Mohon tunggu...
Sayed Mahdi
Sayed Mahdi Mohon Tunggu... Menyelamatkan Lingkungan Hidup Dimulai dari Tindakan Awalmu...https://meutani.blogspot.com

Peminat Masalah Pertanian, Lingkungan Hidup, Olahraga dan Pemerintahan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Mengintip Tindakan Tak Senonoh terhadap Hutan Mangrove

26 Oktober 2019   13:09 Diperbarui: 27 Oktober 2019   17:10 78 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengintip Tindakan Tak Senonoh terhadap Hutan Mangrove
Foto | dokumentasi pribadi

HUTAN mangrove mempunyai fungsi yang sangat luar biasa pentingnya. Hutan mangrove atau kita sering menyebutnya hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di sekitaran air payau dan sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.

Hutan mangrove mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup, sehingga keberadaanya menjadi pusat perhatian pemerhati, peminat dan pecinta lingkungan wilayah pesisir.

Hutan mangrove mempunyai beberapa keterkaitan dan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan manusia baik fungsinya dalam penyediaan bahan pangan, papan, dan kesehatan, serta kontribusinya terhadap lingkungan.

Fungsi hutan mangrove diantaranya adalah untuk menjaga kestabilan garis pantai, melindungi pantai dari dan abrasi, menahan sedimen, penyangga proses instrusi, pengolah limbah, sebagai kawasan asuhan atau pemijahan bagi hewan-hewan yang biasa berkembang biak dan tumbuh di area hutan mangrove (nursery ground).

Fungsi lainnya dalah sebagai kawasan persinggahan dan habitat satwa langka hingga menjadi tempat berkembang biak, plasma nutfah, penghasil kayu, penghasil bibit hewan, penghasil oksigen dan penyerap karbon dioksida (CO2). Hutan mangrove juga berfungsi sebagai kawasan wisata dan kawasan pendidikan.

Dalam sebuat cacatan mongabay menyebutkan, pantai timur Aceh merupakan daerah yang memiliki hutan mangrove terluas. Persebarannya di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Kota Langsa, dan Lhokseumawe.

Di pesisir timur ini, hutan mangrove terdiri dari tiga famili yaitu Rhizophoraceae, Sonneratiaceae dan Euphorbiaceae dan 7 jenis pohon: Bruguiera gimnorrhiza, Excoecaria agallocha, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia ovata.

Di Kabupaten Aceh Timur luas hutan mangrove mencapai 18.080,45 hektar, Aceh Tamiang 15.447,91 hektar, Kota Langsa 5.253,15 hektar, Aceh Utara 959,11 hektar, Lhokseumawe 88,34 hektar dan Bireuen 25,57 hektar.

Masih dalam catatan mongabay menyebutkan, dalam sebuah kajian WWF Aceh menjelaskan, berdasarkan analisis spasial 2013 hingga 2017, luas hutan mangrove di enam kabupaten/kota itu berkurang hingga 3.910,15 hektar.

Di Aceh Timur, kini seluas 16.269,76 hektar, Aceh Tamiang 14.105,91 hektar, Kota Langsa 5.142,07 hektar, Bireuen 20,48 hektar, Lhokseumawe 56,10 hektar dan Aceh Utara 350,05 hektar.

Data ini menunjukkan bahwa ekosistem hutan mangrove saat ini mengalami degradasi yang cukup mengkhawatirkan. Berbagai tindakan tak senonoh dilakukan karena mereka kurang memahami berbagai manfaat dari ekosistem mangrove.

Ini beberapa yang menjadi penyebab hancurnya hutan mangrove; kebijakan masalah lalu yang mengembangkan tambak besar-besaran secara intensif sehingga memusnahkan ekosistem mangrove yang bahkan tak tersisa sama sekali. 

Tindakan ini berbeda sangat dengan pengembangan tambak secara tradisional yang menyisakan tanaman mangrove di tengah-tengah tambak sehingga ini sangat ramah terhadap lingkungan hidup.

Penyebab lainnya adalah adanya alih fungsi kawasan mangrove menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini juga menyebabkan tanaman mangrove menjadi musnah dan berubah fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Di samping itu juga, terjadinya penebangan mangrove secara ilegal bahkan sampai ke akarnya-akarnya ikut ditebang untuk dijadikan bahan baku pembuatan arang

Para penebang ilegal masuk ke kawasan hutan mangrove melalui sungai-sungai kecil dengan menggunakan perahu (sampan) dan memakan peralatan parang hingga chainsaw mini.

Terhadap kayu-kayu mangrove yang telah ditebang dengan ukuran 1-3 meter kemudian dikeluarkan melalui sungai-sungai kecil menggunakan perahu/sampan dan dinaikkan ke dapur-dapur arang yang umumnya terletak di pinggiran sungai.

Di dapur-dapur arang tersebut selanjutnya kayu bakau dibakar dan dijadikan arang, setelah itu arang-arang yang berkualitas ekspor tersebut di packing dan diangkut melalui jalan darat ke provinsi Sumatera Utara untuk selanjutnya diekspor ke beberapa negara.

Bahkan menurut data hasil investigasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh tahun 2018 menemukan 85% hutan mangrove di Aceh Tamiang dalam kondisi rusak akibat berbagai aktifitas ilegal. []

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x