Mohon tunggu...
Yana Haudy
Yana Haudy Mohon Tunggu... Praktisi online

Terima kasih banyak

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Cahaya Dari Timur" dan Tujuh Hari Meninggalnya Glenn Fredly

14 April 2020   17:34 Diperbarui: 14 April 2020   23:01 515 24 3 Mohon Tunggu...

Dalam Film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku ini Glenn Fredly menjadi produser sekaligus aktor bernama Sofyan. Sofyan bekerja di Jakarta dan kehadirannya ke Tulehu bak malaikat penolong. 

Sofyanlah yang mengenalkan tim sepakbola yang dilatih Sani ke kejuaraan John Mailoa Cup. Sofyan pula yang memfasilitasi tim asuhan Sani ke Jakarta mengikuti Indonesia Cup. 

Sofyan pula yang menasehati Sani saat dia hendak pulang ke Tulehu meninggalkan timnya untuk menyusul istrinya yang sedang dalam perjalanan ke Kota Ambon. Sofyan jugalah yang menelpon orang di Tulehu untuk memberi "siaran langsung" adu penalti di final Indonesia Cup. 

Film ini berbahasa Maluku dan semua pemainnya beraksen Maluku, sementara Glenn, betapapun dia berusaha supaya ke-Maluku-maluku-an, terlihat bahwa lidahnya kaku berlogat Maluku. Maklum saja, mendiang Glenn lahir dan besar di Jakarta. Diapun bukan aktor kawakan seperti Chicco Jericho yang memerankan tokoh Sani. Kehadiran Glenn (sebagai Sofyan) dalam film ini jadi terasa "paling beda". 

Lalu siapa itu Sani? Tokoh utama film ini, tentu. Sani Tawainella adalah lulusan sekolah atlet Ragunan (di Jaksel) dan jebolan Pelatnas Junior PSSI. 

Film ini diangkat dari kisah hidup dirinya yang menyatukan remaja Kristen dan Islam dalam satu tim dan menjadi juara nasional U-15 tahun 2006. Sani Tawainella juga mendapat penghargaan sebagai Tokoh Inspirator Olahraga dari Kemenpora tahun 2017. 

Resensi film ini saya tulis untuk memperingati tujuh hari meninggalnya Glenn Fredly. Orang Jawa biasa memperingati kematian seseorang dengan menggelar doa-doa (tahlil) pada hari ke-7, 40, 100, dan 1000 paska meninggalnya orang itu. Menonton film ini adalah satu cara mengenang dan memperingati kematian salah satu musisi hebat tanah air. 

Film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku berlatarbelakang konflik berdarah antara Kristen dan Islam yang terjadi tahun 1999-2002 di Ambon. 

Alasan Sani melatih sepakbola supaya anak-anak tidak ikut kerusuhan. Ketika tiang listrik dipukul tanda ada kerusuhan, Sani melarang anak-anak Tulehu lari ke perbatasan guna berperang. Dia mengatakan anak-anak harus disiplin berlatih sepakbola, dan disiplin itu berarti tidak ikut kerusuhan. 

Ini memang bukan film baru karena dirilis tahun 2014. Meski banyak menjadi nominasi pada ajang perfilman dan meraih penghargaan, film ini hanya meraih 250.000 penonton bioskop. 

Salah satu yang banyak dikeluhkan seniman film adalah pengusaha bioskop cepat-cepat menurunkan layar bagi film-film Indonesia berkualitas karena ingin digantikan dengan film Holywood. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x