Mohon tunggu...
X
X Mohon Tunggu... Y

Z

Selanjutnya

Tutup

Diary

Diari Kematian

23 Januari 2021   08:00 Diperbarui: 23 Januari 2021   08:00 77 26 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Diari Kematian
Canva (dokpri)

Diari Kematian

Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kita kembali.

Pamanku tercinta baru saja wafat pada malam Jumat, 21 Januari 2021. Namanya, Sunardi bin Rebin. Dari beliau aku belajar menjadi manusia yang sabar dan toleran.

Ayahku tercinta pun telah wafat di hari Jumat, 1 April 2016. Beliau adalah salah satu penyuluh pertanian terbaik di Indonesia yang pernah di undang ke istana negara untuk bertemu presiden tahun 2007. Hanya amal dan doa yang menyertainya di alam kubur.

Idola lainnya, Hamid Jabbar, penyair Indonesia yang wafat saat membaca puisi di UIN Jakarta. Sebelum wafat beliau pernah mengucapkan kalimat seperti ini. "Cita-citaku, kalau tidak mati di depan Ka'bah di Mekkah, ya mati di atas panggung."

Ya, diari.
Hari ini aku belajar tentang kematian dari tiga sosok itu. Mati bukanlah akhir dari perjalanan. Namun, sebenarnya adalah awal dari kehidupan yang abadi.

Ya, diari.
Aku ingat puisi berjudul "Aroma Maut". Tentang jarak hidup dan mati yang hanya satu denyut. Bila denyut telah lepas, maka tiada lagi napas.

(Sabtu, 23-1-2021)

Aku di sini, diari.
Memandangmu dari kesunyian.
Gelap sekali duniaku yang bergerak.

Kau, tahu?
Aku ingin hidup bahagia dan mati masuk surga.
Ah, keinginan yang klise.

Hidup bahagia itu yang seperti apa?
Harta melimpah?
Aku belum punya.
Takhta digenggam?
Aku rakyat jelata.

Kata pujangga hidup bahagia itu bukan banyaknya harta dan tingginya takhta. Kata pemuka agama, hidup bahagia berarti melakukan kebaikan kepada semua makhluk dan beribadah kepada Tuhan.

Buat apa harta melimpah bila tetangga, keluarga, dan saudara kemanusiaannya masih mengelus perut menahan lapar?

Buat apa takhta yang tinggi bila rakyatnya menangis melihat kebijakan yang jauh dari kata adil?

Yang kaya semakin kaya.
Yang berkuasa semakin berkuasa.

Hartanya disimpan untuk keturunannya saja.
Kekuasaannya diwariskan kepada anaknya.

Hahaha.
Lucunya dunia.

Akhirnya, hidup di dunia ini menjadi panggung sandiwara saja.

Namun, jangan bersedih karena Tuhan masih menyisakan 1% pemegang takhta yang berhati mulia.

Namun, jangan bersedih karena Tuhan masih menghidupkan 24% pemilik harta yang dermawan. Apakah kita termasuk?

Semoga.

MLG, 23-1-2021
YGPRSTY

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x