Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

Menulis adalah cara kami dari seberang Timur meraba-raba separoh dinamika di negeri ini. Anak pesisir dari Timur-NTT. Menulis untuk memuaskan diri saja, meski baru memulai. Lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Menulis sebatas cara mengecap cita rasa keindonesiaan. Karena kompasiana ini miniatur Indonesia. Kontak : 081212450014

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Siapa Terima Tantangan LBP?

4 Juni 2020   06:25 Diperbarui: 4 Juni 2020   08:36 131 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siapa Terima Tantangan LBP?
Ilustrasi (sumber : nusantaranews.co)

Sebelum nantang debat, LBP sudah disclaimer. Dia akui, dirinya tentara, bukan ekonom. Untuk apa terima tantangan orang yang sejak awal disclaimer?

Memangnya LBP Menteri Keuangan? Semua hal mau diurusnya ! Mekeu Sri Mulyani saja santui. Kenapa LBP yang berang?

Makanya, melihat kritik itu dengan nalar demokrasi. Bukan nalar kekuasaan. Menantang, apa-apaan? Siapa yang ditantang? Jelas dong !

Apa memang publik itu dongok semua? Memilih diksi saja LBP kurang cermat. "Menantang" siapa yang soalkan utang negara.

Emang dia capable? Hutang itu tak cuma dilihat secara debt to GDP ratio. Tapi dari kemampuan bayar.

Memangnya selama ini asumsi ekonomi semuanya presisi? Karena itulah publik mengeritik. Kalau dibaca secara konfliktual ya susah.

Okelah hutang produktif. Seberapa besar memberi daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi produktif? Asumsi pertumbuhan ekonomi selalu tidak presisi, meski utangnya besar.

 Debt to GDP ratio cenderung meningkat dari 2014-2019 (Sumber : kajian/analisa Institue Harkat Indonesia)
 Debt to GDP ratio cenderung meningkat dari 2014-2019 (Sumber : kajian/analisa Institue Harkat Indonesia)
Katakanlah, kalau utang di atas Rp. 3 ribu triliun, mestinya berapa kali me-leverage pertumbuhan ekonomi produktif? So, pertumbuhan ekonomi kita, selalu di bawah asumsi (undervalue).

Apalagi dari sisi produktivitasnya? Contohnya. Realisasi investasi kita lampaui target di 2019.

Dari target Rp.700-an triliun, realisasi investasi yang dicapai Rp.800-an triliun. Tapi cuma menyerap satu juta lapangan kerja. Ada soal. Ini contoh, atau bagian dari kritik publik.

Kembali ke soalan utang. Debt to GDP ratio itu cuma satu cara. Agar bisa dilihat utang kita apple to apple dengan negara lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN