Mohon tunggu...
Ya Yat
Ya Yat Mohon Tunggu... Penulis - Blogger

Penyuka MotoGP, fans berat Valentino Rossi, sedang belajar menulis tentang banyak hal, Kompasianer of The Year 2016, bisa colek saya di twitter @daffana, IG @da_ffana, steller @daffana, FB Ya Yat, fanpage di @daffanafanpage atau email yatya46@gmail.com, blog saya yang lain di www.daffana.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Enggak Enaknya Jadi Tetangga yang "Enggak Enakan"

24 Mei 2018   17:09 Diperbarui: 24 Mei 2018   17:28 852
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Deretan penjual takjil (dok.kompas.com)

Memasuki bulan Ramadhan, lingkungan tempat saya tinggal di bilangan Jakarta Selatan ini makin ramai di sore hari. Jika di hari selain bulan Ramadhan para emak bersantai ria, nah di bulan Ramadhan, para emak sibuk. Sibuk ngapain? Sibuk jualan pemirsa. Yap.. di lingkungan saya tinggal yang rumahnya mepet-mepet begini, banyak para emak yang berjualan takjil di depan rumahnya.

Kalau saya membuka pintu rumah, depan rumah saya sudah terpampang nyata aneka gorengan. Jalan ke tetangga sebelah, mata disuguhi deretan toples bahan-bahan es campur dan jejeran kolak. Jalan lagi ke tetangga di depannya, si emak penghuni rumah pasti nawarin saya membeli lontong isi oncom yang cabenya suka iseng ngumpet di antara oncom. Jalan ke tetangga yang jauhan dikit.. eehhh si emak lagi asyik goreng tahu isi. "Mau beli berapa mbak.. ", gitu katanya pas saya lewat.

Aktivitas para emak dimulai setelah adzan Ashar. Para emak akan sibuk menggoreng makanan lalu menatanya di meja kecil di depan rumah. Ketika saya selesai memasak hidangan untuk berbuka puasa, para emak ini selesai juga memasak dan menata takjil yang akan dijual sore itu. Saya sungguh salut dengan pengaturan waktu para emak ini. Sebelum mereka memasak barang dagangan, mereka siapkan dulu hidangan buat berbuka. Jadi keluarga nggak akan komplen bila si emak sibuk berdagang.

dagangannya tetangga (dok.yayat)
dagangannya tetangga (dok.yayat)
Saya kadang membeli takjil dari para emak ini atas dasar nggak enak hati. Iya.. nggak enak hati jika hari menjelang Maghrib tapi dagangan para emak masih banyak. Atau nggak enak hati karena bolak balik lewat depan rumahnya tapi kok nggak beli dagangannya sebiji pun. Takutnya gitu saya lewat lagi saya kena lempar bakwan huehehehe.

Karena rata-rata para tetangga ini jualan, maka saya juga kadang membelinya atas dasar rasa keadilan. Beli bakwan tetangga di depan rumah 3 biji, beli kolak tetangga sebelah rumah 2 gelas, beli lontong tetangga yang depannya lagi 4 biji. Jadi ya akhirnya semua tetangga saya beli makannya walau jumlahnya sedikit-sedikit. Yang penting rata lah ya semua dibeli. Supaya nggak ada kecemburuan sosial juga nantinya.

Masalahnya adalah kalo dagangan para emak ini ada yang nggak cocok di lidah. Ini masalah receh tapi penting. Tetangga depan rumah, makanan gorengannya nggak seenak yang lain. Gorengannya kurang renyah di lidah. Sementara tetangga sebelah rumah kolaknya juga nggak manis plus keenceran. Nah big problemnya adalah, saya tipe orang yang nggak enakan. Nggak enak nggak beli dagangan para emak ini meski kurang sreg di lidah.

gorengan buat berbuka puasa (dok.yayat)
gorengan buat berbuka puasa (dok.yayat)
Udah gitu para emak ini juga baik banget. Kalo saya atau tetangga dekat yang lain membeli dagangannya pasti dikasih bonus gorengan atau kolak. Jadi kayak buy 4 get 1 free.. halah. Mereka berbuat begitu karena perasaan nggak enak juga. Nggak enak sama tetangga dekat yang dikenal baik kok pelit. Bisnis is bisnis, tapi kalo sama tetangga baik nggak usah mikir soal profit. Gitu lah kira-kira.

Problem saya soal makanan takjil ini nggak seberat dengan problem saya jika Idul Fitri sudah dekat. Para emak ini akan menawari saya aneka kue kering dan aneka kripik. Ada yang emang bikinan sendiri, ada juga yang membeli dari pasar kue. Dua mingguan sebelum Idul Fitri biasanya para emak sudah bergerilya menawari kue-kuenya lengkap dengan promosi soal rasa plus harga.

Sebenernya untuk kue lebaran saya memang terbiasa beli jadi. Buat saya beli kue kering jadi itu lebih praktis ketimbang membuat sendiri. Saya biasa membeli kue kering di pasar kue macam pasar Mayestik. Di pasar ini segala macam kue kering dan kacang dijual dengan aneka harga. Rasanya juga enak dan harganya juga sesuai dengan rasanya. Kalau mau kue yang enak ya harganya mahalan dikit. Tapi buat saya lebih worth it ketimbang memasak sendiri.

nastar buat lebaran (dok.merdeka.com)
nastar buat lebaran (dok.merdeka.com)
Nah atas dasar nggak enak, biasanya saya tetep membeli kue-kue yang dijajakan para emak ini. Nggak banyak sih.. paling cuman setoples, yang penting beli yekan. Cuman karena beli rata-rata setoples dari para tetangga akhirnya ya jadi banyak juga. Sementara saya bukan orang yang punya tamu bejibun hingga harus sedia kue banyak. Ya sih saya bawa kue ini buat pulang kampung dan saya bagikan ke para sodara, namun mereka membalas pemberian saya dengan memberikan kue-kue lagi. Gitu aja terus sampe lebaran taun depan hahaha.

Saya sungguh tak menyalahkan aktifnya para emak mengambil momen jualan di bulan puasa dan Idul Fitri, malah itu harus sik. Kan lumayan penghasilan dari jualan buat nambah-nambah beli baju barunya anak-anak. As we know pengeluaran di masa puasa sampe Lebaran itu gede banget. Kalo nggak dicarikan penghasilan tambahan kayak gini, bisa-bisa para emak nggak bisa masak rendang pas Lebaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun