Mohon tunggu...
Yana Haudy
Yana Haudy Mohon Tunggu... Istri petani, Ibu dua anak, Milenial.

.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Petani 4.0

21 Mei 2019   14:36 Diperbarui: 21 Mei 2019   14:52 0 1 0 Mohon Tunggu...

Revolusi industri 4.0 sejatinya berlaku untuk modernisasi pabrik dengan sistem komputerisasi menggunakan komputasi awan dan kognitif. Dengan kata lain menciptakan "pabrik cerdas".

Bukan pabrik saja yang bisa dibuat "cerdas", pertanian pun bisa dibuat moderen dan "cerdas" supaya tercipta swasembada pangan. Tapi bicara pertanian tentu bicara petaninya dulu.

Berdasarkan tulisan di kompas.com pada 22 Maret 2017, kebanyakan penggarap dan pemilik lahan sawah adalah orang lanjut usia. Sangat jarang ada anak muda yang mau jadi petani, padahal kita punya Institut Pertanian Bogor (IPB), kampus yang masuk dalam top 100 dunia dalam bidang pertanian dan kehutanan tahun 2019.

Saking jarangnya, mencari tenaga lepas untuk menanam benih dan memanen saja susahnya minta ampun. Kan bisa pakai alat dan traktor yang bisa dikerjakan sendiri? Bisa banget. Tapi traktor hanya efektif digunakan untuk lahan rata. Kalau lahan sawahnya landai dan berbukit, mengolah sawah dengan mencangkul tetap perlu dilakukan agar bagian pinggir lahan ikut terbajak.

Sulitnya mencari orang yang mau bekerja di sawah membuat petani harus antri saat musim tanam tiba. Hanya ada tiga orang yang bersedia membantu membajak dan menyemai benih, sementara lahan sawahnya belasan hektar (dalam satu kampung).

Selain kendala pekerja dan topografi, hampir seluruh petani juga lebih suka menjual hasil pertaniannya dengan sistem ijon yaitu sistem dimana tengkulak membeli hasil tanaman saat tanaman tersebut  belum dipetik. Sistem ijon dianggap lebih simpel karena sudah pasti laku dan tidak repot mengolah dan menjual hasil panen kemana-mana.

Kembali ke IPB, pada 2015, sebanyak 79,20 persen lulusannya bekerja pada bidang yang sesuai dengan jurusan yang mereka ambil. Tingkat kesesuaian tertinggi ada pada Fakultas Teknologi Pertanian yang bekerja di bidang teknologi pertanian dan penelitian untuk memajukan sektor pertanian di Indonesia.

Tetapi, kenapa sektor pertanian di Indonesia kesannya gini-gini aja ya. Petani panen, harga tinggi petani senang, harga murah buang-buang ke jalan, tetap jualnya ke tengkulak, tetap pendapatannya segitu-gitu aja.

Mungkin, semuanya kembali kepada petani itu sendiri. Di lapangan sudah ada penyuluhan dan pelatihan bagaimana cara mengolah, mengemas, dan memasarkan sendiri hasil panen secara moderen (online dan UMKM). Menjual langsung ke pembeli bisa melipatgandakan laba karena jalur distribusinya pendek. Akan tetapi, kenyataan di lapangan sungguh jauh panggang dari api. 

Sebagus apapun petugas penyuluhnya, yang mungkin sarjana IPB, secanggih apapun caranya menyampaikan ilmu-ilmu pertanian terbaru, tapi kalau kultur masyarakatnya (petani) tidak mau membuka diri, maka industri pertanian 4.0 hanya mimpi yang setinggi langit.

Pada komoditas padi, misalnya, kalau petani ingin menjual langsung hasil panennya mereka harus mencari orang yang mau dipekerjakan untuk memetik padi yang matang di sawah. Tapi darimana orangnya? Bisa sih memanen hanya dengan dua orang, tapi kapan selesainya? Pakai traktor dong, kan sudah ada traktor yang memotong padi lalu langsung masuk karung, jadi tidak repot memotong pakai arit. Balik lagi ke kondisi diatas, traktor hanya efektif kalau lahan, ladang, atau kebunnya tidak berada di tanah landai dan berbukit. Luas lahan yang hanya 2000-2500 meter persegi juga tidak memungkinkan jika panen menggunakan traktor karena terlalu sempit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3