Mohon tunggu...
Yana Haudy
Yana Haudy Mohon Tunggu... .

.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dua Kelompok Masyarakat yang Kini Jadi Mayoritas di Indonesia

20 Maret 2020   07:27 Diperbarui: 20 Maret 2020   07:34 394 22 4 Mohon Tunggu...

Masyarakat Indonesia yang tercinta ini, kalau boleh dikatakan, sekarang terbagi dalam dua kelompok. Tidak peduli apa agama, suku, dan haluan politiknya, jelas betul terbagi jadi dua kelompok. Kelompok apa maksudnya?

Kelompok pertama adalah kelompok santuy (bahasa slang kekinian untuk kata 'santai'). Masyarakat santuy ini masih menganggap Covid-19 berada jauh di "luar sana" dan tidak akan menjangkiti mereka. 

Mereka yang termasuk kelompok ini diantaranya:

  • Orang-orang yang mengatakan, "Hidup mati di tangan Allah. Takutlah kepada Allah bukan kepada Corona. Ramaikanlah masjid bukan menjauhi masjid." Saya juga membaca hal yang sama pada umat Nasrani, dimana sebagian kecil mereka mengatakan hidup mati di tangan Tuhan janganlah mengecilkan iman, jangan takut Corona.
  • Orang-orang yang menganggap social distancing tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang guyub, gemar ngobrol dan ngumpul, maka dari itu tidak usah dihiraukan.
  • Orang-orang yang memanfaatkan libur sekolah untuk plesiran. Di sekolah anak saya malahan diadakan kerja bakti. Mumpung anak-anak libur, katanya, sekolah dibersihkan untuk mencegah Corona. Padahal kerja bakti termasuk "berkumpulnya orang banyak dalam satu tempat", bukan? Sudah ada himbauan dari gubernur dan bupati agar warga #DirumahAja, tapi kerja bakti lanjut ben resik apik kabeh.

Kelompok kedua sudah pasti adalah orang-orang yang ketakutan. Termasuk dalam kelompok ini adalah:

  • Orang-orang yang sejak kasus pertama Covid-19 tersiar langsung borong, alias panic buying. Kuatir kota akan diisolir dan mereka tidak bisa kemana-mana. Khawatir kota akan jadi mati karena ribuan orang terinfeksi, mati, lalu jadi zombie dan mereka butuh makanan untuk bertahan hidup.
  • Orang-orang yang tidak memborong apapun, karena rekeningnya hanya bisa untuk panic tanpa bisa buying, tapi terus-terusan meminta pemerintah melakukan lockdown. Tahu atau tidak arti lockdown yang penting bersuara "segera lockdown!"
  • Orang-orang yang menolak daerah mereka dijadikan tempat karantina. Untunglah ini hanya terjadi di Natuna dimana warga menolak mahasiswa dari Wuhan dikarantina di wilayah mereka. Takut ketularan virus mematikan itu, kata mereka, karena jarak hanggar tempat karantina hanya satu kilometer dari rumah mereka. Untung saja para anak buah kapal Diamond Princess dan World Dream di karantina di Pulau Sebaru Kecil. Karena kalau hanya di hanggar Halim Perdanakusumah, bisa jadi warga DKI akan ngamuk.

Meski dua kelompok itu terlihat kontras satu sama lain, tapi mereka hidup rukun. Tidak pernah ada pemaksaan satu sama lain. Pemaksaan itu paling banter terjadi di media sosial, tapi tidak pernah sampai terjadi perundungan dan persekusi diantara dua kelompok ini.

Oh, maaf, seharusnya ada kelompok ketiga. Sama-sama orang Indonesia, hanya saja kelompok ini sama sekali berbeda dari dua kelompok mayoritas di atas. 

Mereka adalah orang-orang miskin dan orang gunung yang benar-benar tidak tahu-menahu soal Covid-19 karena memang tidak punya akses informasi. Televisi tidak punya, ponsel apalagi, baca koran pun hanya kalau dapat sisa dari bungkus nasi rames. Hidup mereka sebelum dan setelah ada Covid-19 sama saja rutinitasnya. Sama miskinnya, sama laparnya, atau malah tambah susah hidupnya barangkali.

Kalau saya termasuk kelompok yang "tadinya santuy lama-lama cemas". Ketika lalu tergerak mau beli masker dan sanitizer, sudah tidak ada satu toko dan apotek pun yang jual, hanya dapat pre-order di toko online, itupun dibatasi pembeliannya.

Yaah, bukan cuma dua kelompok dong kalau gitu. Oh, kelompok mayoritasnya kan tetap dua, yang lain penggembira.

VIDEO PILIHAN