Mohon tunggu...
Yeremia Budi Cristian
Yeremia Budi Cristian Mohon Tunggu... Mahasiswa

Ada Jalan Keluar Bagi Orang Yang Mau Berusaha

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Pancasila dalam Lika-liku Multikulturalisme di Indonesia

15 Mei 2021   08:35 Diperbarui: 15 Mei 2021   09:47 152 2 0 Mohon Tunggu...

Indonesia muncul sebagai negara besar dan dikenal sejak dahulu kala sebagai bangsa majemuk karena  berjuta keragaman yang dimilikinya. Keragaman tersebut meliputi keragaman etnis, suku, bahasa, agama, sosial, budaya. Hingga aspirasi politik. Keragaman Indonesia menjadi satu kekayaan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Bahkan nilainya amat sangat mahal sehingga sudah sepatutnya kita bangga menjadi bagian dari bangsa Ini. Keragaman yang ada mendorong Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Semangat persatuan dan kesatuan untuk mempertahankankan keharmonisan membuat kita menjadi bangsa yang kuat karena kita saling menjaga dan menghargai setiap perbedaan. 

Namun Dalam Menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat seperti saat ini, bukanlah hal yang mudah. Kemerdekaan ini bukanlah suatu proses sekali jalan, melainkan terjadi karena serangkaian diskusi panjang untuk mencari kemufakatan bersama. Hal tersebut dilakukan demi mewujudkan indonesia untuk kepentingan bersama, sebab Indonesia telah melewati banyak sekali tantangan untuk menyatukan berbagai perbedaan pendapat dari segala keragamannya.

Ketika para pemimpin dan pendiri bangsa dilanda dengan kebingungan-kebingungan akan jati diri bangsa dan negaranya. Mereka menciptakan kontroversi yang rumit sehingga menghambat proses kemerdekaan. Mereka melupakan betapa untuk merdeka itu lebih penting daripada memikirkan hal-hal yang kompleks tersebut. Oleh Soekarno semangat untuk merdeka itu digelorakan kembali. Pada masa itu, Pancasila disampaikan oleh Soekarno menjadi philosofische Gronslag (dasar,filsafat, atau jiwa) dari Indonesia yang merdeka. Argumentasi ini diawali dengan suatu pertanyaan, “Apakah Weltanschauung (dasar dan filsafat hidup) kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia merdeka?” 

Dasar-dasar yang Soekarno sebutkan adalah kebangsaan Indonesia, internasionalisme (kemanusiaan), mufakat/permusyawaratan, kesejahteraan (keadilan sosial), dan Ketuhanan. Kelima prinsip itulah yang dinamakan Pancasila, dan diusulkannya sebagai Weltanschauung negara Indonesia merdeka. Tidak berhenti sampai disitu, Pancasila mengalami menyempitan  menjadi Trisila, didalamnya memuat isi sebagai berikut: socio-nationalism (perasan dari kebangsaandan kemanusiaan), socio-democratie (perasan dari keadilan sosial dankerakyatan), dan Ketuhanan. Kemudian dari Trisila Soekarno menyempitkan kembali dasar negara sebagai Ekasila, yaitu “gotong-royong.” 

Dari sini kita paham Adanya  “penyederhanaan” Pancasila ke dalam Ekasila menekankankan bahwa kelima sila berasal dari prinsip yang terkandung di dalam satu perkataan Indonesia yang tulen, yakni gotong-royong. 

Disini Soekarno ingin mewujudkan sebuah negara multikultur, dimana semangat bergotong-royong menjadi kunci penting yang harus diilhami oleh setiap masyarakat yang tinggal di dalamnya. Sehingga tidak ada lagi klaim-klaim golongan, pribadi, dan kelompok apapun yang mengesampingkan kepentingan bersama. Semua berdasarkan kepentingan bersama.  Artinya, tidak boleh ada klaim mayoritas atas minoritas! Tidak boleh ada klaim yang dipandang atas kekayaan yang dimiliki!  Tidak boleh ada lagi klaim atas etnis! Adanya klaim-klaim itu merupakan bentuk dominasi dan penjajahan baru yang membuat perjuang pahlawan bangsa kita menjadi sia-sia.

Soekarno mau mengatakan bahwa Itulah jati diri bangsa kita!. Indonesia buat semua. Kita  yang mendirikan  kita yang  harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan VanEck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!

Lebih dari itu, dengan mengatas namakan gotong-royong sebagai prinsip dasar negara Indonesia Soekarno hendak mengatakan bahwa Indonesia didirikan untuk menjamin kepentingan semua warga Indonesia, apapun agamanya, golongannya, sukunya, dan keadaan ekonominya.

Itulah Pancasila yang digali oleh para pendahulu bangsa ini. Digali dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang sudah lama ada di urat nadi kehidupan Bangsa Indonesia.

Tetapi  akhir-akhir ini pemahaman akan multikulturalisme mulai keluar dari hakikatnya. Konsep negara multikultural sudah tidak diindahkan lagi oleh masyarakat. Konsep akan keragaman kebudayaan yang mengatas namakan kesederajatan sudah melenceng dan tergantikan akan paham mono-kulturalisme. Paham ini diprakasai pada masa orde baru. Mono-kulturalisme didasari dengan penyeragaman atas berbagai aspek mengakibatkan ketidak harmonisan di tengah masyarakat seperti contoh misalnya: konflik bernuansa SARA ,amuk masa, aneka kerusuhan, pembakaran tempat ibadah, tindakan kekerasan terhadap aliran agama tertentu (Ahmadiyah misalnya), main hakim sendiri, aneka pembunuhan,d an aneka peristiwa tragis lainnya. 

Hal itu adalah akibat dari rendahnya kesadaran dan wawasan multikulturalisme yang terjadi pada masa itu. membuat multikulturalisme manjadi asing di tengah masyarakat. Sehingga keragaman menjadi sangat sensitif untuk dibicarakan.  Ini menjadi tugas kita bersama, tentu Kita tidak ingin masa itu terulang kembali. Kita ingin konsep negara multikulturalisme yang di damba-dambakan para pendiri bangsa kita mulai pulih kembali dengan diiringi bangkitnya semangat gotong-royong sebagai jati diri kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN