Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Administrasi - Yakin Usaha Sampai

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” --Pramoedya Ananta Toer-- (muniersara@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Latepost Kuliner Jogja

27 Juli 2022   08:30 Diperbarui: 27 Juli 2022   08:37 176
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Orang sudah antri bak ular, di warung gudeg Mbok Lindu. Saya pun kikuk melihatnya. Sampai sebegitunya orang Jogja kepingin gudeg.

Katanya itu gudeg paling orisinil, yang masih mempertahankan taste tradisional gudeg, sebagaimana mesti. Selain gudeg, orang merindukan dan membeli orisinalitas.

Setali tiga uang, dengan berjubel orang, wara wiri di sepanjang Malioboro hingga kraton Jogja. Hanya ingin melihat, epos--kejayaan Mataram dan artefak yang masih kokoh.

Di tengah alam demokrasi itulah, masyarakat menyingkap nostalgia pada monarki. Toh, orisinalitas keindonesiaan kita, tumbuh dari monarki, lalu dipantik oleh kolonialisme dan semangat nation state.

Bila kini orang merindukan meme Orba, "enak jaman ku toh?" pertanda, eksposur pemerintahan absolut, menjadi akar DNA kebangsaaan kita yang lahir dari monarki. Maka nostalgia padanya (monarki), adalah orisinalitas, sebagaimana orang merindukan keaslian gudeg Mbok Lindu.

Sepanjang hotel Malioboro Palace, aneka kuliner kaki lima digelar. Tak luput nasi kucing dan sate puyuh dan varian lauknya yang mendominasi.

Kendati hampir setiap warung makan menyediakan gudeg, namun gudeg mbok Lindu itulah yang digeruduk pembeli. Antre dari pukul 6-10 pagi. Hanya ingin mempertahankan taste gudeg sesungguhnya.

Hingga pukul 10, warung gudeg Mbok Lindu baru sepi. Saya melipir ke sana, dan membeli satu porsi. Ada bumbu gudeg, sambel krecek, tahu kuah, telur, plus daging ayam. Saya memilih yang komplit. Harganya Rp.56.000, untuk porsi demikian.

Sebagaimana lidah orang pesisir pada umumnya, orisinil taste saya tidak familiar dengan yang manis-manis, sementara gudeg itu taste-nya serba manis. Lagi-lagi, hanya gara-gara sensasi orisinalitas itulah, saya pun ingin membeli gudeg.

Ternyata orisinalitas itu mahal. Pasal itulah membuat orang berlibur ke Malioboro. Wara wiri dengan andong seharga Rp.150.000 sekali muter. Sepanjang itulah, kerinduan pada orisinalitas terobati, menyaksikan sisa-sisa kejayaan Mataram atau gudeg Mbok Lindu yang masih bertahan keaslian taste-nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun