Mohon tunggu...
Yasintus Ariman
Yasintus Ariman Mohon Tunggu... Guru - Guru yang selalu ingin berbagi

Aktif di dua Blog Pribadi: gurukatolik.my.id dan recehan.my.id

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Jiwa Tersangkar

18 Desember 2017   11:56 Diperbarui: 18 Desember 2017   12:21 593
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sergap wanita itu dengan penuh kelembutan dan sopan santun. Tak ada bunyi-bunyian. Suasana pagi subuh yang sangat lengang. Tak ada orang lain selain mereka berdua, yang satu memendam syawat dan berusaha melampiaskannya sedangkan yang lain lagi menyimpan nasehat saleh nan suci. Sergapan wanita itu membuat Misel kaget hingga terjatuh.

"Haaaa??? Apa katamu? Aku tak mengerti maksudmu."

Meski begitu Misel tersenyum gembira dalam hatinya. Karena perempuan dalam lamunannya ternyata mengetahui apa yang telah dilakukannya. Ia menaruh harap agar perempuan juru masak itu bakal mengerti maksudnya. Ia menghendaki agar ia menuntaskan hasratnya saat itu juga.

Namun, hal itu di luar perhitungannya. Lagi-lagi bunyi lonceng di menara Kapela membuyarkan segalanya.

"Teng...teng...teng..."

Dalam kesempatan itulah ia mendapat nasehat saleh nan suci dari perempuan juru masak itu:

"Misel, dari kodratnya manusia dilahirkan untuk kawin. Manusia bisa melahirkan karena ia kawin. Keberadaanmu di dunia ini adalah hasil dari perkawinan dua jenis manusia yang berbeda kelamin. Tuhan menciptakan demikian agar pria dan wanita itu saling melengkapi. Jika engkau tak sanggup mempertahankan cara hidupmu yang sekarang, pilihlah cara hidup yang sesuai dengan kodratmu sebagai manusia. Kawinlah! Tapi jika tidak, berhentilah mengintipku sembari menyetubuhi dirimu sendiri. Aku tak ingin engkau mengeksploitasi tubuhku dengan lamunanmu. Carilah cara hidup yang normal yang sesuai dengan kodratmu sebagai laki-laki yang normal."

Perkataan perempuan juru masak itu membuat Misel tertunduk malu dengan amarah yang mulai membara dalam hatinya. Ia tak menduga kalau pernyataan seperti itu bisa dilontarkan dari mulut seorang perempuan yang hanya bermodalkan pengetahuan setingkat sekolah dasar.

Perasaan malu dan jengkel bercampur menjadi satu. Ia ingin berteriak untuk melampiaskan kemarahannya tetapi ia malu jika semua orang akan mendengar teriakannya dan ketahuan kalau ia sedang berduaan dengan seorang perempuan yang tentu saja hal itu tidak boleh terjadi untuk pria seperti dia.

Misel hendak berlalu. Tetapi, perempuan juru masak itu menarik tangannya sambil berkata:

"Aku tak peduli bagaimana reaksimu atas perkataanku. Tapi aku harus mengatakan sesuatu yang benar. Aku sadar aku bukanlah apa-apa. Pengetahuanku tentang kehidupan tak sesempurna yang engkau miliki dan dapatkan. Maklumlah, aku tidak mengenyam pendidikan tinggi sepertimu. Tapi aku berharap engkau bisa menekuni jalan hidup yang telah engkau pilih sedari awal. Jika engkau sudah tidak sanggup untuk menjalaninya, engkau tentu saja bisa mengundurkan diri secara bijak dengan mengatakan tidak pada jalan hidupmu yang sekarang. Aku  yakin engkau sangat mengerti maksudku. Hanya inilah caraku untuk memperhatikanmu dan mendukungmu guna memilih mana yang terbaik untuk engkau jalani. Melihat gelagatmu yang sekarang, jujur aku hanya bisa mengatakan carilah perempuan dan  kawinilah dia seumur hidupmu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun