Abdussalam Yamjirin
Abdussalam Yamjirin Noob

Allah worshiper, big fan of Muhammad the Messenger, straight edge, always seen with a smile on his face most of the time, also consider himself as a lone wolf.

Selanjutnya

Tutup

Hijau highlight headline

Bisakah Indonesia Berpaling dari Candu Minyak Bumi?

9 Mei 2017   11:00 Diperbarui: 16 Mei 2017   18:28 152 4 0
Bisakah Indonesia Berpaling dari Candu Minyak Bumi?
Prototipe Mobil Listrik, sumber gambar: www.wordshelf.co

Saat Anda mendengar harga minyak dunia naik, apa yang Anda rasakan? Pasti benci, sebel, gerah, dan lain sebagainya. Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya hal seperti ini yang memang sewajarnya terjadi? Tak lain disebabkan minyak dan gas bumi itu adalah dua Sumber Daya Alam yang tak dapat diperbaharui, atau mungkin lebih tepatnya bisa diperbaharui namun sangat lama dan membutuhkan waktu jutaan tahun, maka wajar jika harga minyak semakin naik dan melambung, justru kita harus sedih jika harga minyak bumi terus turun atau tak segera naik, karena otomatis cadangan yang ada di alam akan semakin terancam. 

Jika harga Minyak menurun, biasanya sedang ada masalah yang terjadi antara pemimpin-pemimpin Dunia. Cukup rumit juga, karena kita membutuhkan Minyak Bumi di hampir setiap kebutuhan kita, mulai dari usaha sampai transportasi sekalipun, contoh paling umumnya adalah kebutuhan kita pada bahan bakar motor dan mobil.

Bicara tentang mobil, dulu ITB pernah membuat satu prototype mobil listrik yang diajukan pada pemerintah untuk proyek pengembangan kedepan, para mahasiswa berharap mobil itu bisa menjadi sarana berkendara baru yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar, namun harapan itu ternyata tak semulus apa yang direncanakan. Waktu itu banyak lobi dari perusahaan mobil berbahan bakar fossil yang ingin menghentikan pengembangan mobil listrik.

Perusahaan-perusahaan itu meyakinkan pemerintah bahwa mobil listrik bisa mematikan dua usaha sekaligus, yakni usaha tambang minyak bumi dan usaha pembuatan mobil mainstream, dan sebagai imbasnya akan banyak perusahaan mobil mainstream yang harus gulung tikar dari Indonesia, yang berarti Indonesia akan kehilangan banyak perusahaan penyuntik dana investasi dan pembayar pajak dari luar negeri.

 Selain kehilangan penyuntik investasi dan pembayar pajak, Indonesia juga harus membangun depot-depot pengisian bahan bakar listrik di seluruh Indonesia, dan tentunya akan mengeluarkan uang yang sangat banyak. Nampaknya dari pertimbangan-pertimbangan itu, mobil listrik besutan ITB pun terpaksa harus ditiadakan, menunggu waktu yang tepat untuk mempopulerkannya, yang jelas tak mungkin dalam waktu dekat. 

Pemerintah tak bisa disalahkan karena memang negara kita sedang bangkit dari keterpurukan akibat krisis moneter beberapa tahun silam, semuanya membutuhkan waktu untuk bisa berdiri tegap.

Beberapa waktu berlalu, di sisi lain dunia yakni Amerika Serikat, sebuah perusahaan mobil yang hampir gulung tikar pun kembali beroperasi dan hidup jauh lebih baik daripada sebelumnya, tak lain adalah karena terobosan baru dalam produk yang mereka hasilkan, mobil listrik. Tanah di Amerika Serikat sendiri bukanlah tipe yang bisa ditambangi minyak kecuali di sebagian kecil wilayahnya saja, maka minyak bumi bukanlah hasil tambang utamanya. 

Mereka pun tak bisa mengandalkan tambang ini untuk memenuhi kebutuhan tahunan masyarakat, maka membeli minyak dari luar negeri dan berhutang pada negara-negara Timur Tengah adalah jalan keluarnya. Dengan munculnya mobil listrik ini, tak bisa dipungkiri menjadi nafas segar bagi perkembangan transportasi di Amerika Serikat.

