Mohon tunggu...
Yan veraosmana
Yan veraosmana Mohon Tunggu... Wiraswasta - Glang-Glong Swasta

Praktisi Ngerokok lan Ngopi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Merasakan Nikmatnya Berbagi Rasa, Kupat Glabed Khas Tegal

11 November 2022   19:42 Diperbarui: 12 November 2022   12:37 132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Merasakan Nikmatnya Berbagi Rasa, Kupat Glabed Khas Tegal

Aku melihat banyak orang duduk diatas tikar, lesehan sambil makan kupat glabed kuliner khas Tegal, sepertinya terasa nikmat banget. Dimana orang tua muda, bapak ibu dan anak-anak kecil berbaur saling berbagi kebahagian, yang kelihatanya sangat menikmati banget makanan tersebut.

Terbesit dalam pikiran ku, untuk mencoba mencicipi Kupat Glabed. Padahal, awalnya aku mau nongkrong di cafe, bersama teman-teman ku, untuk ngobrol kesana kemari guna menghilangkan suntuk. Dan akhirnya kuputuskan makan kupat glabed dulu, ternyata rasanya memang nikmat banget, dimana tekstur kupatnya lembut banget dilidah, terus aroma perpaduan bumbu, di dalam kuah kentalnya bikin nagih banget. Kemudian sate kerang pedasnya wow bikin ngiler dan sate ayam  bumbu pedasnya juga nampol banget.

Sedang asik-asiknya merasakan sensasi kupat glabed yang mantep lintep ini, perasaan ku tak enak. Seakan-akan ada beberapa mata tengah mengawasi aku dan temen-temenku. Seolah-seolah tidak rela, bila makan ini buru-buru kutelan. Dan kebetulan temenku pun, mersakan hal yang sama persis dengan apa yang kurasakan.

Dan ternyata memang benar. Ada dua orang anak kecil dan ibunya, yang sedari tadi tengah mengawasi aku bersama temen-temenku makan. Melihat mereka seperti itu, kuputuskan menghampiri mereka, sekaligus menanyakan kepada mereka. Kenapa melihati ku seperti itu terus.

"Bu, ada apa. Kok memandangi kami terus". Tanya ku, kepada mereka

"Maaf yah mas, aku dan anak-anak ku sedang lapar banget. Karena satu hari ini, perut kami belum sedikitpun di isi makanan". Jawab ibu tersebut. Sambil merangkul anak-anaknya yang sangat tidak terurus itu.

Mendengar jawaban seperti itu. Langsung aku ajak mereka makan sepuasnya. Ku pesenkan kupat glabed dan lainya. Mereka pun makan dengan lahapnya hingga nambah beberapa kali, kulihat raut wajah mereka terasa kenyang sekali. " Ya tuhan, nikmat banget rasanya mereka makan. Ya tuhan. Mimpi apa aku semalam, ternyata masih ada orang-orang seperti ini di negara Indenesia merdeka ku ini". Ucapku dalam hati.

Dan aku mencoba untuk belajar dan merenung dari peristiwa ini. Dan Ternyata aku ditampar kepekaan, ditampar penderitaan yang nyata. Dimana aku merasakan segala kesenangan, bisa makan sana sini, bisa sumbang sana sini. Tapi ternyata masih ada orang yang kelaparan disekelilingku, masih ada orang yang sangat butuh bantuan untuk bertahan hidup di lingkunganku. " Ya tuhan, apa ini petunjukmu dalam menegur kepekaan hatiku, apa ini untuk menegur ku dari segi keikhlasan ku. Maaf kan aku tuhan, aku telah lalai dalam melihat saudara-saudara ku yang kekurangan. Maafkan aku ya tuhan, ampuni aku ya tuhan". ucap ku lirih dalam hati, sambil berucap kepada temen ku, pada akhirnya adalah rasa kepedulian antar sesama kawan.

Mereka merasakan lapar, kita merasakan nikmatnya makanan. Tapi kita tak bisa merasakan rasa kehidupan mereka di dunia ini yang sesungguhnya. Memang hidup hanyalah tentang rasa. Dan segala rasa hanyalah sebentar, terus akan berganti rasa yang lain. Kemudian kita dapat belajar merasakan kebahagiaan sejati di dunia ini. Manakala bisa membantu sesama yang sangat membutuhkan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun