Mohon tunggu...
Badriah Yankie
Badriah Yankie Mohon Tunggu... Menulis untuk keabadian

Badriah adalah pengajar bahasa Inggris SMA yang menyukai belajar membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Mulailah dari Memaafkan Diri Sendiri

8 Juni 2019   11:53 Diperbarui: 8 Juni 2019   12:02 0 1 1 Mohon Tunggu...
Mulailah dari Memaafkan Diri Sendiri
ilustrasi diolah dari curacubby (@curacubby)

Sebagai seorang guru, saya harus siap 24 jam melayani siswa saya di luar jam mengajar. Keberadaan media sosial seperti WA, Telegram, dan Line membuat komunikasi siswa-guru tidak lagi dibatasi dinding kelas. Siswa bisa membuka komunikasi kapan saja, tentang hal apa saja, dengan pandangan bahwa guru adalah orang dewasa yang mengerti segala hal.

Kali ini saya dihadapkan pada permintaan bantuan untuk memahami makna memaafkan dalam arti yang luas. Siswi saya merasa tidak mampu mengerti kenapa neneknya selalu berkata tidak baik tentang dirinya juga keluarganya. Sebagai akibatnya, dirinya merasa terluka secara batiniah. Penghinaan nenek kepadanya didasarkan pada alasan bahwa ayahnya tidak berasal dari keluarga berada. 

Yang lebih menyedihkannya adalah dia beranggapan bahwa neneknya tidak pernah mendoakannya. Dia merasa sangat kecewa dan muncul pertanyaan, apakah neneknya berhak mendapatkan maafnya atas segala perkataannya yang selalu menyayat harga diri dan keluarganya.

Pada konteks budaya Indonesia bebet, bibit, dan bobot bagi sebagian keluarga dipandang sebagai aspek penting. Tidak beruntung bagi mereka yang secara bobot (harta) tidak sepadan dengan yang diharapkan keluarga baru yang hadir akibat pernikahan. Pandangan kurang menyenangkan, lebih buruknya lagi cemooh dan hinaan bisa saja dilontarkan dengan tanpa ampun. Cemooh ini melukai siapapun sebetulnya. Termasuk anak dari pasangan yang menikah dengan kondisi kekayaan yang tidak sebanding tadi.

Kembali pada peran saya sebagai guru yang dimintai bantuan untuk bisa memahami kata 'memaafkan'.

Penjelasan dari siswa saya membuat saya ikut prihatin. Nenek, sebagai orang tua dan dituakan tidak selayaknya mengeluarkan komentar dan pendapatnya yang kurang memotivasi cucunya. Ketika cucu merasa terhina dan sampai bertanya apakah pantas neneknya diberi maaf, mengisyaratkan bahwa luka yang diderita cucu ini sangatlah dalam. Salaman dan bermaaf-maafan setelah shalat Iedul Fitri tidak memperbaiki hubungan batiniah cucu-nenek.

Momen lebaran sejatinya mampu menjadi media untuk bisa memaafkan. Untuk siswa saya, tidak demikian. Sebagai bahan pemikiran baginya saya mengajaknya melihat kembali pada inti masalahnya yakni perasaan terluka.

Saya jelaskan bahwa perasaan terluka itu sifatnya pasif, artinya hanya yang merasakannya saja yang tahu itu. Dalam kasus ini, bisa saja nenek tidak tahu bahwa perkataanya telah melukai cucunya. Kemudian, ketika sang cucu merasa sakit hati, itu urusan yang harus diselesaikan cucu, bukan diselesaikan oleh nenek. Kenapa bisa begitu?

Perasaan terluka yang sekarang dirasakan, sebetulnya harus dikaji dan dipelajari. Apakah perasaan itu datang karena kamu (cucu) tidak bisa menciptakan kedamaian pada diri sendiri akibat apa yang diinginkan tidak tercapai. Misalnya kamu ingin agar nenek bicaranya lembut, penuh kasih. Atau, apakah perasaan terluka tersebut karena kamu tidak bisa membuat nenek berkata dan berbuat seperti yang kamu rencanakan.

Nenek berkata buruk, berkata baik, itu pilihannya. Sebagai cucu, atau anaknya sekalipun tidak bisa mendikte nenek untuk memilih kosa kata yang pantas sesuai keinginan pihak pendengar. Berkata buruk bisa saja telah menjadi karakter nenek.  Seorang cucu tidak dapat mengubah karakter (trait) nenek kecuali sang nenek ingin mengubah karakter dirinya sendiri.

Nenek sebagai orang dewasa merupakan model atau tauladan bagi seluruh anggota keluarga, termasuk cucu. Sebagai cucu, izinkan nenek menjadi guru kehidupan. Pada saat terlihat pemodelan yang diberikan nenek tidak membuat anggota keluarga menjadi lebih baik secara hati dan perasaan, artinya, dia tidak bisa ditiru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2