Mohon tunggu...
Yanuar Nurcholis Majid
Yanuar Nurcholis Majid Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Mahasiswa Fakultas Komunikasi, Jurusan Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Kecepatan Menteri Nadiem

20 Januari 2020   11:06 Diperbarui: 20 Januari 2020   11:19 148 0 0 Mohon Tunggu...
Kecepatan Menteri Nadiem
gatra.com

Anak muda bergerak cepat. Kaum muda suka perubahan. Anak muda anti-kemapanan. Berbagai diksi umum tentang anak muda.

Tentu saja: untuk sesuatu kebaikan. Yang positif.

Kiranya tak salah diksinya. Mendikbud Nadiem Makarim menunjukkan karakter tersebut. Bukan sosok yang lamban dan berani mengeksekusi.

Sejak dilantik Presiden Jokowi tanggal 23 Oktober 2019 hingga hari ini, Menteri Nadiem dapat disebut "sedang menggas". Ngebut: bahasa masyarakat umumnya. Meninggalkan yang lama.

Ya, Menteri Nadiem lagi bergerak cepat.

Harus diakui; sangat jarang atau bisa dihitung Menteri yang bergerak cepat (dengan kinerja) untuk melakukan dobrakan.

Namun sepertinya tidak begitu dengan Menteri Nadiem. Jiwa anak mudanya masih disimpulkan begitu kuat. Keberanian anak muda untuk bergerak cepat dan menggebrak.

Banyak yang dapat dirangkum dari kecepatan (kerja) Menteri Nadiem. Tapi tidak semua bisa dipaparkan. Sebab: terlalu cepat. Yang fenomenal saja.

Keberanian Menteri Nadiem yang mengejutkan adalah: mengganti/mengubah skema Ujian Nasional (UN). Salah satu bagian dari 4 Kebijakan Merdeka Belajar digagas Menteri Nadiem.

Tak ada lagi UN yang merupakan momok menakutkan bagi murid. Bagaikan monster Buto Ijo. Bisa saja lebih seram.

Tapi ditaklukkan Menteri Nadiem. Sungguh sangat cepat. UN yang selama ini belasan tahun hanya jadi debat wacana antara ditiadakan atau tidak, lalu menguap begitu saja, oleh Menteri Nadiem dieksekusi dengan berani.

Sungguh sangat cepat. Dilantik 23 Oktober 2019, tidak lebih dari 2 bulan menjabat, Menteri Nadiem tanpa perlu debat dan wacana: bertindak mengubah sistem UN.

Diganti dengan Asesmen Kompetensi dan Survei Karakter. Memberikan ruang luas bagi sekolah untuk menentukan kompetensi pendidikan muridnya.

Sekolah dan Guru bebas membuat skema bagaimana mengukur kualitas intelektualitas sang murid. Sesuai pola kemampuan belajar-mengajar yang selama ini diterapkan di lingkungan pendidikan.

Tidak lagi kaku parameter masa depan pendidikan murid. Murid pun lebih terbuka mengembangkan serta membangun kemampuan dirinya. Sesuai bagaimana pola belajar-mengajar yang diterima di sekolah.

Semua tepuk tangan pada Menteri Nadiem. Semua mengapresiasi keputusan Menteri Nadiem. Yang bergerak cepat. Tanpa banyak wacana.

Ada lagi yang mengejutkan. Baru-baru ini. Ketika Menteri Nadiem merangkul platform film digital: Netfkix.

Semua lagi-lagi: berdecak kagum. Saat Netflix menuai kontroversi, Menteri Nadiem menggandengnya. Menteri Nadiem memahami 'lapak' anak muda yang bisa menjadi alat untuk menekankan nilai kebangsaan dan menjiwai Pancasila pada kehidupan sehari-hari.

Maklum: Menteri Nadiem juga anak muda. Kaum muda.

Menteri Nadiem coba pasang strategi. Dan tepat! Untuk membumikan karakter otentik Indonesia pada diri anak muda. Melalui budaya dan film (di Netflix). Era digital dimanfaatkan Menteri Nadiem untuk kepentingan nasionalistik.

Semua angkat 2 jempol ke Menteri Nadiem. Pegiat budaya, film, anggota parlemen, netizen dan terutama anak muda.

Menteri Nadiem memang melaju sangat cepat. Mengubah yang kaku lebih dinamis. Melawan cara pikir usang tanpa banyak wacana.

Menteri Nadiem betul-betul mencerminkan diksi anak muda. Jangan jadi lamban untuk perubahan (lebih baik). Kalau ingin maju: memang harus berani ekseskusi. Maju bergerak.

Rasanya: Menteri Nadiem bakal 'ngebut' lagi sesuai lajurnya. Dengan kecepatan sebagai anak muda.*

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x