Mohon tunggu...
yani widaningsih
yani widaningsih Mohon Tunggu... Seorang Ibu Rumah Tangga

Melihat dunia dari berbagai perspektif

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Setelah Menunggu 40 Tahun Akhirnya Menulis Juga...

5 Oktober 2020   09:06 Diperbarui: 5 Oktober 2020   10:03 324 26 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setelah Menunggu 40 Tahun Akhirnya Menulis Juga...
Ilustrasi Menulis | Sumber: Pixabay 

Saat umur limabelas tahun kalau di tanya cita-cita selalu jadi pengarang atau pelukis karena kesukaan saya menggambar dan membaca. Karena sifat saya  yang cenderung  introvet, kalau menurut orang orang disekitar kehidupan saya, itu adalah pemalu, sehingga selalu sukanya asik sendiri.

Tempat paling nyaman adalah kamar, disana saya tenggelam dalam menuangkan berbagai imajinasi baik dituangkan kedalam sketsa atau kedalam tulisan. Saat itu yang sering saya tulis adalah puisi, Puisi tentang cinta pertama ,berlanjut dengan puisi tentang kegalauan  kehidupan. 

Sifat introvet membuat saya kurang bisa berkomunikasi dengan baik, maka curahan hati dituangkan lewat tulisan.

Kata teman teman ekspresi saya datar. Tak ada kesedihan tak ada juga kegembiraan, mungkin karena kegembiraan, kejengkelan, kesedihan sudah diekspresikan lewat tulisan sehingga emosi tidak mengalir ke wajah karena sudah di transfer ke  tulisan dan lukisan. Seiring dengan kegilaan saya terhadap membaca semakin kencang juga cita2 jadi pengarang. Zaman dulu yang saya tau penulis cerita adalah pengarang.

"Jadi pengarang?"

Pekerjaan apa itu? ketika tau saya ingin jadi pengarang, karena yang lumrah cita-cita tentu saja adalah menjadi dokter, insinyur, guru.

Saya tak bergeming, terus saja  dipelihara niat untuk menulis, dikumpulkan dan dibaca cerpen novel dari koran dan majalah. Dipelajari bagai mana tulisan yang bagus dan bermutu. Saat itu yang jadi kendala adalah tidak punya mesin tik, mau minta sama orang tua kasian karena ekonominya lagi terpuruk. Sampai pernah ingin menyurati ibu negara yang saat  itu ibu Tin Suharto, untuk minta mesin tik.

Seiring berjalannya waktu takdir berkata lain, menikah berkarir dan cita cita nenjadi pengarang tersisihkan, tapi hobi membaca tak terhalang oleh apapun justru semakin menggebu apalagi sudah mempunyai penghasilan sendiri jadi bisa berlangganan koran, majalah, bisa beli buku yang diinginkan. 

Setelah mempunyai waktu senggang timbul lagi keinginan untuk menulis, apalagi endapan pengetahuan semakin lumayan dengan semakin banyaknya bacaan.

Maka dengan semangat, dibuat tulisan dan di kirimkan ke sebuah majalah wanita, tapi dikembalikan...

Ah ternyata mungkin tidak berbakat...

Perlahan, hilang semangat saya, seiring dengan kesibukan karir dan mengurus keluarga .

Namun setelah pensiun dari karir dan banyak waktu luang,  kembali cita-cita yang dulu menggebu kini muncul kembali. Apalagi setelah mempunyai aplikasi koran KOMPAS dan menemukan KOMPASIANA , Saya terkinja!! Kalau tidak malu oleh umur saya ingin menari berjingkrak.

Seperti sumbu yang di sulut. Semangat berkobar, apalagi setelah membaca berbagai tulisan, temanya ternyata tidak dibatasi, bisa  menulis apa saja dan siapa saja, dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Semangat menyala nyala, Segera menulis berbagai tema, tapi ketika melihat persyaratan, saya bingung. Bagaimana caranya aku sangat gagap teknologi. Belum lagi bila melihat tulisan tulisan yang telah tayang.  Penulisnya menurut saya berintelektual tinggi dan tulisannya begitu berbobot, berat serta membahas topik yang berat juga, seperti masalah Politik,Ekonomi, Hukum, Filsafat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN