Mohon tunggu...
Yan Okhtavianus Kalampung
Yan Okhtavianus Kalampung Mohon Tunggu... Narablog, Content Writer, Akademisi, Peneliti.

Peneliti, Akademisi, dan Narablog yang ingin menyapa Dunia lewat tulisan. Karya lainnya ada di yanbacatulis.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pentingnya Gerakan Penelitian di Era Post-Truth

30 Oktober 2018   23:26 Diperbarui: 30 Oktober 2018   23:35 217 0 0 Mohon Tunggu...

Sudah jamak diketahui kalau kamus Oxford yang terkenal itu memilih kata Post-Truth sebagai "Word of the Year" pada tahun 2016. Kata itu merujuk pada standar kebenaran yang dimiliki masyarakat masa kini bukan pada penelaahan ilmiah saintifik yang terpercaya lagi tapi sudah pada semata-mata sentimen emosi semata. Entah karena pengaruh kamus mahal itu atau bukan, tapi kata itu menjadi trending topik yang menggelagar di dunia maya bahkan di dunia ilmiah. Ini terbukti dengan berbagai seminar dan kajian ilmiah dilakukan untuk membedang kata yang katanya adalah fenomena ini.

Penganut Post-Truth anti meneliti

Mungkin ini sebuah klaim yang bisa dibantah dan diperluas. Bukannya berarti Para Penganut Post-Truth tidak berminat untuk meneliti tapi penelitian yang dilakukan semata-mata untuk membenarkan padangan mereka. Hal ini bisa dijelaskan dengan berbagai aspek, tapi saya tertarik untuk menelisik pandangan kritik ideologi. Menurut Yasraf Amir Piliang dan Jejen Jaelani dalam buku "Teori Budaya Kontemporer", menjelaskan bahwa ideologi terutama menyangkut ide yang menjadi filter seseorang atau sekelompok orang untuk memberi penilaian benar atau salah. Jadi jika dihubungkan dengan persoalan Post-Truth dimana sentimen emosional menjadi standar kebenaran, maka sentimen tersebut sebenarnya menjadi ideologi bagi penganutnya. Ideologi tersebut menjadi standar baginya untuk memberi penilaian benar dan salah. Dengan demikian kemungkinan juga kita berkata bahwa sentimen emosi itu kemudian dikristalisasi dalam sebuah ideologi yang jika diusik kemudian bisa membangkitkan amarah. Contoh misalnya : Udin (nama samaran), memiliki sentimen kebencian terhadap orang yang berbeda suku karena pengalaman masa lalunya yang pernah bentrok dengan masyarakat suku seberang. Udin kemudian memakai sentimen perasaan negatif itu untuk memberi penilaian terhadap setiap perilaku yang dilakukan orang yang berbeda suku darinya. Kalaupun ada yang baik terhadap Udin, kalau dia berasal dari beda suku maka itu perlu dicurigai. Mungkin ini contoh yang agak lembut, tapi di sini kita bisa lihat bahwa Udin mungkin tanpa sadar mengubah sentimen perasaaan itu menjadi sebuah ideologi yang menentukan benar atau salah orang yang dijumpainya.

Penelitian Sebagai Gerakan Perlawanan

Saya ingin mendudukkan Gerakan Penelitian sebagai sebuah Gerakan Perlawanan untuk dua alasan. Pertama, karena penelitian adalah sebuah usaha untuk mencari tahu sesuatu secara "objektif", maka sentimen emosional sebisa mungkin harus dipinggirkan. Sentimen emosional mengganggu si Peneliti untuk menemukan fokus penelitian yang dicari. Kedua, Penelitian sendiri sudah mulai meninggalkan jati dirinya sebagai sebuah upaya untuk menggali realitas apa adanya. Penelitian menjadi alat untuk membenarkan pandangan yang semula sudah dianggap benar. Dengan demikian Penelitian sebagai sebuah Gerakan adalah sesuatu yang bertentangan dengan kecenderungan Era Post-Truth. Bahasa lainnya ialah, meneliti adalah melawan Post-Truth. Kembali ke contoh tadi, jika Udin ingin bergabung dengan Gerakan Penelitian, maka pertama-tama ia perlu terbuka pada kenyataan bahwa tidak semua memiliki kesamaan. Ia tidak bisa menghakimi orang lain hanya karena pengalaman masa lalunya sendiri. Udin perlu sadar dan melihat dengan terbuka bahwa kenyataan itu jamak, tidak selalu sama dengan apa yang dipikirkannya.

Maka dengan ini tidak perlu diragukan lagi posisi penting Gerakan Penelitian di tengah Era yang serba meragukan ini.  Tapi tentu saja untuk bisa bergabung atau  membangun gerakan ini, kita sendiri perlu terbebas dulu dari mental yang sudah terjajah Era ini. hehe 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x