Mohon tunggu...
Yayang Nadistya Ayu
Yayang Nadistya Ayu Mohon Tunggu... Penulis - Mahasiswa

Yayang sangat ingin melihat dunia. Ia meyakini bahwa suatu saat akan ada waktu dimana ia akan segera dipertemukan dengan segala mimpi-mimpinya.

Selanjutnya

Tutup

Diary

Ternyata Aku Pernah Merasakan Kehangatan

14 Agustus 2022   13:06 Diperbarui: 14 Agustus 2022   13:09 70 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Diary Kecilku Part 1

Untuk masa itu, aku bersuka cita. Mengenang segala kisah dengan penuh tetesan air mata.

Ceritaku akan aku awali ketika aku berada di usia 5 tahun karena memori kepalaku tak sanggup untung menggapai cerita sebelumnya. Aku adalah anak desa yang lugu dan polos. Aku mengatakan demikian karena yang aku tau hanyalah tentang duniaku. Aku tak pernah tau seberapa keras dunia yang sesungguhnya. Aku hanya fokus dengan kegiatan-kegiatanku. Kata orang, aku cukup pintar dan sopan. Tetapi, aku di zaman itu tak terlalu memperdulikan apa itu pintar. Yang aku lakukan hanyalah fokus dengan apa yang ada di depanku. Ku akui bahwa aku juga tak pernah merasakan overthinking yang sekarang sedang booming. Menulis kisah flashback terhadap diri sendiri sangat menguras emosi sehingga aku mulai membandingkan diriku sekarang dengan diriku yang lalu. 

Ingatan pertamaku tentang diriku adalah anak yang selalu menempel dengan ibunya. Ya, ibuku adalah duniaku. Semuanya sudah cukup asalkan ada ibu dalam setiap detik kehidupanku. Ibuku adalah seorang guru Taman Kanak-Kanak. Lain waktu aku akan menceritakan tentang ibuku. Tentang kisahnya dan betapa hebatnya beliau. Aku yang berusia 5 tahun mulai sekolah di Taman Kanak-Kanak. Aku sekolah di tempat ibuku mengajar, TK Kuncup Melati namanya. Yayang kecil sangat tidak pandai mengekspresikan dirinya. Ia selalu memendam semuanya. Kemauannya hanya dia yang tau. Kalau dipikir-pikir, semua mimpinya hanya diketahui olehnya dan Tuhan. Wah, romantis ya. 

Hal tentang bersekolah di TK yang paling aku ingat adalah ketika ada 3 anak laki-laki yang selalu bersama (Elmi, Dodik, satunya aku lupa T.T), aku selalu tebar pesona ke mereka. Well, anak kecil wajar lah kalau ingin diperhatikan tapi gengsi juga tinggi. Honestly speaking, sebagai seorang anak guru apalagi di tempat sekolahku, aku berasa punya privilege. Ya walaupun ibuku juga memperlakukanku sama seperti yang lain, tapi untukku, aku merasa punya seseorang di belakang yang siap pasang badan kalau aku kenapa-napa. Berbicara mengenai privilege, hal ini memang punya dampak yang kuat. Karena hal tersebut, aku lebih dihormati oleh teman-temanku. Mereka juga tidak pernah mengganggu aku. Padahal, aku juga ingin dekat dengan mereka tanpa sekat dan batasan. Tetapi, karena hal tersebut, jadinya agak ada gap di antara kami. Tapi aku bersyukur sudah menjalani hidupku kala itu sebagai Yayang.

Rasanya banyak hal yang terjadi. Waktu itu aku banyak habiskan dengan bermain. Namun, yang paling aku ingat, aku juga banyak menggambar orang-orangan dengan membawa tas branded, gaya orang kaya, gaun bunga-bunga yang cantik, dan tentunya memakai heels. Dulu, aku juga belum memiliki cita-cita aku ingin menjadi apa. Aku pernah bermimpi sebagai seorang guru. Tapi, lambat laun, aku berpikir ingin menjadi seorang dosen. Sekarang, aku sedang berpikir bagaimana agar aku bisa dapat beasiswa ke luar negeri untuk melanjutkan S2. 

Sejujurnya, waktu kecil, hidupku lumayan susah. Namun, Tuhan memberikan keluasan hati untukku agar bisa menerimanya. Aku bahkan tidak punya pemikiran untuk berkeluh kesah. Rasanya, waktu kecil adalah tetap menjadi waktu terbahagia. Hal lain tentang masa kecilku yang aku ingat adalah sering sekali mati lampu di dusunku. Alhasil, aku, ibu, bapak, dan adikku berkumpul di ruang tamu untuk menikmati waktu bersama-sama ditemani oleh lilin. Biasanya, di suasana ini, dibarengi oleh hujan. Kami banyak bercerita dan memainkan bayang-bayang dengan tangan untuk membuat burung dll. Ternyata, dalam 21 tahun aku hidup, aku pernah merasakan kehangatan cinta yang hatiku terus ingin minta. Hal kecil itu, ketika dingat-ingat, sangatlah romantis dan hangat. Biasanya, di momen itu juga, ada makanan yang membersamai kami. Alih-alih roti, kami biasanya memakan singkong rebus, kacang rebus, dan tak lupa teh dan kopi.

Dalam hidup, karena terlalu fokus dalam permasalahan yang dihadapi, kita tak bisa merasakan hal-hal kecil yang indah dan hangat

Sejujurnya, aku juga merasakan banyak luka masa kecil. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar bahwa aku tidak boleh berfokus ke arah sana karena akan menambah luka. Aku harus lebih mengingat hal-hal hangat yang bisa mengayomi hati dan pikiranku. Seperti yang sedang aku lakukan saat ini yaitu menulis dan merefleksi kembali apa yang sudah terjadi dalam hidupku. Aku mulai bisa merasa bersyukur akan banyak hal. Aku tidak bisa menceritakan keseluruhan cerita kehidupanku dalam 1 paragraf panjang sekaligus. Namun, aku akan mulai membagikan ceritaku per part. Aku hanya sedang merasa suka menulis. Jadi, sangat disayangkan kalau semisal aku hidup tanpa menyisakan apa-apa. Setidaknya, kisahku dapat dijadikan pembelajaran bagi sesama. Semoga bisa diambil baiknya dan dibuang buruknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Mari sama-sama belajar dan terus berkembang. Salam kenal dan mari bercengkerama di kolom komentar. See you soon.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan