Mohon tunggu...
Yoen Aulina Casym
Yoen Aulina Casym Mohon Tunggu...

Dokter, Magister Administrasi Rumah Sakit lulusan FKM UI, Konsultan Manajemen Rumah Sakit, menyukai dunia kepenulisan karena hobby.\r\n\r\n"aku bukan penulis, aku hanya seorang yang suka menyusun kata ke dalam baris"

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Apa yang Harus Kita Lakukan jika Orang yang Kita Cintai Menderita Kanker?

16 Juni 2018   01:02 Diperbarui: 16 Juni 2018   01:32 2339 0 0 Mohon Tunggu...

Aku enggak tau bagaimana perasaan Retta yang sesungguhnya ketika mendapati dirinya kemungkinan besar mengidap kanker ovarium. Didepan kami dia menunjukkan reaksi seperti menerima semua ini dengan jiwa besar, tidak nampak kecemasan, kesedihan, takut ataupun marah, tapi aku tau persis apa yang dirasakannya pasti sama persis dengan apa yang kakak-kakaknya rasakan, bahkan mungkin lebih. 

Terus terang, aku dan adikku yang lain tidak siap mendengar penjelasan yang disampaikan oleh dokter yang menangani Retta, sedih dan takut kehilangan begitu menghantui kami, apalagi beberapa bulan sebelumnya kakak kami baru saja meninggal dunia, masih terasa ada bagian yang hilang yang menyisakan rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan.

"udah pasti kanker ya Dokter?" begitu pertanyaan yang secara to the point diajukan pada dokter yang menangani kasusnya.

Dokter Nasdaldy menjelaskan bahwa "untuk memastikan apakah benjolan yang ada di perut bagian bawah itu adalah kanker atau bukan, harus melalui pemeriksaan jaringan (patologi anatomi) terlebih dulu, namun dari hasil pemeriksaan yang ada, kemungkinan besar benjolan tersebut adalah kanker", begitu penjelasan yang diberikan oleh dokter dengan sangat hati-hati.

Hasil pemeriksaan yang dimaksud adalah hasil pemeriksaan penanda tumor Ca 125, HE4 dan ROMA (Risk of Ovarian Malignancy Algorithm). Hasil Pemeriksaan Penanda Tumor Retta menunjukkan bahwa Nilai Ca 125: 77,7 U/ml, nilai tersebut lebih tinggi dari nilai rujukan yang < 35;  Nilai HE4 lebih tinggi dari angka rujukannya  (Retta 161,7, rujukannya < 70) dan ROMA: 59,3%.

Retta memang menginginkan jawaban yang tidak  ditutup-tutupi, dia butuh  informasi yang jujur dan sebenar-benarnya. 

Di ruang konsultasi, dokter menjelaskan secara detail tentang rencana operasi yang akan dilakukan termasuk kemungkinan perlunya pengangkatan rahim dan lain-lain tergantung dari apa yang ditemukan pada saat operasi. 

Adikku menghendaki agar operasi secepatnya dilakukan, oleh karena itu setelah konsultasi kami langsung mengurus administrasi ke RS Hermina Jatinegara dimana operasi akan dilakukan. Dokter meminta Retta untuk masuk sehari sebelum jadwal operasi guna melakukan pemeriksaan-pemeriksaan untuk persiapan operasi.

Aku berusaha mengetahui bagaimana perasaan dan kesiapannya, Retta menjawab : "Insya Allah Etta siap menjalani semua yang direkomendasikan dokter, dan siap dengan hasil yang terberat yang harus Etta terima" jawabnya ringan dan pada waktu itu aku menguatkannya dengan ucapan yang entah pas atau enggak: "OK, kita hadapi ini sama-sama ya" kataku, sambil tentu saja berupaya untuk  jangan sampai justru aku yang menangis didepannya.

Pada hari yang telah dijadwalkan, Retta masuk ke ruang persiapan operasi. Hanya aku dan Disa yang mengantarnya ke ruang tersebut, adik-adikku yang lain memilih menunggu di kamar karena khawatir tidak mampu membendung air mata dan menyembunyikan cemas dan rasa sedih padahal pada hari-hari sebelumnya kami sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang harus kami terima.

"kita harus kuat, gak boleh keliatan sedih di depan Retta" begitu kesepakatan yang kami buat. Retta sendiri justru lebih tegar dan menyampaikan padaku bahwa dia menjadi merasa sedih karena melihat siblingnya sedih. Rupanya meskipun kami bersikap seperti biasa-biasa aja, dia bisa menangkap perasaan kami yang sebenarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x