Ya Yat
Ya Yat Penulis

Penyuka MotoGP, fans berat Valentino Rossi, sedang belajar menulis tentang banyak hal, Kompasianer of The Year 2016, bisa colek saya di twitter @daffana, IG @da_ffana, steller @daffana, FB Ya Yat, fanpage di @daffanafanpage atau email yatya46@gmail.com, blog saya yang lain di www.daffana.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Saatnya Berubah Demi Kurangi Sampah

1 Maret 2019   19:52 Diperbarui: 1 Maret 2019   19:55 79 3 0
Saatnya Berubah Demi Kurangi Sampah
Cara sederhana mengurangi sampah (dok.vulcanpost.com)

Indonesia adalah negara besar yang punya banyak prestasi membanggakan. Namun dalam soal sampah, Indonesia punya prestasi yang cukup mengenaskan. Yaitu sebagai negara penyumbang sampah kedua terbesar di dunia. Punya banyak penduduk, kita juga punya masalah besar dengan sampah.

Belakangan ini saya sering bolak balik Jakarta -- Jogja -- Jakarta. Transportasi yang selalu saya gunakan adalah kereta api. Moda transportasi ini paling nyaman dan murah. Kereta api kita sekarang ini juga bagus dan bersih, bahkan untuk kelas ekonomi. Beli tiket seharga 200 ribuan sampa dengan selamat di Jogja.

Di tiap baris kursi, ada kantong plastik kecil tergantung, gunanya untuk tempat sampah kita. Kan kadang kita makan dan minum di kereta, nah sampahnya dibuang ke kantong plastik itu. Nanti ada petugas yang secara berkala akan mengambil kantong plastik dan sampah kita. Jadi sampah nggak berserakan dan penumpang duduk dengan nyaman.

Sampah di laut (dok.kompas.com)
Sampah di laut (dok.kompas.com)
Sayangnya masih aja ada penumpang yang tidak disiplin dan membuang sampah sembarangan. Bekas makan, botol bekas minum atau tissue bertebaran di bawah kursi. Jadi kereta api yang sudah bagus itu jadi kotor. Terkadang petugas sampai harus merogoh sampah dari kolong kursi dan si penumpang di kursi itu hanya melihat saja. Nyebelin kan.

Itu baru dari sisi disiplin membuang sampah pada tempatnya yang mana cara sesederhana itu aja masih banyak yang malas melakukan. Belum dari sisi bagaimana cara kita mengurangi sampah itu sendiri. Soal mengurangi sampah, saya punya cerita juga.

Di kawasan rumah tinggal saya, sampah rumah tangga diambil oleh pengambil sampah yang rutin datang tiap Senin dan Kamis. Masing-masing rumah yang sampahnya diambil memberi iuran sampah dua puluh ribu sebulan. Ini harga yang teramat murah sih. Rata-rata tiap rumah punya 3 kantong plastik sampah setiap hari pengambilan. Kalikan 3 kantong plastik dengan beberapa puluh rumah.

para pahlawan Bantar Gebang (dok.Djarum Foundation).
para pahlawan Bantar Gebang (dok.Djarum Foundation).
Makanya gerobak sampah yang ketika datang dalam keadaan kosong, pergi dari kawasan rumah kami dengan kondisi sampah yang menggunung. Belum lagi jika ada tetangga yang habis hajatan atau habis membersihkan rumahnya. Kadang tukang sampah harus membawa dua gerobak sampahnya.

Tetangga depan rumah saya paling royal buang sampah. Kadang hari Senin setor 3 kantong sampah ke tkang sampah, trus hari Kamisnya setor lagi 4 kantong sampah. Kadang saya suka iseng menegur sembari bercanda.. "banyak amat sampahnya.. hajatan melulu nih bu". Dijawab oleh si ibu... "Nggak apa-apa wong bayar sampahnya murah".

