Mohon tunggu...
Yaqub Walker
Yaqub Walker Mohon Tunggu... Petualang -

Seorang petualang alam dan pemikir yang kadang mencoba menulis sesuatu.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Anomalinya Umat di Negeriku

8 Agustus 2017   12:08 Diperbarui: 8 Agustus 2017   12:34 1428
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

-The Message of the Quran (QS. 5: 8), Muhammad Asad

Anomali berikutnya adalah tuduhan yang tidak benar terhadap beberapa ulama. Beginilah, gejala krisis literasi akut di dalam masyarakat. Banyak orang lebih gemar menuduh daripada membaca. Bisa jadi dikarenakan kesombongan, bisa juga dikarenakan kemalasan. Padahal jika ditanya lebih jauh lagi, mereka-mereka ini sebenarnya tidak paham apa makna dari istilah yang dituduhkannya. 

Pastinya kita sudah sering mendengar tuduhan Syiah, Komunis, Liberalis, Kafir, dan sebagainya. Yang lebih aneh, tokoh-tokoh Muslim berpendidikan tinggilah yang menjadi sasaran tuduhan tersebut. Salah satunya, K.H. Said Aqil Siroj yang dituduh Syiah. Beliau sudah melakukan tabayyun berbentuk dialog elok yang videonya bisa kita lihat di Youtube. Lalu, tuduhan kafir terhadap Buya Syafii Maarif karena telah membela orang kafir. Ini, orang-orang yang menuduh itu sedang bercanda atau berusaha melawak? Buya Syafii adalah seorang lim, jenjang pendidikan agama Islam yang beliau lalui juga tidak sembarangan. Mungkin, sebagian orang yang menuduh itu belum duduk di bangku sekolah ketika Buya Syafii menyelesaikan disertasinya. Buku-buku yang ditulis Buya Syafii juga tidak sedikit, kita akan lebih mengenal beliau jika sudah membaca karya-karyanya. 

Beliau adalah pendiri "Maarif Institute" yang bergerak di bidang keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Jangan hanya karena sebuah foto di suatu tempat, kemudian memfitnahnya telah menerima sejumlah uang agar membela sang pemberi uang tersebut, subhanallah. Setan turun kepada setiap pendusta yang membawa berita bohong atau hoax(QS. 26: 222-223).

Bagaimana dengan tudingan liberalis yang sering dilontarkan di berbagai forum? Kembalilah kepada arti kata liberal itu sendiri. Liberal diambil dari bahasa Latin, yaitu liber yang artinya "bebas". Bisa pula kita ambil dari bahasa Inggris, yakni libertyyang berarti "kebebasan". Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa liberalis adalah orang yang menjunjung tinggi kebebasan. 

Dari penjelasan tersebut, maka seharusnya istilah liberalis pantas diberikankan kepada orang-orang yang membela secara membabibuta kebebasan yang harus diberikan oleh negara kepada setiap warga negaranya. Maka pembela koruptor bisa disebut liberalis, pembela bandar narkoba bisa disebut liberalis, pembela terorisme bisa disebut liberalis, pembela wahabisme bisa disebut liberalis, pembela feminisme dan LGBT juga disebut liberalis. Bahkan seharusnya pembela orang-orang yang ingin menghancurkan NKRI dan mengganti ideologi Pancasila, pantas kita sebut mereka sebagai liberalis!

Namun, sayangnya tudingan liberalis banyak dialamatkan kepada para ulama moderat. Kembali anomali terjadi akibat kurang piknik menelusuri lebih dalam ilmu-ilmu agama. Jika ditelusuri lagi, tudingan tersebut dikarenakan hanya membaca sepatah kalimat di media sosial maupun potongan video dari Youtube, dimana konteks peristiwa yang terjadi tidak diketahui dengan baik. Kalau hanya sekadar tektualis seperti itu, maka tidaklah jauh berbeda dari kaum Wahabi dalam memahami suatu dalil. 

Sungguh ironis, membenci sesuatu yang sesungguhnya dilakukannya sendiri tanpa sadar. Misalnya, sebelum menuduh ulama harusnya kita melihat dahulu objek yang bersangkutan secara lebih luas lagi karena mungkin saja ilmu kita tidaklah sebanyak ilmu yang telah dipelajari oleh ulama tersebut. Bandingkan dengan beberapa sumber terpercaya yang sebanding kelimuannya. Akan lebih mudah lagi, jika mau memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh ulama itu. Contohnya dalam kasus tudingan kepada Prof. M. Quraish Shihab, sudahkah kita membaca tulisannya yang dikemas dalam beberapa buku dimana terdapat ratusan halaman di dalamnya? Kalau belum, cobalah berusaha membacanya secara komprehensif, tidak setengah-setengah.

 Saran saya, bacalah buku beliau yang berjudul "Yang Hilang Dari Kita: Akhlak", "Perempuan", "Jilbab", dan "Sunnah Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?". Jikalau masih belum terpuaskan, cobalah mengkaji karyanya yang fenomenal, yaitu Tafsir Al-Mishbah. Pendiri Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) ini adalah sosok yang rendah hati. Beliau tidak mau dipanggil dengan sebutan "habib" meskipun banyak kalangan menilai, termasuk K.H. Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, gelar tersebut pantas disandangnya.

Keanomalian yang selanjutnya adalah munculnya suatu kalangan yang sangat memuji Buya Hamka, tetapi membenci Dr. Nurcholish Madjid alias Cak Nur. Sebenarnya Cak Nur ini memiliki akar genealogi santri yang kuat. Kakeknya dari sang ayah, Kiai Ali Syukur dan kakeknya dari sang ibu, Kiai Abdullah Sajjad memiliki kedekatan yang erat dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Karena gejolak politik pada saat itu, Cak Nur dipindahkan oleh ayahnya dari Pesantren Darul 'Ulum Rejoso ke Pesantren Darussalam Gontor. Pada tahun 1961, beliau resmi menjadi mahasiswa IAIN Jakarta. Cak Nur bertemu dengan Buya Hamka di Masjid Agung Al-Azhar, dimana saat itu Buya Hamka menjabat sebagai Imam Besarnya. 

Seperti yang diceritakan dalam buku biografi "Cak Nur, Sang Guru Bangsa" karya M. Wahyuni Nafis, hubungan Cak Nur dan Buya Hamka sangat dekat. Itulah sebabnya Buya Hamka mengirim anaknya ke Pesantren Gontor, beliau terkesan melihat Cak Nur dan kawan-kawannya yang alumni Gontor itu. Buya Hamka memang dikenal sebagai cendikiawan yang fair, pernah suatu waktu Cak Nur tidak setuju dengan terjemahan al-Qur'an Buya Hamka saat melakukan kajian. Cak Nur mengajukan pendapat bahwa ayat tersebut sebaiknya diterjemahkan seperti yang Cak Nur pahami, ternyata Buya Hamka setuju dan mengatakan bahwa hasil terjemahan Cak Nur itu benar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun