Mohon tunggu...
Yana Haudy
Yana Haudy Mohon Tunggu... Pemirsa

Lahir-besar di Betawi berayah suku Banjar beribu Sunda. Bersuamikan Jawa beranak-anak Bhineka Tunggal Ika.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tekanan Batin untuk Si Kaya dan Si Miskin Bila Mereka Menikah

8 Maret 2020   11:53 Diperbarui: 8 Maret 2020   12:00 438 12 6 Mohon Tunggu...

Secara sosial orang kaya menikah dengan orang miskin hampir tidak mungkin. Tidak semudah yang pada bulan lalu diusulkan oleh Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Kenapa tidak mungkin? Kalau sama-sama cinta dan jodoh bisa saja kan? Bisa banget! Tapi berdasarkan kenyataan hidup di belahan dunia manapun, banyak perbedaan yang membuat orang kaya (hampir) tidak mungkin menikah dengan orang miskin. Perbedaan dalam rumah tangga memang wajar, tapi kalau berbeda seperti langit dan bumi, susah membayangkan pernikahan itu bisa harmonis dan langgeng sampai maut memisahkan.

Lingkaran Pergaulan
Sebelum menikah pasti ada tahapan untuk saling mengenal. Proses perkenalan ini bisa didapat dari lingkaran pergaulan atau perkenalan lewat saudara dan teman. Orang kaya biasanya punya lingkaran pertemanan dengan sesama orang kaya---minimal dengan kelas menengah---karena mereka disatukan oleh kesukaan dan kemampuan finansial yang sama. 

Orang kaya akan berkumpul "nongkrong" di kafe atau kongkow di komunitas kesukaan mereka (otomotif, olahraga, musik). Sementara orang miskin paling banter nongkrong di depan gang sambil mengudap gorengan dan mendengarkan lagu dari gitar pinjaman. Bagaimana cara orang kaya bertemu dengan orang miskin kalau lingkaran pergaulan mereka saja berbeda? Bertemu secara tidak sengaja seperti di sinetron?

Gaya Hidup
Orang kaya menjalani gaya hidup yang sesuai dengan hasrat dan kepuasan. Sedangkan gaya hidup orang miskin cenderung itu-itu saja dalam arti yang akan dikerjakan besok tergantung pada apa yang didapat hari ini. Jika orang kaya tak masalah keluar jutaan hanya untuk belajar Photoshop di hotel selama tiga hari, maka orang miskin lebih memikirkan kebutuhan hidup daripada gaya hidup.

Contoh lainnya, para mahasiswa kaya memilih ikut klub atau komunitas kesukaan mereka selepas kuliah, sementara mahasiswa miskin memilih kegiatan yang tidak menguras kantong, seperti himpunan mahasiswa.

Tidak berarti mahasiswa kaya tidak ada yang bergabung dengan BEM, Senat, UKM, dan sejenisnya, hanya saja kenyataannya memang lebih banyak mahasiswa ekonomi menengah kebawah yang ikut daripada yang kaya. Ini karena mahasiswa miskin lebih memerlukan kegiatan berorganisasi di kampus untuk membuat pertemanan baru, berkenalan dengan dosen, belajar leadership, dan bersenang-senang.

Pola Pikir
Pola pikir seseorang kurang lebih ditentukan oleh pendidikan, pola asuh, dan pergaulan. Orang kaya bisa memilih pendidikan dimanapun semahal apapun, orang miskin tidak. Pola asuh moderen yang mengikuti zaman senantiasa diterapkan oleh orang kaya. Orang miskin kadang masih berpegang pada "kata orang tua" dan "menurut adat kebiasaan" dalam mengasuh anak-anak mereka.

Orang miskin yang menikah dengan orang kaya pasti akan mengikuti kebiasaan hidup si kaya. Sekilas memang enak karena mau apa-apa sudah ada duitnya. Tapi harus berbaur dengan keluarga si kaya cukup menyiksa si miskin karena dia akan selalu diremehkan dan dicurigai sebagai pengeruk harta. Belum lagi dia bakal dapat cibiran dari lingkungan pergaulan si kaya dengan tudingan materialistis.

Tekanan pada si kaya lebih besar karena dituntut harus menafkahi orang tua, adik, kakak, bahkan paman, bibi, dan sepupu si miskin. Lebih repot bila ternyata keluarga si miskin "tidak bisa apa-apa" sehingga menyulitkan si kaya memberi nafkah. Diminta kerja kantoran tak ada kemampuan, disuruh jadi supir tidak tega, dikasih duit begitu saja seperti memberi ke pengemis.

Alhasil, pernikahan bahagia sulit terwujud karena si kaya maupun si miskin sama-sama makan hati berulam jantung.

VIDEO PILIHAN