Iya memang murah hanya dua puluh ribu rupiah. Tapi apa kita berpikir kemana larinya sampah-sampah itu dan apa efeknya buat kehidupan kita? Abang tukang sampah biasanya menaruh sampah di area pengumpulan sampah. Lalu truk-truk besar akan mengangkut sampah-sampah it ke tempat pembuangan sampah akhir di Bantar Gebang Bekasi.

Perlengkapan mengurangi sampah (dok.freepik.com)
Perlengkapan mengurangi sampah (dok.freepik.com)
Gimana kondisi Bantar Gebang saat ini? Saya terpaku ketika membaca Cerita Sampah di IG @siapdarling. Bantar Gebang punya luas kurang lebih 110,3 hektar. Punya ketinggian bukit sampah sampai 35 meter atau setara bangunan 10 lantai. Sekitar 1.200 truk perhari datang dan pergi membawa 7.400 -- 8.000 ton sampah ke area ini. Prediksi para ahli mengatakan bahwa tahun 2021 Bantar Gebang akan penuh dengan sampah dan tak bisa diisi lagi. Tahun 2021 sebentar lagi lhooo.

Sampah nggak seluruhnya terangkut ke Bantar Gebang. Kebiasaan membuang sampah sembarangan membuat sampah terbuang ke selokan atau ke kali yang akhirnya mengalir ke laut. Sampah seperti ini membahayakan lingkungan. Sering kan yaaa liat foto-foto sampah yang terbawa ke laut lalu mampir ke pantai dan memenuhi area pantainya.

Lalu sampah plastik yang tak bisa sepenuhnya terurai bisa termakan oleh ikan. Nah ikannya kita makan karena kalo nggak makan ikan kan ditenggelamkan sama bu Susi Pudjiastuti. Jadi ada bakteri dari sampah yang termakan oleh kita. Kurang ngeri apa coba.

Jadi hayuk deh kurangi menghasilkan sampah dan jangan buang sampah sembarangan. Mengubah prilaku itu harus. Saya setuju banget dengan bu Susi Pudjiastuti yang bilang biarlah kita menjadi nomor dua negara penghasil sampah terbesar tapi kita harus jadi negara nomor satu yang mampu mengurangi sampah paling besar.

Makanan yang terbuang (dok.stjhs.org)
Makanan yang terbuang (dok.stjhs.org)
Saya belum sepenuhnya bisa terhindar dari sampah, tapi saya mulai mengurangi menghasilkan sampah. Beberapa cara saya adalah membawa tas belanja sendiri jika berbelanja, membawa tempat minum sendiri, membawa sedotan stainless steel, tidak membeli perlengkapan mandi dalam  bentuk sachetan melainkan dalam bentuk botol dan lain-lain.

Makanan juga menyumbang sebagian besar sampah. Kemana larinya makanan yang tidak habis kita makan? Pastinya terbuang dan akhirnya jadi sampah. Nah buibuk yang doyan masak sebaiknya kalau masak diperhitungkan kebutuhan keluarganya. Jangan sampe anggota keluarga cuman 5 eh masaknya buat porsi 20 orang. Mubazir itu.

Jika kita sudah menyadari bahayanya sampah dan sudah berbuat sesuatu untuk mengurangi sampah, ajak orang lain ikut serta biar efeknya makin nyata. Sadar lingkungan akan lebih bermanfaat jika dilakukan secara masal. Saya sendiri sekarang sedang intens bergaul dengan orang-orang yang punya tujuan Zero Waste. Melalui akun sosmednya, mereka kerap menyebar informasi mengenai cara mengurangi sampah. Misalnya mengolah cangkang telur menjadi pupuk atau membuat pembersih kaca dari cairan kulit jeruk yang dicampur cuka.

Bersyukurnya memang banyak pihak yang tergerak mengurangi sampah saat ini. Seperti yang dilakukan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Dengan aksi Siap Darling, Bakti Lingkungan Djarum Foundation mengajak kita semua bergerak mengurangi sampah. Pemerintah punya target mengurangi sampah hingga 70% lho. Harus didukung lah itu. Segera kurangi sampah sebelum laut kita isinya cuma sampah.