Perusahaan Mobil Tesla pernah hampir gulung tikar, namun bangkit kembali dan berkali-kali lipat lebih sukses setelah memproduksi Mobil Listrik. Sumber gambar: www.popsci.com
Perusahaan Mobil Tesla pernah hampir gulung tikar, namun bangkit kembali dan berkali-kali lipat lebih sukses setelah memproduksi Mobil Listrik. Sumber gambar: www.popsci.com

Tak tanggung-tanggung, dalam pengembangannya, Pemerintah Amerika Serikat ikut andil dalam berinvestasi di perusahaan ini, dan hasilnya, perusahaan ini pun tak jadi gulung tikar dan berhasil mengembangkan produknya ke tahap siap pakai dan pemerintah juga bisa menekan angka kebutuhan minyak per tahunnya. 

Sebagai akselerasinya, Pemerintah pun juga membantu perusahaan ini dengan ikut membangun depot-depot pengisian bahan bakar listrik di seluruh penjuru negri dan mobil listrik pun jadi trend terbaru di negara ini, tak cukup disitu, negara juga mengangkat pemilik perusahaan mobil listrik ini sebagai anggota Forum Kebijakan dan Strategi negara. Informasi terbaru di era Presiden baru Amerika Serikat yang terpilih akhir tahun lalu, Elon Musk, si pemilik perusahaan mobil listrik Tesla ini diangkat sebagai Penasehat Perusahaan Negara.

Lalu bagaimana dengan nasib perusahaan-perusahaan mobil mainstream di sana? Kebanyakan perusahaan mobil mainstream adalah milik perusahaan-perusahaan Eropa serta Jepang, dengan kenyataan itu maka tak terlalu sulit bagi Amerika Serikat untuk mengembangkan produk mobil listriknya, apalagi perusahaan-perusahaan asing itulah yang sebenarnya membutuhkan Amerika Serikat untuk memasarkan mobilnya, maka mau tak mau mereka harus menerima keputusan yang diambil oleh Negara. Apalagi Amerika Serikat termasuk negara mayoritas Sayap Kanan, yang berarti Badan Usaha milik masyarakatnya akan diutamakan di negeri sendiri daripada perusahaan asing.

Langkah pengalihan transportasi dari kendaraan berbasis listrik ini sangat esensial mengingat dunia sedang di ambang krisis energi, sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi semakin menipis jumlahnya, apalagi keduanya termasuk Sumber Daya Alam yang tak dapat diperbarui, butuh jutaan sampai milyaran tahun untuk mengembalikan Minyak Bumi dan Gas Alam pada jumlah asalnya. 

Negara-negara Raja Minyak seperti Arab Saudi, Brunei Darussalam, hingga Uni Emirat Arab pun mulai membuka bisnis di usaha mereka yang lain seperti pengembangan Sumber Energi Angin dan Cahaya Matahari, bahkan awal tahun ini Arab Saudi menginvestasikan 40-109 Milyar Euro pada pengembangan bisnis Energi Mataharinya. Amerika Serikat juga mulai perlahan mengembangkan pengolahan energi ombak dan angin ke tahap advance, sehingga jika tiba saatnya minyak benar-benar tak mampu lagi mengatasi kebutuhan dunia, mereka tak kalang kabut dibuatnya.

Negara Arab mulai mengembangkan situs Padang Pasirnya untuk pengembangan Energi Matahari. Sumber gambar: www.evwind.es
Negara Arab mulai mengembangkan situs Padang Pasirnya untuk pengembangan Energi Matahari. Sumber gambar: www.evwind.es

Memang untuk melaju ke arah Energi Sehat dibutuhkan lebih dari sekedar andil aktivis lingkungan, semua lapisan masyarakat pun harus mengubah pola pikirnya didukung dengan pemerintahan yang sehat dan tegas, dan yang utama kerja keras bersama, karena untuk mengaplikasikan ide ini butuh banyak kesabaran dan keuletan, apalagi sebabnya jika bukan karena alat-alat penunjangnya yang mahal dan tenaga ahli yang langka? 

Dan kita sama-sama berharap pemerintah kita kelak mampu move-on dari kekhawatirannya akan ditinggalkan para investor asing jika mengambil jalan energi sehat, memang ini bukan perkara yang mudah, namun jelas dampak baiknya bagi generasi kita mendatang, dan bagi kesehatan bumi tentunya.