Mohon tunggu...
yani widaningsih
yani widaningsih Mohon Tunggu... Seorang Ibu Rumah Tangga

Melihat dunia dari berbagai perspektif

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Guru Honorer yang Tetap Tersenyum

2 Desember 2020   14:59 Diperbarui: 2 Desember 2020   15:14 341 55 24 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Guru Honorer yang Tetap Tersenyum
Dok Pribadi 

Berbagai cerita pilu dari kehidupan guru honor kerap kita dengar dan saksikan, ada yang menyambi menjadi pengemudi ojeg , buka usaha rongsokan dan apa saja yang sekiranya dapat menambah penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Penulis mempunyai banyak sahabat guru honor, banyak cerita yang yang mereka alami selama menjadi guru honor, seperti pada tahun 90an , gaji guru honor sahabat penuls sekitar 100 ribu, diberikan setiap 3 bulan sekali. Waktu itu pengambilan gaji harus ke kantor Pos yang ada, dikota Kecamatan, sedangkan banyak yang tempat tinggalnya jauh dari kota kecamatan sehingga ada yang harus menyewa ojeg yang ongkosnya mahal, untuk uang makan, karena mengurus gaji honor bisa seharian  ada pemberkasan data yang selalu harus diperbaharui, beli oleh oleh untuk anak,tak jarang sampai dirumah tinggal 100 ribu.

Tapi penulis melihat  beliau beliau ini selalu ikhlas dan ceria, terutama guru guru honorer Tk, sehingga ada parodi tentang guru honorer Tk,

 "Apa pekerjaan yang walaupun di rumah tidak punya beras tapi selalu, bertepuk tangan, bernyanyi dan menari"

Ya guru honorer TK, karena tiap hari harus selalu ceria kata kata afirmasi positif untuk menyemangati anak anak melalui nyanyian, tarian , tepuk tangan selalu menjadi rutinitas.  Keberkahan dari keikhlasan, dari semua itu menjadikan beliau beliau itu selalu kelihatan sehat dan ceria. Biasanya mereka, saling menguatkan dengan afirmasi postitif "bahwa kita ihlas mengabdi dengan ilmu untuk bangsa dan negara.

Penulis selalu kagum pada kegigihan, kesabaran para guru honorer, walau nasib selalu terombang ambing dengan ketidak pastian tapi mereka menjalaninya dengan khidmat, ikhlas menjalani apa yang menjadi takdirnya. Tidak kalah dengan para guru yang sudah PNS Seperti sahabat penulis yang satu ini

Namanya Ibu Imas Neni ,saya memanggilnya "Bu Imas", Beliau menjadi guru honor semenjak taun 1996 berarti sudah 24 tahun, puluhan tahun beliau mengabdi, sudah berapa persiden yang menjanjikan pengangkatan guru honor, pejabat daerah silih berganti, namun  janji tinggal janji.

Tiap ada tes untuk penerimaan CPNS beliau ikuti tapi belum juga nasib baik menghapirinya, sedangkan rekan rekannya, atau honorer yang baru beberapa tahun banyak yang sudah jadi PNS. Sebagai manusia normal tentunya beliau pernah mempertanyakan nasibnya yang kurang beruntung, tapi sepanjang penglihatan penulis, beliau selalu bersemangat dan berdedikasi dalam menjalankan profesinnya.

Karena syarat untuk menjadi PNS harus berpendidikan S1 keguruan, Jauh- jauh hari belau telah ikut kuliah jarak jauh walau harus repot membagi waktu dan biaya, namun demi harapannya, beliau menjalaninya dengan semangat dan ikhlas. Dengan ketenangan perangainya  juga wajahnya yang menyiratkan kedamaian disertai senyum yang ihlas.

Honor yang pertama, diterima sebesar 100 rb tak menyurutkan langkahnya untuk terus mengabdi mencerdaskan bangsa. Seiring waktu honornya meningkat, sejak tahun 2007 beliau telah mendapatkan tunjangan profesi guru walau pun tidak bisa inpassing ( gaji yang disesuaikan dengan golongan). Tetap hal itu menurut penulis belum sebanding dengan pengabdian dan pengorbanan beliau.

Alih alih menyurutkan semangatnya dengan keadaan yang tidak ada perbaikan nasibnya, justru beliau menambah pengabdiannya pada bangsa dan negara dengan mendirikan Kober, dan SLB didampingi suami yang seorang guru SLB.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x