dan Sang Cucu, Antara Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Negeri Malang (UM)

28 Desember 2020   21:40 Diperbarui: 28 Desember 2020   21:51 392 0 0 Mohon Tunggu...

Waduh, judul yang tepat memang membingungkan. Tapi ini cerita berdasarkan pengalaman penulis yang alumni UM kemudian lanjut ke UI. Ya dua kampus yang jelas berbeda agak jauh secara peringkat walau sama-sama berada di klaster 1 lima belas kampus terbaik se-Indonesia versi Ditjen Dikti 2020. UI menduduki peringkat 2 dengan skor 3.414 sementara UM menduduki peringkat 15 dengan skor 2.747. Meskipun demikian kedua kampus ini sama-sama mencantumkan makara di lambangnya serta kedua kampus ini memiliki ikatan historis.

Bicara soal popularitas, UI dikenal dengan nama kampus kuning. Mulai dari lambang UI alias makara UI, almamater hingga bus dan sepeda kampus berwarna kuning. Mungkin memang julukan kampus kuning berasal dari warna makara tersebut atau entahlah. Semua orang Indonesia pasti mengenal UI sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia apalagi berada di ibukota negara, meskipun kampus utamanya berada di Kota Depok (Jabar). Tempat paling iconic di UI adalah Danau Kenanga yang mana di sekitarnya ada gedung PAU (Pusat Administrasi Universitas Indonesia alias rektorat UI), Perpustakaan UI, Balairung, dan Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI). Banyak teman-teman penulis non UI yang berkunjung ke UI selalu meminta difotokan di depan Danau Kenanga, pokok katanya rektorat dan danaunya kelihatan jelas. Yah, kalau penulis sendiri walau hampir dua tahun menjadi mahasiswa S2 UI, namun belum pernah sekalipun berfoto di depan Danau Kenanga dan gedung rektorat UI. Karena penulis orang sejarah ya penulis lebih suka bangunan kampus UI Salemba, bekas Gedung sekolah kedokteran zaman Hindia-Belanda, STOVIA. 

Nah fasilitas UI cukup lengkap dengan kampus yang hijau dan luas, menurut dosen penulis, kampus UI ini mengikuti tata kota Majapahit yang dekat dengan alam. Hal ini sekaligus menjadikan UI sebagai kampus paling hijau di Indonesia. Fasilitas UI cukup lengkap, bisa dilihat dengan kampusnya yang luas kita bisa menaiki bus kampus yang berwarna kuning/ bus kuning (Bikun) secara gratis dan bebas turun di setiap halte yang tersedia. Ada pula sepeda kuning yang disediakan, tapi khusus civitas academica UI dan jalur khusus pula.  Tapi masalahnya sering dijumpai sepeda kuning berserakan pada sore hari sebelum dikembalikan ke shelter. Satu lagi yang tidak bisa dilupakan adalah fasilitas stasiun KRL yakni stasiun UI yang memungkinkan setiap orang dari UI mudah untuk melakukan mobilitas kemana-mana sepanjang rute KRL.

Nah Universitas Negeri Malang alias UM atau yang dulu dikenal dengan nama IKIP Malang sebelum tahun 1963 merupakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Airlangga (FKIP UNAIR). Dan pada tahun 1948 UNAIR adalah cabang Universitas Indonesia. Disini ikatan historis antara UI dan UM. Jadi bisa dikatakan UM adalah cucu dari UI. Mungkin juga ini alasan kenapa kedua kampus memiliki Makara. Berbeda dari sang kakek yang berada di ibukota negara, UM berada di kota Malang yang sering disebut sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur. Secara popularitas yah seperti yang diketahui UM jelas kalah jauh dari UI. Berapa banyak orang yang tahu sang cucu UI ini ?. Tidak banyak pastinya, bahkan di Jawa Timur sendiri. Ketika disebut UM pasti merujuknya pasti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Memang nasib kalah dari IKIP Makassar yang lebih dulu menggunakan singkatan UNM (Universitas Negeri Makassar). Beda dengan UI yang mengandalkan warna kuningnya, UM malah mengandalkan mottonya "The Learning University". Mengenai motto ini, penulis ingat waktu ospek 6 tahun lalu seorang pemateri mengatakan "Jangan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ya sebut saja The Learning University tanpa diterjemahkan". Mungkin ini kesakralan motto UM, kalau sang kakek sakral di warna maka sang cucu sakral di motto. Sang kakek pun hampir kurang mempopulerkan mottonya "Veritas, Probitas, Lustitia". Sementara UM masih kebingungan mempopulerkan warnanya yang khas (biru). Ya jelas UM tidak bisa mengklaim diri sebagai kampus biru, karena julukan itu telah dimiliki UGM. Walaupun tahun 2018 lalu UM sempat heboh dengan pergantian warna almamater dari biru gelap (navy blue) ke warna biru yang lebih cerah. Mungkin saja UM menyesuaikan diri dengan warna biru di lambangnya. 

Mengikuti sang kakek UI, sang cucu UM juga memiliki ciri khas biru lain yakni sepeda biru tapi tersimpan di rektorat, entah kenapa tidak disediakan secara bebas kepada civitas akademika UM (sepanjang penulis ketahui dulu). Mungkin karena UM tidak seluas UI. Jadi tidak perlulah menyediakan sepeda biru apalagi membuat jalur sepeda yang malah membuat kampus UM semakin sempit, nanti malah bisa diprotes oleh mahasiswa pejalan kaki dan pemotor. UM juga punya bus biru tapi khusus perjalanan ke luar kampus alias bukan bus keliling seperti Bikun UI, bisa dibayangkan kalau UM mengembangkan bus keliling dalam kampus seperti UI, bisa tambah macet UM plus sekali lagi kampusnya tidak begitu luas apabila dibandingkan dengan UI, kecuali kalau memang mau mengembangkan bus keliling dari kampus I (Jalan Semarang) sampai kampus III (Blitar) ya terserah. Lalu kalau sang kakek punya Stasiun KRL, sang cucu tidak punya yang demikian karena di Malang tidak ada KRL. Tapi setiap sore dari gerbang veteran berbeloklah sedikit ke kiri maka banyak angkot berwarna biru. Namun jelas ini bukan angkotnya UM, cuma kebetulan saja angkot di Malang berwarna biru yang pas dengan warna UM.

Soal icon untuk foto, pasca peresmian Graha Rektorat UM yang baru di Jalan Semarang tanggal 18 Oktober 2017, maka banyak yang berfoto di depan Graha Rektorat UM, atau bunderan di depan Gerbang Semarang (penulis belum tahu namanya apa), serta juga di bangunan kebanggaan UM yakni Graha Cakrawala. Ya itulah yang dimiliki UM. Saat ini UM juga sedang berjuang keras untuk mendirikan Fakultas Kedokteran yang akan semakin melengkapi perstige dari UM sebagai salah satu kampus besar di Kota Malang karena Universitas Brawijaya (UB), UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah punya Fakultas Kedokteran semua, tinggal UM kampus besar di Kota Malang yang belum mempunyai Fakultas Kedokteran. Semoga cepat terlaksana, karena sebagai alumni UM penulis jelas bangga kalau UM mempunyai Fakultas Kedokteran. Ya itulah mungkin beda cerita antara sang kakek (UI) dan sang cucu (UM). 

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x