Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” --Pramoedya Ananta Toer-- (muniersara@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Teror-is

1 April 2021   13:43 Diperbarui: 1 April 2021   17:57 142 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Teror-is
Ilustrasi (sumber: lampungpost.id)

Harga satu gedung WTC adalah, ribuan nyawa warga sipil Afganistan, yang jatuh terkusruk ke tanah. Dari bini kehilangan laki hingga jadi janda tulen, pula boca jadi yatim piatu, hidup dikepung nestapa.

Sampai-sampai, burungpun tak punya tempat bertengger. Sekedar mengepak sayap di langit Afganistan pun perlu mawas diri, bila tak ingin diterjang peluru dan rudal.

Seorang bayi bermandikan debu mesiu dan serbuk beton. Kepala kecilnya, ditindih tiang beton yang roboh dilumat bom hingga tengkoraknya jadi repihan.

Rambut-rambut halus yang agak pirang, bercampur darah dan serpih daging menempel di tanah. Darah bocah itu tercecer bercampur tanah hingga tampak kelabu.

Sebelum si bocah tewas, malamnya, di awal Oktober 2001, bapak dan mamanya sudah lintang pukang diterjang rudal serdadu Amerika Serikat tanpa belas. Hingga sedikit daging pun tak lengket ke tanah sebagai kenangan.

Harga barang bernama "senjata pemusnah massal," adalah ribuan nyawa rakyat Irak yang renggang percuma bagai seonggok bangkai yang tak direken sama sekali. Modar tanpa nilai apagi kuburan.

Sampai sekarang, Afganistan bagai negeri dikutuk. Irak yang rusak seluruh infrastruktur sosial dan politik. Libia yang hidup dalam kemelut perang sipil tak berkesudahan.

Betapa kemelut di tanah Arab, silang sengkarut bagai pita kaset yang berlilitan sana sini, hingga rumit bukan main. Yang tampak cuma kebisingan diterjang kekerasan dan kemelaratan.

Kala WTC roboh sujud ke tanah, kawan-kawan saya berseloroh "uih, pertanda koyaknya simbol kapitalisme global."Bah, ternyata kebalik, kapitalisme bersenjata merekayasa permusuhan baru berkedok demokrasi dan HAM.

Kala Taliban disapu bagai tsunami, lelaki Afganistan mulai parlente. Ruang sosial yang menghimpit kaum perempuan mulai kendor. Musik diperdengarkan. Bisa jadi, di mall-mall, mulai tampak wanita Afganistan berkutang saja seperti bule.

Sepak bola digelar tanah lapang tanpa suatu aralpun. Demokrasi telah tiba. Tepuk tangan hore menyambut ribuan nyawa tercabut oleh senjata mesin dan rudal balistik tentara AS dan sekutu. Demokrasi tak datang percuma. Nyawa adalah bayarannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x